Senin, 11 April 2011

Anjing2 di desa (cerita satwa part 1)


Liat2!! Ini anjingnya pak Simon (mantan ketua nelayan). Hebat banget ini anjing bisa nyebrangin sungai segede ini tanpa capek. Gw aja pake sampan masih merinding gitu, airnya hitam dan dalam. Kata pak Simon emang kalo dia mau ke seberang ini anjing engga mau naik ke sampan, tapi lebih milih berenang.


Pantesan anjing2 di danau baru sehat, atletis dan tidak bau badan karena selalu berenang hahaha... Dan anjing tanpa nama ini mestinya mau merengek2 minta makan ke rumah pak Singkek tapi karena gw udah nungguin di tepi lanting dengan penuh harap kedatangannya maka diapun memutar arah untuk langsung pulang kerumahnya (rumah pak Simon).


Pak Singkek juga punya satu ekor anjing dan ajaib sekali anjingnya punya nama!! Hahaha... Emang jadi kebiasaan di orang Kantu' anjing tidak dikasih nama, ntar kalo manggil gimana dong?? Nah kalo manggil anjing biasanya dipanggil "kidui..kidui..kidui..." hehehe.. Imut panggilannya kan? Malah kata teman gw Mia, pernah suatu ketika dia nanyain nama anjing ke salah seorang anak di kampung. Si anak bengong dan heran kenapa anjing musti punya nama..? Karena si anak kecil ini merasa terpojok dan tidak mau dianggap sebagai anak yang nakal karena punya anjing tidak bernama, maka buru2 saat itu juga ngasih nama itu anjing 'anjing'. Huahahaha... Ngakak gw denger cerita Mia, ada ukui (anjing) namanyua 'anjing' hhahaha.... Gw kepiran ntar nyampe Padang kalo gw punya anjing bakalan gw kasih nama 'ukui' juga hahahahaha.....


Eh soal anjing pak Singkek tadi, namanya rambo (#nepok jidad), sangat pemalu dan sangat tua. Perut nya buncit, buncit yang tidak sehat (cacingan atau apa gitu) jangankan berenang jalan aja terseok2. Gw kepikiran kalo ini anjing kecebu masuk air mungkin bakalan tenggelam kal yah.

Aning dalam bahasa Kantu' adalah Ukui, dan ukui bukan binatang yang lucu dan disayang2 karena tugas mereka adalah jadi penjaga dan pelayan tuannya. Mereka berburu bersama, nemanin dan sekaligus jagain kebun tapi kalo acara gawai (pesta panen) kadang ukui juga dimakan :'(( buat jadi teman minum arak. Biasanya kalo Natal, Paskah atau gawai atau ada perayaan lain semua orang minum arak nah buat minum arak musti ada cemilannya biar enak. Cemilan ini namanya tabas, adalah daging goreng. Katanya yang paling enak itu adalah babi (jani) atau yah anjing, tapi pada dasarnya semua daging bisa termasuk kera dan juga kucing (mayau) tapi kucing dijadiin tabas jarang banget. Dan kalo kalo engga ada babi atau anjing ya ikan pun jadi.


Nah kalo yang ini adalah anjing betinya pak Jawang, anjing ini baik hati. Jangan tanya darimana gw tau kalo dia baik hati!!! Dia juga engga punya nama, sempat kepikiran kalo gw mau kasih dia nama 'prabu' maksudnya biar pak Jawang sekeluarga biar selalu inget gw. Anjing ini punya tiga ekor anak yang gendut dan sangat lucu. Dia biasanya nemenin keluarga pak Jawang ke kebun karet, pernah suatu ketiaka gw lagi mandi... Trus karena dia ngikut2in gw terus mau gw mandiin sekalian. Tiap kali gw siram sama aer se gayung dia selalu ngindar, akhirnya gw megang dia. Meronta2 dan ketakuta gw lemparinlah anjing ini ke sungai, sedetik kemudian jantung gw dag dig dug. Dimaha kalo asumsi gw 'semua anjing jago renang' salah??? Hadoooo... Ada kali lebih lima detik tu anjing engga nongol lagi. Dia naik ketanah dan kotor lagi dan kabur ke dalam rumah sambil bersin2. yah mungkin ni anjing dasar engga suka mandi kali yah.


Nah ini anak2nya anjing pak Jawang tadi, juga tidak ada nama. Kalo lupa nutup pintu pagi2 udah tidur didalam kamar gw, pernah juga kencing di kasur gw.


Anjingnya pak Melintang, pengen ikut sama gw keatas perahu.

Yang ini adalah anjing2 nya pak Ikus (ketua RT Danau Baru).






Kamis, 07 April 2011

Dari Danau Baru ke Kampung Pontu


Abah pulang ke desa hari ini dijemput oleh pak Martinus, sayang sekali dia ga mau diajak ke kampung Pontu. Kampung Pontu adalah pemikiman satelit desa Bunut yang terletak di kecamatan Bunut Hulu, sebagian besar nelayan di desa Bunut menghabiskan hampir sepanjang tahun tinggal di kampung Pontu ini untuk mencari ikan. Mereka hanya pulang ke desa di saat lebaran, acara2 seperti pernikahan atau kematian atau jika ingin membeli kebututuhan logistik selama di Pontu. Jadi kampung Pontu ini semacam pemukiman temporer (berkaitan dengan kemudahan untuk mencarin ikan) orang Bunut diluar desa mereka. Beberapa waktu yang lalu waktu masih tinggal di Bunut gw pernag menghabiskan waktu satu minggu di Pontu, ga sabar juga rasanya ketemu sama orang-orang disana.


Interaksi orang Dayak Kantu' dari desa Keliling Semulung dengan orang Melayu Bunut (terutama mereka yang bermukim di Pontu) sudah sejak lama terjadi. Biasanya bentuk interaksi adalah jual beli, orang Kantu' menjual kerajinan, beras dan sayur2an sedangkan orang Melayu menukar barang2 tersebut dengan ikan segar, ikan asin (balor dalam bahasa Ulu[bahasa yg digunakan oleh orang Melayu]) keropok basah dan keropok kering (keropok rangkai). Orang Kantu' kalau berbcara dengan orang Melayu menggunakan bahasa Ulu dengan sangat lancar, malah logat dan aksen mereka Ulu banget kedengaranya. Demikian juga dengan suku2 lain (seperti Tionghoa dan Dayak lain) jika berinteraksi dengan orang lain suku akan menggukan bahasa Ulu sebagai bahasa persatuan. Sementara orang Melayu sendiri tidak semuanya yang mengerti dan bisa mengucapkan bahasa Kantu' (apalagi bahasa Khek [bahasa orang Tionghoa setempat-Teochiu]), pernah sekali waktu di Pontu pak Itam Karjo salah satu nelayan disana bilang dengan nada kelakar kalo mereka sedikit iri orang Kantu' bisa bahasa mereka sementara mereka terbatas ngomong bahasa Kantu' :)


Dari Danau Baru ke Pontu ternyata cuma sebentar doang cuma sekitar 20 menit saja dengan motor tempel kecepatan 15 pk. Gw berangkat bareng pak Singkek dan dua orang ponakan pak Singkek yang rumahnya disebelah rumah pak Malintang (ketua nelayan dan tokoh masyarakat).

Gw lupa nama abang ini, kami ketemu waktu lewat sungai kecil menuju Pontu. Dia baru pulang memukat.



Kami singgah bentar, minum kopi dirumah salah satu warga Danau Baru. Kayaknya rumah ini paling jauh dari letaknya dari rumah2 yang lain. Harus masuk hutan dan lewat sungai kecil dulu buat sampai ke rumah ini. Seperti semua rumah lain di desa Keliling Semulung rumah ini mendapatkan pasokan listrik dari solar panel. Yang kecil itu alat tangkap sinar matahari yg akan di ubah jadi listrik.



Ini bagian depan rumah, bagian ini namanya jungka (bahasa ulu). Jungka tempat jemur ikan asin, jemur keropok atau padi. Anjing2 kurus itu punya si bapak yang tingga disini, saking kurusnya anjing2 ini gw jadi takut kalau tiba2 dia gigit kaki gw karena ga tahan laper. Tapi engga sama sekali lho, walaupun hidup dengan kondisi miris gini anjingnya tetap ceria. Tau dari mana gw kalo anjing2 ini ceria?? Ya tau aja!! Soale dia jilat2 kaki gw dan ceria. Iya ceria seperti anjing2 normal lainnya.


Kaleng yg disudut itu isinya kopi, kopi sangat penting buat orang2 disini. Baik Dayak maupun Melayu kebutuhan kopi sangat tinggi, kopi diminum pagi dan sore hari. Kalo ada tamu wajib dikasih kopi.


Sayang gw engga ngambil foto si ibuk yang punya rumah, dia cuma pake kemben gitu tapi nyaris telanjang dada karena kainnya turun2 mulu hahaha... Tapi sumpah kopi bikinan si Ibu enak banget. Dan dia dan suaminya engga bisa bahasa Indonesia, jadi gw harus dapet terjemahan seadanya dari pak Singkek. Gw tau kadang pak Singkek nerjemahin udah berdasarkan versi dia, gw sebenarnya ngarti bahasa Kantu', tapi waktu itu semua orang berbicara dalam waktu yang bersamaan dan dalam tempo yang sangat cepat jadinya cuma nangkep sepotong2 doang.




Ini ponakan pak Singkek, sepulang darin Pontu kami singgah bentar ke hutan2 tepi danau Siawan buat ngambil kulit pohon. Kulit pohon ini di tumbuk dan direndam dalam air, nah air yg merah pekat ini dijadikan pewarna jala dan rabai (pancing). Kenapa jala dan rabai perlu diwarnai? Karena warna asli benang-benang pembuat kedua alat tangkap ini tidak cukup gelap, jadi biar tambah gelap dan menipu ikan dikasih pewarna dari kulit kayu ini.


Dah ooww.. Gw dikasih dya kilo keropok kering sama keluarga pak Itam Karjo di Pontu :)

Sementara pak Singkek harus beli hahahaa...

Pelangi di tepi sungai (ramdom shoot) 18 November 2010

Diseberang itu ada lebih banyak rumah penduduk lagi tapi karena jauh jadi ga keliatan banget yah
Pelangi sore2

Kalau kehidupan Keliling Semulung berjalan lambat maka kehidupan di Danau Baru terasa beberapa kali lebih lambat lagi. Rumah2 rumah penduduk di Danau Baru di sisi kanan dan kiri sungai, tidak banyak hanya kurang lebih 10 atau 11 rumah saja. Sementara sungai yg memisahkan dua bujur rumah2 ini sangat lebar, bisa dilihat di foto. Pada satu sisi sungai malahan penduduk harus mengandalkan sampan untuk saling berkunjung sebentara di sisi yang satu lagi karena ada darata maka mereka memiliki jalan setapak yg menguhungkan rumah-rumah mereka.


Nah gw tinggal bersama salah seorang warga namanya pak Singkek yang terletak disisi sungai yang tidak ada jalan daratnya, sehingga gw harus bersampan ria kian kemari untuk mengunjungi informan2 gw mhh... itulah nikmatnya jadi antropolog (kadang mau engga mau-engga mau harus dinikmati).


Nah ini diambil dari rumah pak Singkek, gw ngambil foto ini dari halaman depan rumah apungnya. Yang keliatan di foto adalah salah satu keramba beliau dan beberapa buah perahu yag terparkir di dekat dapur. Jadi rumah-rumah pada sisi sungai yang sejajar dengan pak Singkek ini adalah rumah terapung atau rumah panggung dengan tiang-tiang panjang yang ujungnya langsung ditancepin ke dasar Sungai (dibangunnya ketika musim kemarau ketika air sungai surut). Rumah pak Singkek terdiri dari bangunan utama yaitu satu kamar, ruang keluarga dapur dan ruang tamu sekaligus, warung (yang juga sebenarnya tidak berbatas dengan ruang tamu tadi) lalu terpisah dari bangunan terapung ini ada dapur dan gudang. Semua alat2 tangkap, alat2 dapur dan hasil2 kebun disimpan disini (termasuk ikan asin) oohw iya gudang ini juga dijadikan dapur basah. Di belakang dapur ada kandang babi, paj Singkek punya satu ekor babi berbulu putih hitam gede.... Katanya sih bisa lebih gede lagi kalo dikasih makanan yang cocok.



Rabu, 06 April 2011

Danau Baru (16 November 2010)

Danau baru adalah RT desa Keliling semulung (RT III). Tapi uniknya Danau Baru terletak terpisah dari pemukiman utama desa Keliling Semulung, jadi mugkin karena itu juga tidak ada orang di desa yang menyebut Danau Baru denga nama RT-nya (apakah RT IV atau V gitu) tapi yah Danau Baru saja

Desa Keliling Semulung memiliki dua dusun dan 5 RT, dusunnya adalah dusun Semulung (di hulu kampung) dan dusun Lubuk Semulung (di sebelah hilir kampung). Danau Baru adalah RT III dari desa Keliling Semuling dan dia termasuk kedalam dusun Lubuk Semulung, Danau Baru terletak terpisah dari pemukiman utama desa Keliling Semulung. Tidak ada orang di desa yang menyebut Danau Baru dengan nama RTIII tapi yah Danau Baru saja. Secara historis sebenarnya Danau Baru adalah desa yang terpisa dari Keliling Semulung, jadi menurut sejarah yg dituturkan orang tua-tua kampung ceritanya begini:


Dahulu di Danau Baru ada satu rumah betang (rumah panjang tradisional Dayak), pada sekitar tahun 60-an pemerintah mennyarankan agar mereka yg dirumah betang Danau Baru agar pindah bergabung bersama desa Keliling Semulung (tempatnya di pusat pemukiman desa Keliling Semulung yang sekarang). Permintaan relokasi oleh pemerintah ini dilakukan mengingat alasan kesehatan dan untuk mempermudah masuknya program2 pemerintah ketika itu pada desa ini (desa Danau Baru). Selain itu katanya tumah betang yg di Danau Baru sering mengalami kebakaran, mungkin ditambah faktor itu mereka semkin mantap untuk pindah ke desa Keliling Semulung dan membuat tinggal di bersama keluarga inti saja (tidak ada rumah betang lagi).


Nah pemukiman baru orang2 desa Danau Baru di desa Keliling Semulung di jadikan satu dusun oleh pengurus desa Keliling Semulung yaitu dusun Lubuk Semulung. Lantas jika semua keluarga sudah pindah ke Keliling Semulung (tepatnya di dusun Lubuk Semulung) mengapa pada masa sekarang masih ada pemukiman di Danau Baru? Di jadikan sebuah RT lagi??...


Iyaaa! Benar sekali, walaupun mereka sudah pinda tapi sebagian besar kebun karet masih ada di Danau Baru dan yang lebih penting lagi adalah keterikatan batin dengan tempat itu. Pindah bukan berarti 'benar2 pindah'... Jadi mereka yg di Lubuk Semulung perlahan-lahan membangun rumah kembali di Danau Baru (tentu bukan Rumah Betang), ada beberapa yg sudah merobohkan rumah mereka yg di Lubuk Semulung dan benar2 permanen di Danau Baru, ada yg rumahnya di Lubuk Semulung dibiarkan kosong saja atau ada juga yg di huni oleh saudara jauh. Yang jelas generasi pertama dan kedua pindahan ke Lubuk semulung banyak yg kembali membangun rumah di Danau Baru. Sekarang ini ada sekitar belasan rumah di RT III atau RT Danau Baru ini. Ketua RTnya pak Simon.


Jadi untuk mengejar beberapa data yg berkaitan dengan sejarah kepemilikan lahan Danau Baru-Keliling Semulung gw memburu data kesana. Sebenarnya gw berangkat sehari sebelumnya bersama pak Martinus tapi cuaca sedang buruk, hujan badai ndak mau mati sia2 tenggalam di Kapuas gw terpaksa nunggu satu bari lagi. Karena udah kemalaman gw engga balik ke rumah pak Jawang lagian Istri pak Martinus maksa2 gw nginap di rumahnya aja dan aroma sup babi bikinan si Ibuk sangat menggoda.


Tanggal 15 November gw nyampe disana bersama Abah, diantarkan sama istrinya pak Martinus. Kebetulan si Ibuk mau cari ikan di sugai dekat Danau Baru. Dari desa ke Danau Baru cuma sekitar 15 menit dengan sampan kecepatan 2 pk. Kami nginap di rumah salah seorang penduduk, namanya pak Singkek. Alasan kami memilih pak Singkek sebagai host dalah karena dia punya warung kelontong dan TV lhaa?? Iya maksudnya dumah pak singkek sering dijadiin tempat ngumpul minum dan nonton tv (ibu2 dan anak2) jadi kan biar lebih gampang aja gitu dapetin berbagai informasi. Selain itu pak Singek juga orangya baik, haha.. Mana ada orang desa yang engga baik sama kami anak2 manis ini :))



Ini sore2 sebelum mandi, di dekat keraba pak Singkek
Rumah salah seorang warga Danau Baru (rumah pak Ikus, ketua RT)
Foto ini juga diambil dari rumah pak Singkek, yang keliatan itu adalah rumah pak Simon (mantan ketua nelayan)

Senin, 04 April 2011

Sore didesa (minum kopi) (sekitar pertengahan November 2011)


Abah lagi main bareng anak2 desa.




Ibu2 ini masih ada hubungan keluarga, seperti semua orang didesa ini yang semuanya adalah sanak sedulur.


Andri anak laki-laki nya pak Jawang (ardi) sedang berada di kampung istrinya di kecamatan lain, istri si Ardi ini orang Dayak Suruk (dibaca Su'uk). Di sebelah rumah pak jawang tinggal keluarga kakak perempuan pak Jawang (lupa namanya) anak mereka namanya Donisius tapi semua orang memanggilnya Tutuy. Karena seumuran jadi dia kami sering main, kalo pulang dari kebun Tutuy sering ikut ngopi siang2 dirumah keluarga pak Jawang.

Hari ini adalah hari ketiga di desa Keliling Semulung, Tutuy nemanin gw jalan-jalan sampai ke ulu kampung (orang2 desa biasanya membagi sebutan desa ini menjadi tiga; ilir, tengah dan ulu). Sisa-sisa banjir beberapa hari yang lalu masih terasa di sepanjang jalan kampung (yg mana ini adalah jalan satu-satunya di desa ini), becek dimana-mana dan ditempat yg agak rendah bahkan kami harus mengangkat celana dulu.

Siang ini si Tutuy nemenin gw erjalan dari ulu sampe ke ilir kampung, jarak desa ini dari ulu sampai ilir kurang lebih satu setengah kilo meter saja. Sebelum pulang kami singgah dirumah pak Martinus beliau adalah Kaur Pembangunan di desa, abah tinggal bersama keluarga pak Martinus. Abah lagi main kelereng sama bocah di halaman, Tutuy kayaknya lagi minum saguer dirumah sebelah. Ohoo.. sedangkan gw dirumah pak Martinus terjebak percakapan ibu2 yang sangat membosankan, di ruang tamu ada enam atau tujuh ibu termasuk istri pak martinus sendiri. Kami minum kopi sambil mengobrol, yah percakapan ingan khas ibu2 desa lah. Dan semestinya kopi buatan istri pak Martinus enak hanya saja kebanyakan gula.



Manang (sekitar pertengahan November 2011)

Gw seperti kelihangan orientasi aja di Keliling Semulung. Dalam hal kerjaan gw bisa disamain dengan staff tambahan yg perbantukan buat ngebantu (ngeberesin) sedikit ini dan sedikit itu yang kurang dari tim yang sudah ada di desa ini. Tapi sepertinya mereka udah pada bagus kerjaannya dan engga ada kasus kekurangan data pada tim desa Keliling semulung, gw disuruh ketua cluster atau ketua tim semulung buat ngecek beberapa issu didesa, check. Trus disuruh tambahin data tentang perikanan, check. Ya udah akhirnya gw bermain2 dengan beberapa topik yg gw minatin dong. Yaitu adat istiadat dan tradisi.


Seakan-akan ada alarm biologis di tubuh gw selama beberapa hari tinggal bersama keluarga pak Jawang gw selalu bangun tepat jam 9 pagi. Tapi kali ini bangun sedikit lebih pagi, gw mimpi masuk ke perosok ke dalam lumpur.. lumpurnya tiba2 jadi hangat, gw panik dan tambah panik akhirnya kebangun. Dua anak anjing pak Jawang terlihat sangat bernafsu menjilat2 kaki gw, ludah mereka basah dan lengket eeww.. Tapi siapa yg bisa marah pada dua makhluk yg uar biasa imut ini *mata berkaca2*


Kehidupan desa berjalan sangat lambat seperti biasa, jam dindin seakan tidak ada gunanya bagi kami (juga seperti biasa). Ohh bagus hari ini sarapan beras coklat, padinya ditanam ditanah kering dengan tidak menggunakan pupuk kimia apapun (kecuali sedikit pestisida tentunya). Kata orang2 sih beras begini banyak serat, tapi yah apa pengaruhnya.. Kalo selama di desa gw selalu laper hahaha...


Okay great, beras sehat dengan serat tinggi tapi apagunanya kalo engga ada launknya. Di dapur hanya ada sedikit lauk sisa kemaren, seperti biasa bu Jawang engga masak lauk di pagi hari seua orang dirumah ini makan sisa lauk kemaren. Demi alasan menjaga perasaan tuan rumah gw makan dengan lauk apa adanya. Sementara menghayalkan makanan enak2 di rumah bu Agatha :)


Hari ini seperti biasa, karena gw Cuma tenaga pembantu didalam tim jadi tidak ada misi atau agenda khusus. Hanya lihat sana dan lihat sini lalu melengkapi kekurangan beberapa data oleh tim semulung. Jadi hari ini ke Posko utama yaitu rumah pak Anton, pak Anton adalah adik pak Misael (kepala desa Keliling Semulung). Ketika awal sampai di desa ini beberapa bulan lalu semua anggota tim Semulung (dinamain sesuai dengan desa tempat mereka ditempatkan hhehe) tinggal di rumah pak Anton. Oow yah anggota tim ini adalah Abag, Iway dan Mia. Istri pak Anton adalah bu Agatha, orangnya super baik, keibuan dan pinter masak.


Jadi setelah beberapa bulan anggota tim memencar, tidak lagi tinggal disatu rumah (rumah pak Anton) demi demi mendapatkan data2 tertentu yg lebih spesifik. Iway pindak ke rumah pak Malintang, Abah pindah ke rumah pak Martinus, gw yg baru datang di suruh tinggal di rumah paling hulu desa yaitu di rumah pak Jawang (sekretaris desa) dan Mia tetap tinggal bersama keluarga pak Anton. Karena rumah pak Anton masih sering dijadikan tempat ngumpul makanya disebut posko :)

Bu agatha masak cap cai, dan ikan goreng yg lezat :P

Owwh semua orang ternyata lagi ngobrol dan minum kopi di rumah pak Misael (yg letaknya persis di depan rumah pak Anton). Habis minum kopi dan ngobrol bentar gw sama mia ke rumah nya pak Gundul. Pak Gundul adalah manang (dukun) di desa, yaah sebenarnya ada satu orang dukun lagi didesa ini tapi yang satu lagi tampaknya tidak sepopuler pak Gundul. Tadi malam pak Gundul di minta tolong untuk mengadakan upacara 'nanam ayu' oleh salah seorang warga di hilir kampung. Nanam ayu itu adalah upaya mendoakan bayi atau balita agar tumbuh dengan sehat dan terhindar dari berbagai penyakit (termasuk penyakit ghaib). Si Mia yg lagi nyari2 topik buat skripsi mau jadiin isu 'manang' ini sebagai salah satu pertimbangan. Siang tambah panas menyengat, pak Gundul lagi bikit 'pengayoh' (sebenarnya ini bukan bahasa Dayak Kantu' tapi bahasa Ulu, artinya pendayung perahu).





Ini pak gundulnya, tidak gundul tapi semua orang didesa manggilnya pak gundul :)


Yg ini anaknya pak Gundul, dan yg kecil itu kayaknya cucunya deh (lupa). Kayaknya ga beda jauh ya umurnya bapak dan anak, pak gundul awat muda atau anaknya yg cepat tua. Aah mungkin pak gundul nikah muda kali


Kalo yg ini adalah rumah2an (miniatur) yg menandakan statusnya sebagai manang. 'Pesan' akan rumah ini didapatkan secar ghaib didalam mimpi, setelah itu dia barulah mendapatkan kekuatan bisa menyembuhkan orang-orang.

Sabtu, 02 April 2011

aha.. yah2 field note2 bisa jadi postingan blog (solusi kemalasan ngeblog) 20 Maret 2011

Tadi malem setelah bengong beberapa jam akhirnya terbesit lah sebuah ide yang cukup cemerlang dari otak g yang kecil ini. Mungkin orang-orang yg ngebaca blog ini (najiiiis lu prabu, siapa juga yg bakalan baca blog sampah lu ini) udah pada bosen kali yah dengan semangat membara untuk menulis gw yang hanya bertahan seumur jagung doang (emang umur jagung berapa tahun??). Ya udah gw engga bisa menjanjikan apa2 untuk bisa konsisten menulis, yah gw nulis kalo lagi pengen dan kadar-pengen-nulis gw itu berfluktuasi.. Yah jadi gitu lah (lagi2 najis lu, berkhayal kalo blog lu bakalan ada yg baca hahaha). Eeh balik lagi ke ide cemerlang yg keluar dari otak gw kecil gw hihihi...

Gini.... Selama penelitian kemaren ternyata gw sangat produktif menulis --> sebagian besar tulisan adalah karena dipaksa dan bagian dari pekerjaan tentunya hiihhi.. Sebagian lagi tulisan merupakan hasil kreatifitas ketika lagi engga ada kerjaan dan sedang didera penyakit mati gaya kronis. Adalah cobaan yg sangat ketika seorang antropolog sedang dilapangan (penelitan) mengalami bad mood dan terjebak diantara situasi yg sangat berada diluar zona nyaman mereka. Biasanya disaat2 gw lagi engga pengen ngapain di desa gw nulis. Kalo lagi ada listrik ya di laptop, kalo engga ya di HP kalo lagi ga ada batre dan engga bisa di cas karena ga ada listrik ya di jurnal hahaha.. manual banget. Tapi lumayan ampuh untuk mengusir kebosanan.

Nah jadi tulisan-tulisan selama dilapangan ini lah yg akan kembali dorbitkan didalam blog ini. Karena ini postingan lama maka agak berantakan dan kadang juga tidak beruruta sesuai dengan urutan waktu yg benar. Trus.. Mmmhh bentuk dan gaya tulisan juga beraneka ragam karena sebagian besar diantaranya adalah adalah field note (atau catatan lapangan) dan sebagian lagi adalah jurnal bebas yg ditulis dengan gaya bahasa sehari2 yg engga formal, jurnal disini adalah cerita pengalaman gw sehari-hari selama berada dilapangan. Lhaa terus apa bedanya dengan field note atau catatan lapangan?? mmmph okay sini gw jelasin satu persatu.

Ketika melakukan penelitian etnografi seorang peneliti harus memprodiksi data mentah yg ia kemas didalam bentuk field note atau catatan lapangan ini, sederhananya kalau seorang ekonom melakukan penelitian maka ia akan melakukannya dengan pendekatan kuantitatif dimana data mentah mereka akan berbentuk angka-angka (didalam istrumen kuesioner misalnya) yg akan kemudian diolah. Nah antropolog yg melakukan penelitian etnografi (yg tentu saja bersifat kualitatif) mengumpulkan data mentah mereka didalam field note ini, bentuknya tida angka2 tapi berhalaman-halaman dan berparagraf-paragraf data yg diuraikan atau dieskripsikan dalam bentuk kata-kata (sekali lagi, bukan kuesioner). Jadi yg ngebedain dengan jurnal harian adalah gaya bahasanya, kalo fieldnote tentu bakalan lebih ilmiah, formal dan ada aturan-aturan teknis didalam penulisannya. Kalo junal harian ya kayak diari gitu ada bias2 pribadi si penulis didalamnya, bisa curhat2an juga didalamnya.

Nah karena yg akan di posting ini adalah data maka tidak semuanya juga dapat di share di forum online seperti ini. Hal ini terkait dengan etika profesi antropolog yg harus gw patuhi, bagaimanapun ada informasi2 sensitif yg kalau di share akan berugikan masyarakat setempat.

Okaay jadi inilah dia, solusi cerdas untuk menampah postingan blog dengan cara yg instant hahaha....

Rabu, 23 Maret 2011

Flipped (22 Maret 2011)


Awalnya mengira akan mendapatkan film keluarga yang membosankan, ternyata engga juga. Malah lumayan lah film ini. Latar film ini adalah di kota Mayfield pada tahun 1955, yah pada dasarnya fil ini bercerita tentang kisah cinta dua orang anak SMP yaitu Julie Baker dan Bryce Lacoski. Uniknya kisah cinta anak2 ingusan ini diceritakan dengan sudut padang mereka berdua sejak ketika pertama kali ketemu (umur 5 tahun waktu keluarga si Bryce baru pindah).


Film yg bagus, keluarga banget atmosfirnya, banyak pesan moral dan tentu saja tidak ada adegan dewasa dan kekerasan disepanjang film ini. Orang-orang yg nonton akan banyak belajar tentang persahabatan dan cinta (lebih banyak ke cinta kepada keluarga dan gimana cara menghargai sesama). Enak ditonton bareng keluarga dan aman untuk semua umur. Duuh klise banget gw ngebahasnya. Pokoknya nonton aja deh, bagus! Engga percaya banget, gw bilang nonton ajaa!!


liat resensinya langsung aja deh disini!!

Minggu, 20 Maret 2011

Farewell my old laptop (19 Maret 2011)

Akhrinya perpisahan itu terjadi, empat tahun selau bersama menemani gw kemanapun gw pergi. Papua Nugini sampai Ujung pulau Sumatra selalu bersama gw, pedalaman Kalimantan yg basah dan lembab sampai belantara gedung2 kota Jakarta yg mengerikan Axio gw selalu menemani, dari tugas kuliah, skripsi sampai kerjaan semua selalu kami taklukkan bersama. Oh padahal harganya mahal sekali (tuju juta!!) ooh sudahlah, adi begini kejadiannya.

Tadi malem waktu gw lagi nonton The Big Bang Theory di laptop Axio tua gw itu, tanpa sengaja gw menumpahkan satu gelas penuh air diatas key boardnya!!! Waaaa.. Panik dong, gw langsung beraksi secepat kilat memutuskan semua kabel dan terutama adaptor yg terutama nyambung langsung ke listrik (sempat menghayal liar bahwa laptop itu akan meledak dalam seketika). Air yg masuk disela-sela keyboardnya bukan sekedar dua atau tiga sendok makan tau! SATU GELAS, SATU GELAAAAAAS!! :'(( dulu pernah juga kena tumpahan air, tapi alhamdulillah engga kenapa2. Demi apa laptop gw bisa berakhir dengan cara yang tragis seperti ini, padahal selama bertahun2 selalu selamat gw bawa kemanapun gw bertualang, tiga tahun lalu waktu ke Papua selamat dari ancaman jatoh di kapal Gunung Dempo, pernah hampir jatoh ke air juga waktu turun dari perahu di pantai Sungai Pinang, trus juga engga kenapa2 tuh waktu gw bawa2 ilir mudik Kapuas waktu di Kalimantan kemaren. Engga nyangka segelas air ditempat yg sama sekali menurut gw tidak berbahaya (which is my room) laptop ini menghembuskan nafas terakhirnya. Tapi apa lacur, nasi sudah menjadin bubur...

Waktu ngeringin tu laptop pake kipas-angin-panasonic-kecepatan-maksimal gw juga udah mulai mengikhlaskan ke pergiannya, dan ternyata setelah di keringin trus gw nyalain emang engga mau idup lagi :(( masih agak susah menerima kenyataan trus gw nyolokin adaptor batre ke si Axio yg sudah jadi mayat. Lha.. Kok agak nyium bau kabel kebakar yah?? Oow..ow cukup, langsung dengan panik nyabut kabel (lagi). Ya sudah, nasi sudah menjadi bubur (peribahasa ini dikuti untuk yg kedua kalinya menandakan bahwa gw kembali mencoba untuk menerima kenyataan [untuk kedua kali]).

Sebenarnya yg lebih bikin gw marah (dan sedih) adalah bukan betapa bersejarahnya laptop itu didalam hidup gw (seperti yg gw ceritain dengan gaya lebay di paragraf pertama postingan ini). Tapi gw marah (pada diri sendiri) dan menyesali kenapa gw jadi orang yag seceroboh seperti ini, gw merasa menjadi orang yg tidak menghargai pemberian orang tua. Laptop itu dikasih sama papa ketika kondisi ekonomi kami sangat sulit, gaji papa dipotong tiap bulan sekian persen sama koperasi kantor buat bayar laptop itu yah.. Maklum lah waktu itu laptop masih termasuk barang mahal yg mewah. Jarang sekali papa tidak menyanggupi permintaan anak2nya yg berhubungan dengan sekolah. Laptop itu dikasih buat ngerjain tugas2 kuliah, alhamddulillah sudah sampai sarjana dan bisa beli laptop baru (yg lebih canggih tentunya) dengan uang hasil keringat sendiri gw malah dengan cerobohnya .. Yah apapun lah namanya (susah memilih kata2 yg tepat karena gimana2 akan bikin sakit hati lagi).. Membuat laptop itu pensiun selamanya.

Okay lah pelajaran besarnya: 1. Jangan makan dan minum ketika bekerja didepan laptop 2. Selalu lindungi key boardnya dengan karet pelapis tipis itu (jadi kalo ketumpahan aer-nya engga langsung kena) [ masuk surga juga lah hendaknya org yang menciptakan benda ini] 3. Banyak orang2 yg tidak beruntung dan serba kekurangan, jaga dan syukuri segala sesuatu yg kamu miliki.

Fuji film dan Kodak (9 Februari 2011)


Sore ini gw berkeliling dengan motor mengunjungi beberapa tempat yang berlogo ‘fuji’, ‘kodak’ atau sejenisnya buat hunting film kadarluarsa dan nyari tempat proses foto yang paliiiing murah se kota Padang . Terminal foto yang didepan SPR-yang-sudah-tidak-ada itu katanya pindah ke depan PA jadi biar lebih efisien gw kesana dulu dong, oohw yah baiklah mereka gerai ‘terminal foto’ disini ternyata hanya melayani penjualan kamera dengan segala tetek bengeknya *tetek bengek kalo di jadiin bahasa inggris apaan yah??, tetek= breast. Bengek= asthma jadinya ..?*


Haay back to topic, teringat suatu ketika bertahun-tahun lalu pernah berfoto bersama teman2 satu angkatan di foto studio di depan PA (yang persis di sebelah hotel Hang Tuah), maka gwpun ngesot kesana. Dan taraaaa.. ternyata tarif buat proses menegatifkan satu roll film Cuma 7 ribu perak sajooo!! Dan tarif scan dari negatif-an ke dalam media cdnya 22 ribu. Mmhh masih mmurah di terminal foto yang membandrol 15 ribu perak. Harga film disini 22 ribu. Dan tidak ada yang sudah kadarluarsa. Oh ya tempat ini namanya ‘Indah color photo service’.


Lalu teringat ada sebuah tempat berlogo ‘kodak’ di jalan HOS cokro, dekat pecinaan… jadi kalau dari jalan Dobi lurus aja sampe ketemu jembatan dan perempata nah tempat ini ada di perempatan itu. bangunannya kaya rumah model lama, benar2 mirip rumah tidak mirip toko atau semacamnya. Dan tarif proses scan dari negatif-an ke cd cuma 10 ribuuu hahaha… buat proses menegatif-kan film mereka ga bisa, ga ada alatnya katanya. Good news gw ketemu DNP dan Kodak 36 mm asa 200 yang sudah expired disini!! Dan bad news si penjaga toko yang idiot ini tidak mau nurunin harga (tetep harganya 22 ribu), padahal dah dibilangin ga bakalan ada yang mau beli karena udah basi filmnya. Gw lupa nama tempat ini apaan, ntar liat sendiri aja.

Trus yang terakhir gw ke ‘fuji star photo studio’ di imam bonjol, ada gang yang menuju kearah masjid Muhamadiyah itu. Berseberangan dengan tempat pelacuran yang sudah rubuh kena gempa. Yah..yah tidak percuma keliling-keliling sendirian kayak orang begok, hasilnya sekarang sudah tau dimana tempat memproses film yang paling murah.

Kamis, 27 Januari 2011

24 Januari 2011

Satu minggu lebih dua hari sudah bersama kota Padang tercinta lagi, sesuatu saya bayang2kan ketika di Kalimantan dan tapi ironis ketika dipadang sudah memasuki minggu kedua ini saya menjadi bingung sendiri. Hasrat membara memanfaatkan waktu satu minggu ini untuk hal-hal positif dan berbenah berbagai hal sembari menunggu kejelasan nasib ijazah gw dari kampus menguap cepat. Waktu berpusar dan saya pun larut didalamnya… nampaknya menjadi pengangguran membuat saya sedikit kehilangan orientasi.

Haduh2.. mudah2an pembimbing saya cepat balik dari Jerman dan skripsi ini bisa diperbanyak dan selembar kertas sakti itu bisa segera diambil. Rencana kemaren mau kursus persiapan TOEFL di ITI dan lanjut les Prancis ----> masih bagian dari usaha meningkatkan produktivitas ala pengangguran, rencana tak semulus itu hhe.. les2nya tertunda deh. Mungkin besok atau lusa baru daftar les TOEFLnya… trus les masak, les jahit dan les membuat keramik juga tertunda deh *apaaaaaaaan cobaa..*

Lama2 habis juga tabungan gw kalo begini… mau minta ke ortu kan malu. Kalo sebelumnya udah kerja dengan penghasilan yang yaah cukup lah trus tiba2 jadi pengangguran kan aneh banget rasanya kalo disubsidi lagi sama ortu kayak waktu masi mahasiswa dulu hohoho.. jadi idup sementara bergantung dari tabungan aja deh dulu sembari cari kerja.. ooh mana2 berlian itu?? biar ku kumpulkan lagi satu persatu….

Masih 24 Januari 2011

Hari ini ada pelatihan P3K yang diadain sama salah satu LSM lokal yang cukup terkenal di kota, trainernya ternyata jeung Oliv si pengantin baru… kami (saya, etek, kristina dan jeng oliv) bercerita kasak kusik dengan centil tentang pengalaman rumah tangga pasangan2 baru… jeng Oliv yang ketagihan bercinta dengan suami tercinta bersemangat bercerita dengan kami tentang bagaimana mereka (dia dan suami) mengeksplorasi berbagai hal2 baru dalam bercinta. Lalu si etek seakan meriview ulang pelajaran bercinta yang dia berikan kepada jeng Oliv semasa dia masih gadis, ‘gimana karokenya?? Seru kan jeeng??’ kata etek, sementara jeng oliv mangut2 sambil senyum2 mengingat2 pengalaman ‘karoke’ suami huahha…

Si etek sudah beristri tapi belum di karuniai anak, kata etek,

‘gw sibuk banget kan kerjanya… jadi binong dalam satu bulan hanya tiga kali saja terlayani’

‘kadang binong gw kasak-kusuk sendir ngajakin bercinta tapi gw biarin aja’

(‘..hooo etek jahara’ saya dan kristina menimpali)

Sementara saya dan kristina yang tidak punya pengalaman bercinta yang didalam ikatan perkawinan hanya bisa mengikuti cerita mereka tanpa terlalu berkontribusi dengan cerita kami sendiri, habis mau cerita apa haha…

Ooh iya ,, tadi saya berencana bercerita tentang pelatihan P3K yang diadakan oleh LSM itu dan trainer nya adalah jeng Oliv, dan tiba2 saja kok ceritanya menjadi Oliv sentris yah haha… cerita soal cerita Oliv dan yang lain-lainnya agaknya sedikit mengalihkan cerita awal. Lhaa tapi apa guna juga kalau saya menulis sesuatu yang tidak menarik bagi saya, baik juga bertulis cerita dengan cara ‘mana suka’

Kan?? Yang penting ada cerita *sekarang mulai agak maksa J)*

Pelatihan ini merupakan agenda rutin dari LSM penyelenggara, target mereka tidak terbatas. Mulai dari ibu rumah tangga, anak sekolah, anak kuliahan sampai komunitas-komunitas dan LSM2 lokal seperti kami ini. peserta kali ini adalah LSM Tunas Pelangi tapi karena kantor mereka masih satu atap dengan kami Pelangi Andalas maka beberapa relawan Pelangi andalas yang belum mendapatkan pelatihan ini ditumpangkan bersama Tunas pelangi. Alhasil saya, kristina dan ovalia bergabung pada pelatihan ini J. Materi yang mereka sajikan sangat2 berguna, banyak sekali perlakuan2 kita pada korban kecelakaan yang justru sebenarnya sangat membahayakan si korbanitu sendiri ternyata.

Habis pelatihan ini jam 4 lanjut ke gym, di gym biasa2 saja, kecuali mungkin satu orang bapak2 yang lirik2 liar ke paha saya waktu di sauna. Mengibaskan rambut dan langsung keluar deh jadinya, jijik banget tua bangka ndak tau diri. Habis itu makan malam dengan Andini Wikarda, juga biasa2 saja… saya dengan terpaksa harus mendengarkan bercakapan yang membosankan soal betapa manisnya murid2 tarinya yang usia SMA waktu mereka latihan, selama makan malam itu terooss… Maklum beberapa hari lagi Andini dengan anak2nya mau ikut kompetisi tari di kota Padang Panjang, ada isntitut seni disitu yang bikin acara.

Rabu, 15 Desember 2010

Senin, 13 Desember 2010

Berkeramat

Pagi cerah, kelewat cerah setelah angin ribut semalam. Tidak ada tanda-tanda tadi malam desa Pala Pintas diserang angin ribut dan hujan lebat.

Empat hari yang lalu desa dua malam berturut-turut diterpa cuaca buruk, dusun hulu berinisiatif untuk membuat ritual yang dinamakan berkeramat. Tujuan ritual ini adalah agar cuaca buruk berhenti (badai) dan hujan berhenti. Rumah tidah kena banjir, kabun karet bisa ditoreh, padi di ladang juga selamat dari ancaman gagal panen.

Upacara ini boleh menggunakan bantuan manang (dukun) boleh juga tidak memakai dukun, kebetulan berkeramat kali ini tidak pakai manang. Kayu mabang berdiameter 15 cm di pahat membentuk wajah manusia, kemudia ditancapkan di tepi sungai. Di patung kayu sederhana ini di ikatkan kain merah, posisi ikatan kain dipatung akan menentukan ketinggian air sungai yang di kehendaki penduduk desa.

Lalu penduduk bersama-sama meletakkan sesajian, nasi ruas (lemang), menancapkan pinang di sekitar patung. Sesajian ini untuk memberi makan hantu yang diundang untuk mendiami patung. Tiga hari berturut-turut setelah upacara diadakan cuaca cerah, dan tadi malam kembali badai. Menurut mereka upacara cukup berhasil karena walaupun tadi malam hujan lebat tapi ketinggian air sungai malah turun.

----Email Diteruskan----
Dari: kerabat_ciwa@yahoo.co.id
Kepada: nusantara.praboe.hogwart@bloger.com
Email Keluar: Sel, 14 Des 2010 07:25 ICT
Judul: Berkeramat

Pagi cerah, kelewat cerah setelah angin ribut semalam. Tidak ada tanda-tanda tadi malam desa Pala Pintas diserang angin ribut dan hujan lebat.

Empat hari yang lalu desa dua malam berturut-turut diterpa cuaca buruk, dusun hulu berinisiatif untuk membuat ritual yang dinamakan berkeramat. Tujuan ritual ini adalah agar cuaca buruk berhenti (badai) dan hujan berhenti. Rumah tidah kena banjir, kabun karet bisa ditoreh, padi di ladang juga selamat dari ancaman gagal panen.

Upacara ini boleh menggunakan bantuan manang (dukun) boleh juga tidak memakai dukun, kebetulan berkeramat kali ini tidak pakai manang. Kayu mabang berdiameter 15 cm di pahat membentuk wajah manusia, kemudia ditancapkan di tepi sungai. Di patung kayu sederhana ini di ikatkan kain merah, posisi ikatan kain dipatung akan menentukan ketinggian air sungai yang di kehendaki penduduk desa.

Lalu penduduk bersama-sama meletakkan sesajian, nasi ruas (lemang), menancapkan pinang di sekitar patung. Sesajian ini untuk memberi makan hantu yang diundang untuk mendiami patung. Tiga hari berturut-turut setelah upacara diadakan cuaca cerah, dan tadi malam kembali badai. Menurut mereka upacara cukup berhasil karena walaupun tadi malam hujan lebat tapi ketinggian air sungai malah turun.

Pengalaman belajar berhahasa dengan bahasa-bahasa daerah Kapuas Hulu

Nah bribet banget tuh bahasa yang saya jadikan buat judul tulisan ini.

Bahasa yang dipakai di kampung Melayu Bunut dan sekitarnya termasuk salah satu dialek bahas Melayu, di Kapuas Hulu sendiri ada sekitar tujuh dialek bahasa Melayu. Dan dialek yang biasa digunakan oleh orang Bunut kebetulan adalah lingua franca atau bahasa pergaulan yang dipakai di Kab Kapuas hulu.

Begitu juga dengan desa-desa pedalaman di kecamatan Embaloh hilir dan Bunut Hilir, di dua kecamatan ini ada beberapa suku asli. Dayak Kantu', Melayu, Tionghoa dan sedikit Dayak iban. Keempat suku ini dalam pergaulan an antar suku menggunakan bahasa Malayu Hulu (sering disingkat jadi bahasa Hulu aja).

Saya pikir akan lebih mudah masuk ke komunitas mereka dengan berbahasa Indonesia dengan asumsi, berbahasa Indinesia berarti saya akan dianggap orang Jakarta yang haus pengetahuan untuk belajar bahasa mereka. Tapi lama di kampung Melayu Bunut membuat saya terbawa-bawa bahasa Hulu dengan orang Kantu. Keceplosan beberapa kali berbahasa Hulu membuat saya jadi bulan-bulanan, ditertawai menurut mereka ternyata saya juga 'sidak melayu' atau orang Melayu kapuas yang pura-pura jadi orang Jakarta.

Tapi dari situ saya belajar berbahasa Kantu' dengan cara membanding-bandingkan kosakata bahasa Hulu dengan Kantu' dan well cara belajar bahasa seperti ini lumayan efektif :)
walaupun sesekali keceplosan terbolak balik misalnya ketika bilang 'nanak' bahasa Melayu dengan kata 'ilak' bahasa Kantu' untuk nanti. Lalu sering tertukar antara 'ngimai' dengan 'tamai' (ikut) trus juga 'nuan' dengan 'kulak' (kamu/anda)

Pengalaman belajar bahasa yang menyenangkan, apalagi dengan bocah-bocah kalau ada kata yang tidak jelas mereka akan dengan semangat mengejanya (sekali ini saya suka anak kecil, saat seperti ini mereka sangat bermanfaat).

Sabtu, 11 Desember 2010

Desa Pala pintas

Agak aneh rasanya berangkat ke lapangan kali ini, kali terakhir mengujungi desa *agak sedih hoho*. Sialnya lagi gw ga bisa langsung ke Bunut tapi harus nolongin Yudhi buat cross check beberapa data temuannya lagi plus masih ada kekurangan beberapa data. Otak dari kemaren udah putar2 biar bisa ngakalin buat bisa langsung ke desa Bunut, kangen dengan orang2 didesa... tapi mau gimana melengkapi data di desa Pala pintas jadi prioritas utama dulu.

Rencananya kebut nyari data di Pala pintas dua hari habis itu langsung cabut ke Bunut yaaY!!

Perjalanan ke Pala pintas di speed boat diterpa perubahan cuaca yang ekstrim, beranglat jam 1 siang cuaca panas membakar ubun-ubun eh ditengah perjalanan tiba-tiba hujan. Lalu nyampe di Pintas mendung berangin kencang gitu...

Makan siang menjelang malam di rumah tetangganya pak kades, secara si pak kades lagi ke Embaloh (ibu kota kecamatan) buat belanja.

Okay mari bekerja dan memotret dan mengingat sebanyak mungkin pengalaman di hari2 terakhir ini :)
Waah sudah empat bulan di Bumi uncak kapuas tidak terasa saja.

Jumat, 10 Desember 2010

apa yah...

tessssss.........
ini percobaan fitur, posting blog via e mail.
nah kita liat gimana hasilnya yah :)

Persepsi tentang banjir, pendidikan di kampung dan sejarah masjid (Rabu, 25 Agustus 2010)


masjid Baiturrahman

Dua hari terakhir mendung, pagi ini juga tidak ada matahari kalau seperti ciaca langit pagi ini bang Syamsul (tetangga pak Wim) meramalkan akan terjadi hujan lebat lagi disore atau siang hari. Ketinggian hari dari empat hari terakhir semakin naik, kami berpatokan kepada salah satu tiang gertak yang ada di halaman depan rumah pak Wim dan lantai halaman belakang (dekat dapur). Kemaren sore permukaan air kira-kira satu jengkal dari lantai halaman belakang. Pagi ini permukaan air sudah menyentuh lantai, sebagian lantai yang terbuat dari papan kayu kawi tersebut sudah acap (bahasa hulu untuk banjir).

Saya memutuskan untuk melihat-lihat keadaan fenomena banjir ini disekitar kampung Hulu, mengambil jalan pintas yang menghubungkan dusun Kuala Bunut dan perdah agar bisa mengamati dalam sekali jalan dibanding dengan mengambil jalan yang biasa (jalan kampung sebelah Barat) dengan melalui jalan pintas ini akan lebih banyak wilayah yang teramati. Jalan pintas ini berada disebelah kanan kantor desa apabila kita menyusuri jalan ini maka akan tembus tepat di depan masjid kampung Hulu. Ketika ketika akan masuk ke jalan tersebut saya bertemu dengan pak Irzal (salah seorang staff desa Bunut Hulu), beliau menyapa saya dan sambil lalu bilang "jalan sebelah ilir ja' sana' dah acap", "iya pak ndak apa-apa saya mau liat seberapa acapnya jalan"

Ini pertama kalinya saya melalui jalan ini, letaknya cukup terpencil disepanjang jalan ini tidak ada rumah penduduk hanya hutan, kuburan kampung, sebuah kandang ayam dan beberapa kolam ikan toman.tapi cukup strategis karena menghubungkan dua dusun yang ada di desa Bunut Hulu yaitu dusun Kuala Bunut (disebelah selatan) dan dusun Perdah (disebelah utara).

Sebagian hampir semua rumah penduduk yang berdekatan dengan pantai terutma yang berhadapan langsung dengan pantai sudah terendam uleh banjir hingga sedala mata kaki orang dewasa. Kalaupun tidak terendam hingga sedalam itu sebagian besar papan teras depan rumah sudah becek oleh air sungai yang meluap. Saya menyapa seorang bapak yang sedang membuat 'panggung tambahan' didalam rumah, menurut keterangan si bapak sudah hampir empat hari rumah mereka terendam oleh air sungai kapuas yang meluap. Karena diperkirakan permukaan air akan terus meninggi maka dia membuat panggung tambahan didalam rumah dengan menyusun papan yang disangga oleh drum atau tiang-tiang penyangga. Kebanyakan rumah di Nanga Bunut terutama yang berjarak sangat dekat dengan pantai sudah menyiapkan papan-papan ekstra dan tiang-tiang kayu penyangga untuk membuat panggung tambahan di dalam rumah dikala banjir seperti ini.

Sebagian besar ativitas penduduk tepi pantai yang terkena dampak banjir paling parah pagi itu adalah kegiatan bersih-bersih, menata ulang perabotan dan menyingkirkan sampah-sapah kayu yang terbawa oleh banjir. Sepulang dari berkeliling kampung Hulu saya bergabung dengan bang Suha yang rumahnya berseberangan dengan rumah pak Wim. Menurut menurut cerita Suha banjur yang cukup besar terjadi pada tahun 1996 waktu itu air naik sampai setinggi 15 sentimeter dari lantai. Kebanyakan rumah sudah menyiapkan papan-papan dan drum dikolong rumah guna membuat panggung atau lantai tambahan apabila air sudah masuk kedalam rumah. Ketika banjir mata pencarian yang paling terkena dampak adalah para pemilik kebun karet. Menurut beberapa bapak yang kebetulan sedang berkumpul didepan rumah bang Suha, tidak pernah terjadi musim pasang selama ini. Rata-rata durasi pasang hanya 2-3 bulan saja, itupun tidak pernah setinggi ini, salah seorang bapak didalam grup pagi itu menghitung pasang kali ini sudah 8 bulan 22 hari (Beliau berpatokan pada dimulainya pengerjaan proyek jalan lintas di selatan kampung).

Pada saat banjir mereka tidak dapat menoreh getah, karena bangian pohon tempat dibuatnya toreha sudah digenangi air. Sedangkan apabila mereka memaksakan menoreh bagian atas pohon hal ini akan menyebabkan kerusakan bahkan kematian pada pohon. Sedangkan pengaruh yang cukup terasa bagi aktivitas penangkapan ikan yang dirasakan oleh nelayan adalah, menurunnya hasil tangkapan. Hal ini disebabkan karena ikan-ikan memencar sampai kedaratan karena daratan yang semestinya kering sekarang digenangi oleh luapan air sungai. Kondisi menguntungkan sebaliknya akan dirasakan oleh nelayan pada musim kemarau, air sungai menyusut sehingga ikan-ikan terkumpul pada ceruk-ceruk danau dan anak-anak sungai. Aktivitas yang sangat diuntungkan dengan adanya bajir dan meluapnya sungai adalah aktivitas para pekerja kayu. Menurut Sahul dahulu pada masa loging para pekerja kayu ilegal yang mencari kayu sampau jauh kedarat (jauh dari tepi sungai, masuk kedalam hutan). Akan lebih mudah bagi mereka untuk mengangkut kayu tersebut dengan meluapnya sungai, dari dalam hutan kayu tinggal dihanyutkan saja melalui anak-anak sungai kemudian ketika di sungai besar kayu-kayu tersebut akan dipindahkan ke rakit khusus pengangkut kayu yang sebelumnya telah parkir. Walaupun begitu pada masa loging pencari kayu yang menebang hutan secara aktif lebih dilakukan orang-orang diluar Kapuas Hulu, bahkan buruh-buruh persusahaan ini sebagian besar adalah orang-orang dari Sambas. Biasanya mereka (pekerja kayu dari Sambas) lebih produktif dan menghasilkan kayu lebih banyak dibandingkan dengan orang Kapuas Hulu atau Bunut sendiri.

20.00

Mahyudin sepertinya sudah resmi menjadi local guide kami yang paling setia, tadi malam ketika kami bertiga makan mie rebus di warung dekat pasar si ibu pemilik warung dengan santai bertanya "lhoo mahyudinnya mana?" lalu ketika dalam perjalanan ke rumah mahyudin di Kampung Hulu segerombolan bapak yang sedang mengobrol di simpang menyapa kami dengan kalimat "mau kerumah Mahyudin yah? Dia kayanya di rumah mertuanya tuh" dan kami bertiga cuma bisa cengengesan ketika terdengar salah satu bapak bilang dengan nada guyon kepada temannya "mereka pasukannya Mahyudin tuh".

Si Mahyudin, orang satu ini memang jadi penghubung yang sangat bermanfaat. Dia punya link atau kelanan dari berbagai kalangan mulai dari birokrat kampung, pejabat kecamatan, pengurus dewan adat, pedagang kayu, nelayan dan lain sebagainya. Saya mendapat kesan bahwa dia mendapatkan semacam 'kesenangan aneh' dari kegiatan penelitian kami ini. Dia adalah tipe orang yang dengan sangat mudah mengoceh tentang berbagai informasi yang kadang memang kami butuhkan.

Malam ini maksud kami menemui Mahyudin adalah untuk membicarakan masalah angkutan yang akan kami tumpangi untuk ke Putusibau. Dia sedang berada di masjid besar, sedang memperbaiki lampu masjid. Di masjid sedang ada pengajian rutin Ramadhan,menemui fenomena yang sama seperti masjid-masjid lainnya di Nanga Bunut yaitu tidak ditemukan remaja laki-laki didalam pengajian atau kegiatan tadarusan. Tadarus sedang berlangsung, sebagian besar peserta tadarus adalah remaja usia SMP dan hanya dua orang yang usia SMA. Terlihat didalam kelompok pengajian istri si Mahyudin, sepertinya bertugas sebagai guru mengaji malam ini. Beberapa remaja putri yang sedang tidak mendapat giliran membaca qoran bergerombol di sekitar kue-kue kecil dan minuman yang sepertinya sisa pertemua masjid segera menyingkir dan bersikap kikuk (salah tingkah) ketika kami bertiga memasuki ruangan masjid. Dua diantara bereka kedapatan oleh saya sedang berbisik-bising sambil melirik-lirik kearah kami berdua. Masjid ini sangat dibangga-banggakan oleh masyarakat Nanga Bunut, terutama orang desa Bunut Tengah teringat pada suatu jumat sehabis sholat ada seorang bapak yang bilang "yah ini lah Bunut Tengah, derahnya kecil dan tidak ada apa-apanya. Cuma masjid ini yang kami banggakan". Begitu juga dengan seorang pak haji (saya lupa namanya) yang sedang tidur-tidur ayam kemudian bangun ketika melihat kami datang. Tanpa diminta beliau langsung memberikan tur singkat yang berisi fakta-fakta unik tentang masjid:

Hampir semua bagian asli masjid terbuat dari kayu belian

Bahan-bahan pembuat masjid terutama kayu adalah satu paket dengan bahan bangunan yang digunakan untuk membuat keraton melayu Pontianak. Sisa kayu untuk membuat masjid besar dibawa ke Pontianak dengan cara dihanyutkan di sungai untuk membangun keraton tersebut.

Setiap tonggak penyangga masjid melambangkan satu orang sahabat Nabi.

Tonggak masjid dari fondasi sampai kepada atap merupakan satu kesatuan kayu yang sama, tidak terputus.

Panjang bagian kayu yang di tanam didalam tanah adalah sepanjang +/- 2 meter dengan bagian bawahnya yang tidak diruncingkan (datar), fakta ini terungkap ketika melakukan renovasi, memperluas ruangan mimbar empat tiang Barat di geser kerah luar.

Pada awalnya bagian depan masjid menghadap ke arah barat, tapi ketika terjadi renovasi besar-besaran arah depan masjid dirubah kearah utara yaitu kearah laut. Bagian utara yang dulunya di pagar kemudian dibuat lapangan yang cukup besar sehingga bisa dimanfaatkan untuk melaksanakan sholat Ied.

Pak Haji dan bapak penjaga masjid sangat percaya dengan kisah-kisah hantu yang bergentayangan di sekitar masjid, dulu pada masa loging sering terjadi kecelakaan kerja yang yang berujung pada kematian para pekerja kayu (kebanyakan berasal dari Sambas) dari PT. Bumi Raya. Angka kecelakaan begitu tinggi, dalam satu bulan bisa terjadi sampai dua kematian, mayat-mayat ini dimandikan dan disholatkan di masjid besar.

Setelah dari masjid kami melanjutkan perjalanan kerumah Gebang, seorang staff kantor desa urusan pemerintahan yang juga pernah mengajar pada Madrasah Aliah Nanga Bunut. Tampaknya rumah gebang menjadi tempat berkumpul bagi para intelektual muda desa. Dirumah Gebang sudah hadir Iwan yang bekerja di PNPM konsultan ahli bidang pemberdayaan masyarakat, dia seorang sarjana teknik informatika tamatan UGM, lalu ada Untung seorang guru ekonomi Madrasah Aliah yang pernah kuliah di UNTAN dan ada Gebang sendiri yang menamatkan kuliahnya di STKIP jurusan pendidikan kewarganegaraan.

Pembicaraan bersama kami bersama para intelektual kampung ini berkisar seputar perjuangan mereka selepas kuliah bekerja dengan kondisi yang seba terbatas di Nanga Bunut. Gebang dan Untung adalah guru-guru perintis di Aliah, mereka menceritakan betapa kerasnya perjuangan untuk tetap mempertahankan Aliah. Pada masa itu hanya ada 4 orang guru yang mengajar semua mata pelajaran, satu kelas yang isinya terdiri dari 20 orang murid, keterbatasan sarana belajar seperti bangku, buku-buku pelajaran. Jika mereka berempat tidak bisa memenuhi sejumlah persyaratan dari DEPAG maka dengan sangat terpaksa Aliah akan di tutup. Salah satu syarat yang paling berat yaitu adalah memenuhi jumlah tenaga pengajar, hal ini diakali dengan mendatangkan para pengajar honorer dari desa-desa tetangga dan bahkan mereka juga mengizinkan beberapa tamatan SMA untuk mengajar.

My Visitors

mereka yang berkunjung


View My Stats