Kamis, 09 Desember 2010

Observasi awal ke Kampung Pontu (Rabu, 18 Agustus 2010)

kampung nelayan Pontu


menjemur ikan asin

Setelah sahur kami tidak melanjutkan tidur karena jam 6 kami sudah harus sampai di rumah Mahyudin, dia akan mengantarkan kami ke danau Siawan dengan speedboat nya. Fahri memberikan uang 500 ribu kepada Mahyudin untuk pengganti bensin dan sedikit tambahan atas jasanya menjadi supir kami ke Pontu. Tanpa menghitung uang atau bertanya jumlah uang kepada Fahri dia langsung mengantongi uang itu. Sedikit khawatir Fahri bertanya kepada Mahyudin apakah uang itu cukup? Dan dia pun bilang "ah.. cukup lah tu, aman lah".

Sehari sebelumnya ketika kami merencanakan perjalanan ini bersama dia memang bilang ke kami kalau dia tidak terlalu hafal jalan ke Pontu, apa lagi kalau lewat pintas-pintas (jalan pintas). Dia baru dua kali mengendarai boat sendiri kesana, biasanya bagi orang yang baru-baru mengingat kalan diperlukan simbol-simbol sperti kantong plastik yang digantung dipepohonan untuk menandai jalan. Karena itu hari ini dia membawa penunjuk jalan bernama Upik. Anak kelas 2 SMP, dia tinggal di dusun Perdah Bunut Hulu, seperti bisa membaca pikiran saya Mahyudin buru-buru menambahkan kalau Upik sudah biasa bolak balik Pontu Bunut sendirian.

Perjalanan ke pontu memakan waktu 3 jam dengan speedboat 30 pk dar Bunut. Dua kali kami harus berbalik arah karena Mahyudin terlambat membelokkan speed ketika Upik mengsintruksikan untuk berbelok. Saya heran bagaimana dia bisa mengingat semua jalan-jalan pintas sungai-singai kecil ini, bagi saya sungai-sungai dan hutan-hutan ini nyaris tidak bisa dikenali.

Kampung Pontu berada di sungai batang siawan, nelayan yang tinggal di kampung ini bekerja di kedua danau besar yaitu danau Pontu dan Danau Siawan. Ketika akan memasuki perkampungan pontu Mahyudin melambatkan speednya karena kalau melewati keramba dan lantung di sungai kecil seperti itu tetap dengan kecepatan maksimal akan menimbulkan gelombang yang cukup besar sehingga akan mersusak lanting-lanting dan keramba para penduduk. Beberapa orang ibu yang sedang mandi dan mencuci menyapa kami dengan bahasa hulu. Kami membalas dengan lambaian. Saya mengira awalnya perkampungan nelayan Pntu tidak seramai ini dan perumahan mereka pun tidak permanen, tapi sebagian besar rumah disini sudah permanen dibagun dengan ranggung yang terbuat dari kayu belian. Ada juga saya lihat sebuah surau.

Kami langsung menemui pak Pendi di lantingnya, ketika kami masuk dia sedang membetulkan jala di halaman lanting. Kemudian membawa kami duntuk duduk dirumahnya, sepertnya rumah ini juga sekaligus warung. Beberapa keperluan rumah tangga seperti detergent dan sabun mandi dipajang dietalase. Pendi tidak seperti laki-laki Bunut kebanyakan yang kulitnya coklat terbakar matahari, pendi agak terlalu 'putih' untuk ukuran nelayan. Mimik wajahnya selalu serius, berbicara dengan nada datar dan dingin, saya merasa tidak nyaman ketika melihat mata pak Pendi yang tajam. Tampaknya Mahyudin merasa sedikit tegang apabila berbicara dengan Pendi.

Entah kenapa Mahyudin selalu merasa memperkenalkan kami kepada orang-orang baru adalah tugasnya, padahal saya tadinya berencana mau membuka percakapan ini. Dia memperkenalkan kami kepada Pendi dalam bahasa Hulu, saya bisa menangkap beberpa inti pembicaraan itu yang pertama memperkenalkan kami, tujuan kami dan meminta izin jika nanti kami akan bermalam disini. Pendi menjawab dengan kalimat pendek-pendek yang intinya mendukung aktivitas kami bertiga. Setelah saya berkeliling melihat aktivitas warga yang di perkampungan, sebagian besar yang saya lihat adalah para perempuan kemana para pria? Menangkap ikan kah?

Saya mengunjungi tiga orang ibu yang sedang mengeluarkan ikan (lais) yang terperangkap jala, ada banyak sekali metode yang digunakan oleh warga pontu untuk menangkap ikan disekitar sungai Batang Siawan, danau Pontu dan danau Batang Siawan. Selain itu aktivitas lain yang saya lihat adalah membuat ikan asin dan keropok kering. Di halaman rumah mereka terlihat keropok-keropok setengah kering di jemur dan juga ikan asin yang dijemur diatas wadah bilah-bilah bambu. Salah satu dari tiga ibu tersebut sangat bersemangat ketika saya ajak ngobrol, bahkan menawarkan rumahnya ketika saya bilng kami ada rencana menginap di pontu. Lalu dia menyuruh saya untuk mebasuh muka di air sungai agar bisa 'berkenalan' dengan pontu, dipercaya jika orang baru berkunjung dia sebaiknya membasuh muka sebagai tanda perkenalan jika tidak mereka bisa sakit setelah balik dari Pontu.

Pontu tampak sudah menjadi kampung kecil, seperti kampung kecil yang mendukung kamung induk di Bunut. Saya menilai kampung ini bisa dikatakan permanen karena orang-orang disini disamping memiliki lanting atau rumah apung tetapi juga mempunyai rumah panggung permanen dibelakang lanting tersebut. Baru tau belakangan ternyata lanting tempat menambatkan speed boat adalah milik keluarga Upik. Ayah, ibu seta kakaknya tinggal di lating Pontu sedangkan ia karena masih bersekolah di SMP desa Bunut Hulu harus tetap tinggal di kampung. Rumah merekasebenarnya ada di kampung Hulu tapi karena takut tinggal sendirian dirumah kosong Upik memilih untuk tinggal di rumah neneknya di kampung Tengah (Bunut Tengah). Ayah dan ibu Upik asli orang Bunut Tengah. Upik dipercaya oleh ayahnya untuk mengantar dan menjemput barang-barang keperluan di Pontu, tak heran Upik sangat kenal jalan-jalan pintas sungai kecil sekalipun. Malah katanya dia sering melakukan perjalanan malam juga Pontu-Bunut.


Sejarah kerajaan Bunut (Senin, 16 agustus 2010)

keris raja
tongkat raja

Seperti biasa Mahyudin sangat antusias dengan segala kegiatan penelitian kami, sore ini sudah menunggu di halaman depan rumah pak Wim. Seperti yang ia janjikan kami akan dibawa bertemu dengan salah seorang ahli waris kerajaan bunut, pak Raden Sudarso namanya. Beliau tinggal di kampung Hilir (desa Bunut Hilir). Sebelum berangkat kerumah pak Su (panggilan pak Sudarso) Fahri dan Kukuh sempat berdiskusi cukup panjang mengenai masalah yang sebenarnya cukup sederhana menurut saya. Hari ini kami semestinya bertarawih di masjid Kampung Hilir bersama pak Wim, tapi karena janji dengan pak Su rencana Tarawih pun di batalkan. Permasalahannya adalah bagaimana cara mengatakan dengan halus kepada pak Wim sang kepala desa bahwa kami hari ini tidak akan ikut bertarawih dengan beliau. Apakah kami akan membagi kelompok: satu orang menemani pak Wim sholat di Hilir dan sisanya wawancara dengan Pak su atau solusi lainnya. Setelah berdebat cukup panjang belakangan diketahui bahwa pak Wim sudah berangkat tarawih sendirian. Dan pak Su setelah ditelpon pun tidak bisa ditemui langsung pada saat itu karena beliau ternyata bertarawih di masjid Hulu, masjid yang sama tempat pak Wim sholat. Alhasil karena kemalasan dan demi efisiensi waktu kami berempat (saya, Fahri, Kukuh dan bang Mahyudin) memutuskan untuk bertarawih di Surau terdekat dari rumah, surau yang bilangan rakaatnya paling sedikit.

Selesai tarawih kami berjalan kearah barat Nanga Bunut menuju kampung Hilir (masyarkat setempat biasa menyebut desa Bunut Hilir dengan Kampung Hilir saja)jalan menuju rumah pak Su berada tepat dibelakang kantor kecamatan, satu jalan dengan kantor KUA, puskesmas dan kantor korem (cek lagi). Sebelumnya kami belum pernah melewati daerah ini. Suasana sepi karena sedang hujan gerimis, tampaknya tidak ada yang berminat keluar atau sekedar duduk-duduk diberanda rumah pada cuaca seperti ini. Selama perjalanan menuju rumah pak su seperti biasa bang Mahyudin terusmengoceh memberikan informasi-informasi yang menurutnya perlu kami ketahui dengan gayanya yang humoris. Termasuk informasi kalau untuk mencium tangan pak Su jika kami bertemu dengan beliau.

Diberanda rumah pak Su ada ibu Dayang (istri pak Su) dan Deni, dia masih kerabat jau dengan pak Su. Belakangan di ketahui bahwa walaupun Deni masih berkerabat dengan Pak Su tapi dia belum pernah sekalipun diizinkan untuk melihat pusaka kerajaan. Dan setelah mengetahui dari Mahyudin bahwa kami semua akan dipertontonkan pusaka kerajaan oleh pak Su maka diapun sudah stand by di rumah

Pak Su sebelum kedatangan kami. Pak Su belum berada di rumah, lalu kami terlibat percakapan basa basi dengan Deni sementara bu Dayang bergegas ke dalam untuk membuatkan sepoci the hangat untuk kami.

Deni yang sekarang sudah semakin kelihatan rasa tidak sabar dan penasarannya berinisiatif untuk menelpon pak Su, terjadi percakapan dalam bahasa Hulu antara Deni dan pak Su. Dalam bahasa Hulu Mahyudin menanyakan apa yang di katakan pak Su kepada Deni didalam tepon. Lalu dia (Mahyudin) menerangkan kepada kami bertiga dalam bahasa Indonesia kalau pak Su sedikit lebih lama di masjid karena urusan pesantren anak nya yang bersekolah di Tsanawiyah.

Sedangkan apabila seorang laki-laki berdarah bangsawan menikah dengan perempuan biasa maka istrinya juga tidak akan mendapat gelar bangswan tapi anak-anak mereka akan menjadi bagian dari istana. Semua anak mereka akan mendapat gelar kebangsawanan.

Kerajaan bunut didirikan oleh tiga bersaudara yang berasal dari tanah jawa (jogjakarta), masing masing mereka bertekat untuk mendirikan sebuah negri yang sejahtera. Maka mereka bertiga berembuk untuk membagi daerah mana yang akan menjadi daerah kekuasaan mereka. Maka didapatlah sebuah kesepakatan Raden Setia Abang Berita mendapat bagian memerintah di Bunut, dua orang saudara nya yang lain memerintah di embaloh dan daerah kapuas. Sang kakak yang memerintah di Kapuas kemudia pulang ke tanah Jawa karena takut tidak ada yang akan memerintah kerajaan yang disana, maka ia menyerahkan tanah kerajaan yang di Kapuas kepada Abang berita untuk dipimpin. Maka bertambah luaslah wilayah kerajaan bunut. Akan tetapi kemudian hari didapat berita bahwa sudah ada yang melanjutkan pemerintahan kerajaan di tanah Jawa, walaupun begitu sang kakak terlanjur malu untuk kembali ke Kalimantan untuk meminta kembali kerajaan kapuas yang telah diserahkan kepada sang adik Abang Berita. Kerajaan ini diresmikan pleh pemeritah kolonial Belanda pada tahun 1877 didalam Surat asisten residen Sintang nomor 91 tahun 1877 pada tanggal 19 januari 1877. Namun sebenarnya kerjaan ini sudah berdiri 62 tahun sebelum disahkan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Kampung pemukiman pertama di negri bunut adalah bernama kampung Palin, diawal pendudukan Abang Berita melakukan ekspansi dan pendudukan di tanah Kalimantan dia menaklukkan bangsa Dayak yang pada saat itu masih menganut animisme. Rakyat negri bunut pada awal kerajaan terbentuk sangat sedikit, tidak lebih dari 100 orang. Kebanyakan diantara mereka adalah Dayak, kemungkinan mereka kemudian masuk Islam dengan cara kawin dengan pasukan (tentara) tiga orang Raja yang datang dari tanah Jawa ini.

Pada saat sekarang mereka mereka mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Melayu Bunut, menarik bahwa sebagai sebuah kerajaan yang dibentuk dari hasil penaklukkan bangsa Jawa kebudayaan mereka sangat kental dengan unsur Melayu Sumatra. Hal ini terlihat sangat jelas dari bahasa yang mereka dunakan (bahasa Melayu Hulu atau sering disebut sebagai bahasa Hulu saja), banyak ragam kosakata yang sangat dekat bunyinya dengan kosakata bahasa melayu sumatra (Riau, Sumbar dan sekitarnya) seperti cara pemanggilan didalam keluarga (atok, inik, ayi, mamak, abang, kakak, mak ngah, angko dan lain sebagainya). Beberapa kesenian tradisional yang diaku sebagai milik mereka seperti tari zapin, alat-alat musik. Arsitektur bangunan yang sangat mirip dengan arsitektur melayu riau, lalu hal ini juga terlihat pada motif2 kerajinan kerajaan (pada payung raja, pada tenunan kain raja dan lain sebagainya). Tapi walaupun begitu pengaruh dayak dan jawa juga terlihat, beberapa kata dalam bahasa hulu memuliki bunyi dan dan makna yang sama dengan kata dalam bahasa dayak kantuk. Pengaruh jawa terlihat dari gelar2 gelar kerajaan seperti raden, gusti , ratu pangeran dan lain sebagainya. Satu peninggalan kerajaan yang sangat bercirikan jawa adalah keris Raja. Menurut pak raden Sudarso keris ini pernah diminta kembali oleh keraton Jogja karta tapi demi menjaga amanah leluhur beliau menolak untuk mengembalikan keris ini.

Pak Su menjawab pertanyaan-pertanyaan kami dengan dengan nada yang lembut, perlahan dengan artikulasi yang sangat jelas dia menekankan kata-kata yang dianggapnya penting, kata-kata yang keluar dari mulitnya tertata rapi secara umum saya menilai pak Su berusaha untuk tampil seformal mungkin didepan kami. Bahkan ketika Mahyudin memancingnya berkelakar dalam bahasa hulu dia terkesan tidak terlalu mengapresiasi kelakar Mahyudin. Hal ini juga terlihat dari bahasa tubuh pak Su, dia menunjukkan arah dengan menggunakan ibu jari kanan. Hal ini tidak bias di bagi orang bunut. Saya tidak bisa menilai apakah semua bangsawan kerajaan Bunut seperti ini atau tidak.

Walaupun pak Su tidak mengetahui dengan pasti sampai seberapa luas wilayah kekuasaan bunut, saya mengira cukup luas karena Jongkong dan embaloh juga masuk wilayah kerajaan. Dan yang pasti adalah menurut pak Su danau Siawan dan Pontu masuk kedalam wilayah kekuasaan kerajaan Bunut. Ada tradisi yang masa kerajaan yang masih dilakukan masyarakat samapi sekarang, pada masa kerajaan raja membuat peraturan agar tidak membuang kepala ikan biawan kedalam sungai tapi harus dibuang ke daratan. Karena dipercaya belatung dari kepala-kepala ikan yang membusuk ini akan menjadi lebah.

Beberapa benda pusaka kerajaan yang ada disimpan oleh pak Su adalah :

Tongkat kerajaan, tongkat ini terbuat dari kayu belian bagian ujung yang menjadi pegangan terbuat dari tulang. Menurut pak Su tongkat ini sudah dimiliki oleh keluarganya selama empat generasi. Ketika dipegang oleh kakeknya tongkat ini mengeluarkan bau harum. Ketika seseorang mengukur tongkat ini dengan jengkal maka ketika dia mengukur untuk yang kedua kalinya hasilnya tidak akan pernah sama. Jika jari kelingking seseorang berada tepat di ujung tongkat ketika jengkalan yang kedua dia diramalkan bisa menjadi seorang pemimpin, menurut pak Su selama tongkat ini dia pegang hanya ada tiga orang yang mengukur tongkat dengan pas yaitu bupati dan wakil bupati Kapuas Hulu sekarang dan mantan Bupati Kapuas Hulu dari periode sebelumnya.

Gentong keramat yang terbuat dari tanah liat, gentong keramat ini menurut pak Su bisa berpindah tempat. Karena gentong ini terus mengikutinya ketika terus mengikutinya ketika pindah rumah dia memukul mulut gentong dengan palu. Setelah itu gentong keramat tidak bisa lagi berpindah tempat secara gaib, tapi semenjak pemukulan mulut gentong oleh pak Su beliau arwah penghuni gentong marah dan menghatui pak Su. Setelah minta maaf baru makhluk halus penunggu gentong ini tenang dan tidak mengganggu lagi. Ada satu pantangan ketika melihat gentong, dilarang melihat bagian dalam gentong karena akan mengakibatkan orang yang melihat tersebut kerasukan yang tidak bisa disembuhkan.

Keris raja. Dilihat dari fisik keris ini tidak ada nuansa melayu sedikit pun sepengetahuan saya keris ini sangat mirip sekali dengan keris Jawa. Menurut pak su keris ini dibawa oleh raja dari tanah Jawa. Menurut pak Su keris ini bisa mendatangkan hujan, beliau mmbisikkan doa sambil menempelkan keris tersebut dikeningnya sebelum mencabut keris dari sarangnya. Dan 10 menit kemudian terjadi hujan lebat, dan ajaibnya beberapa saat setelah keris dimasukkan kembali kedalam sarungnya hujan kembali mereda digantikan oleh rintik-rintik kecil.

Selama kunjungan kerumah pak Su hanya tongkat dan keris yang dia tunjukkan kepada kami, menurut Mahyudin kami termasuk orang yang beruntung dapat melihat benda-benda kerajaan ini. Karena kami berkunjung pada malam hari jadi jadi agak kurang pantas untuk mengeluarkan semua benda-benda kerajaan.

Sejarah pemekaran desa-desa di kecamatan Bunut (Senin, 16 Agustus 2010) Hilir

kantor camat Bunut Hilir

Informasi ini dikumpulkan dari diskusi bersama Sekretaris kecamatan Bunut Hilir dan Kasi Pemerintahan pak Abang Mabruk pada hari Senin tanggal 16 Agustus 2010 pukul 09.15 di kantor camat Bunut Hilir. Perjalan ke kantor camat Bunut Hilir menempuh waktu 5 menit dengan jalan kaki dari rumah Pak Wim. Pagi itu saya berangkat dengan tanggui baru saya. Memakai tanggui membuat saya berjalan lebih pd menyusuri jalan-jalan gertak Nanga Bunut, tanpa perasaan diledek, tanpa perasaan aneh yang mungkin akan saya rasakan ketika memakai topi tradisional ini ketika berjalan di kampus. Bahkan di perjalanan ada ibu-ibu yang memuji "duh.. bagus sekali tangguinya". Di Bunut tanggui benar-benar menjadi aksesori segala umur yang bisa dipakai disegala musim, ukurannya yang lebar melindungi pemakainya dari terik matahari dan hujan.

Cerah dengan sinar matahari berlimpah. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda bahwa sejak dua hari yang lalu Nanga Bunut diguyur hujan terus menerus, hanya dari ketinggian air yang sekarang sudah melewati setengah tinggi gertak lah orang-orang akan tau seberapa hebatnya hujan dua hari ini. Ketika sudah mendekati kantor camat tepatnya di gedung aula tua yang belakangan saya ketahui adalah bekas sebuah sekolah Tionghoa Tiong Hoa Chung Hui tampak beberapa aparat pemerintahan berseragam dinas, polisi, TNI AD dan beberapa orang lainnya yang berpakaian rapi dalam batik dan safari. Saya melongok sedikit lebih jauh lagi kedalam gedung tersebut dan melihat siswa SMA berpakaian PRAMUKA lengkap sedang berbaris. Aah ya, saya baru sadar kalau besok akan diadakan upacara bendera. Teringat kalau pak Wim bilang upacara di lapangan dibatalkan karena lapangannya acap, dari dua hari yang lalu hujan terus menerus. Dan pagi ini di alula inilah upacara di persiapkan.

Dihalaman kantor camat saya melihat Pak Rustam (Sekretaris Camat yang sekaligus juga menjabat sebagai ketua Majelis Adat Melayu kecamatan Bunut Hulu) sedang bercakap-cakap dengan beberapa orang PNS berpakaian dinas yang kemungkinan besar juga staff kecamatan Bunut Hilir. Sedikit minder dan canggung saya melirik diri saya yang hanya berpakaian T-shirt dan celana pendek plus sandal gunung sementara semua orang berpakaian formal dan rapi. Saya menyapa Pak Rustam dengan "selamat pagi pak" sambil bersalaman dengan beliau, jawabannya hangat, tegas dan sangat formal. Sangat berbeda dengan Pak Rustam yang biasa kami ajak ngorol dirumahnya ketika sedang memberi makan ikan di kolam setiap sore. Satu hal yang sama adalah karakter beliau yang tegas sehingga memberikan kesan seperti karakter seorang birokrat yang disiplin. Sebelumnya saya memang sudah membuat janji untuk yah.. Sebutlah 'wawancara' ini dengan beliau dan Pak Mabruk. Seperti biasa kalimat pembuka yang hampir selalu saya gunakan ketika membuka obrolan adalah "lagi sibuk apa nih sekarang pak?" .. "kok ramai sekali kelihatannya.." dan seterusnya…. Jawaban dari beliau berupa kalimat-kalimat singkat dan sangat formal. Karena sudah mengetahui tujuan saya beliau langsung mempersilahkan saya masuk ke ruangan Pak Mabruk dan mengatakan kepada saya bahwa dirinya akan segera bergabung.

Pak Mabruk sepertinya sedang sibuk dengan lembaran-lembaran dokumen yang sedang dibolak-baliknya tapi langsung mangabaikannya diatas meja dan buru-buru membalas salam saya ketika saya menyodorkan tangan untuk berjabat tangan. Semua papan petunjuk fasiltas umum keempat desa sekitar pusat kecamatan Bunut Hilir (desa Bunut Hilir, Bunut Tengah, Bunut Hulu, dan Ujung Pandang ) seperti puskesmas, masjid dan sekolah menuliskan kata Nanga Bunut, saya heran kenapa mereka tidak menuliskan kecamatan Bunut Hilir saja? Kenapa begitu pak? Nanga berarti muara atau pertemuan dua sungai. Jadi Nanga Bunut mengacu kepada empat desa yaitu desa desa Bunut Hilir, Bunut Tengah, Bunut Hulu, dan Ujung Pandang yang terletak disekitar muara sungai Bunut dan Kapuas.

"ya jadi empat desa itulah yang kota Nanga Bunut"

"Ibu kota kecamatan Bunut Hilir, makanya satu paket disebut Nanga Bunut"

Lalu tentang sengketa wilayah desa Bunut Hulu dengan desa Nanga Tuan pak Mabruk membenarkan memang pernah tejadi, kecamatan pernah memfasilitasi tapi walaupun belum menemukan titik terangnya oleh kedua fihak masalah ini terkesan dibiarkan mengendap saja. Ketika saya bertanya tentang batas wilayah yang pasti dari desa Bunut Tengah dan Bunut Hulu beliau menjawab dengan jawaban yang serba tidak pasti dan sangat berhati-hati.

"kalau tentang batas-batas wilayah agak susah saya bicaranya yah.."

"masih kurang jelas.. "

"ada sih peta, tapi peta lama sebelum pemekaran. Pemerintah dengan departemen yang terkait belum ada membantu kami untuk memetakan dengan jelas setiap wilayah desa ini."

Sedikit gugup melanjutkan,

"seharusnya, departemen pertanahan, atau badan apalah dari pemerintahan yang ahli dalam masalah peta-peta ini membatu.. Jadi perpedoman kepada peta lama ja' dulu"

"Boleh saya lihat petanya pak?" saya belum berani menggunakan kata 'minta' terlalu riskan takut terlalu lancang dan akhirnya kehilangan data yang berharga ini jadi saya memberikan kesan kalau hanya mau melihat-lihat petanya saja dulu.

"iya..iya boleh"

Pak Mabruk membuka laptopnya dan secara sekilas saya melihat peta yang cukup lengkap dari ke delapan desa kecamatan Bunut Hilir. Saya memperlihatkan ekspresi sangat tertarik dan ingin mempelajari lebih dalam lagi wilayah Bunut Hilir lalu memberanikan diri untuk meminta peta-peta tersebut. Dan berhasil.

"mmhh… boleh saya copy petanya pak?"

Dan buru-buru menjawab,

"iya..iya boleh, di copy nak apa"

Namun ekspresi yang saya tangkap dari jawaban ini, lebih kepada perasaan tidak mau terus direcoki oleh pertanyaan-pertanyaan terus-menerus tentang desa dan batas desa.

Tentang perkembangan dan sejarah pemekaran desa-desa di kecamatan Bunut Hilir terutama desa Bunut Tengah dan Bunut Hulu. Pak mabruk memberikan jawaban dengan sangat berhati, seakan memperhitungkan setiap konsekuensi yang akan diterimanya dari memberikan jawaban. Hal ini terlihat dari dia selalu berusaha mengacu jawabannya kepada dokumen-dokumen tertulis yang sudah dipersiapkannya di lemari kerjanya. Setiap saya menanyakan pertanyaan yang agak detil seperti, "jadi desa yang sekarang ini pemekaran yang keberapa pak?" atau "ketika dusun-dusun mana yang menjadi desa sendiri ketika terjad pemekaran tahun 1996?" beliau kembali cepat-cepat mengecek di lembaran-lembaran dokumen diatas mejanya.

Beberapa poin yang dapat saya simpulkan dari diskusi mengenai perkembangan desa-desa adalah,

Paling tidak sejak tahun 1986 sudah terjadi tiga kali pemekaran desa di kecamatan Bunut Hilir. Pada tahun 1986 desa-desa di kecamatan Bunut Hilir adalah:

Bunut Hilir

Bunut Hulu

Teluk Aur

Nanga Tuan

Nanga Boyan

Lalu terjadi pemekaran lagi menjadi:

Bunut Hilir

Bunut Hulu

Teluk Aur

Nanga Tuan

Nanga Boyan

Ujung Pandang

Pemekaran terakhir:

Bunut Hulu (terdiri dari dusun: Kupan dan Dilaga)

Bunut Hulu (Perdah dan Kuala Bunut)

Teluk Aur (Puring, Jaung 1 dan Jaung 2)

Nanga Tuan (Siawan, Tanjung Entibab dan Kuala Buin)

Empangau (Embaloh Hulu dan Embaloh Hilir)

Ujung Pandang (Kubu, Tanjung Kapuas dan Ujung Pandang Kapuas)

Tembang (Tanjung Bunga dan Beringin)

Bunut Tengah (Baiturrahmah dan Karya Bhakti)

Ditengah diskusi mengenai desa Pak Wim yang kebetulan sedang berada di kantor kecamatan bergabung bersama kami. Beliau berpakaian dinas Linmas, sepertinya juga barusaja mengikuti gladiresik upacara bendera.

Lalu tentang persyaratan pemekaran desa pak Mabruk sepertinya juga tidak terlalu ingat pada undang-undang nomor berapa hal ini diatur, yang jelas menurut pak Mabruk ada dua pasal yang menyatakan apabila sebuah dusun jika jumlah penduduknya sudah lebih dari 750 jiwa dan dusun tersebut mempunyai potensi (terutama potensi alam) dia dapat dimekarkan menjadi sebuah desa. Tapi pak Wim tampaknya kurang setuju dengan implementasi dari undang-undang ini, karena ada beberapa dusun yang belum memenuhi dua persyaratan ini dan khirnya menjadi dusun tertinggal.

Lalu saya bertanya kepada kepada pak Mabruk mengenai ada tidaknya intervensi pemerintahan kecamatan dalam pengelolaan hutan, apakah ada peraturan dari kecamatan yang dalam mengelola hutan dan danau?

"kalau itu aturan-aturan umum dari departemen kehutaan ja', kecamatan tidak secara khusus membuat peraturan unutuk hutan dan danau"

Kalau aturan lain ada tidak pak? Sebenarnya saya sudah tau bahwa ada peraturan danau dan peraturan adat yang berkaitan dengan hutan. Pertanyaan ini hanya bermaksud untuk mengeksplorasi lebih dalam.

"Ooh ada itu peraturan danau, ketua danau yang buat.. Tapi yang saya percaya tidak ada satupun peraturan danau yang bertentangan dengan peraturan pemerintah "

Klenteng Nanga Bunut (16 Agustus 2010)

kuburan Cina
agak suram yah hihi..
ini altar apa yah??
dewa utama yang ditengah itu Hok tek cheng sin
ada yang bisa baca kanjinya??


Klenteng ini memang tidak berada di dalam wilayah penelitian tapi saya rasa eksistensi dan keberadaan orang Tionghoa di Nanga Bunut juga berkaitan dengan sejarah desa dan sejarah perekonomian desa pada masa awal kemerdekaan, dimana pada masa itu komunitas Tionghoa di Bunut masih banyak jumlah anggotanya. Setelah adanya longsor di Kampung Hilir da gejolah ekonomi pada tahun 1999 banyak diantara mereka yang keluar kampung (Peputusibau, Pontianak bahkan Jakarta).Dulu dalam rantai perdagangan karet mereka memegang pernan penting.

Berdasarkan keterangan dari pak Jafri (kades Bunut Tengah) hanya satu keluarga Tionghoa beragama Kristen yang tinggal di kampung Tengah. Selebihnya komunitas Tionghoa tinggal di Kampung Hilir.

Dari Observasi saya disekitar pasar kebanyakan mereka (orang Tionghoa) punya usaha toko kelontong yang menjual kebutuhan sehari-hari selain itu ada juga yang berprofesi sebagai tukang jahit, kios Hp. Diperkirakan generasi pertama orang Tionghoa bekerja di bidang pertenian dan perkebunan Pak Wim pernah cerita kalau dia membeli lahan kebunnya sekarang dari Orang Cina hal ini sejalan dengan cerita pak Rustam yang mengatakan bahwa orang Tionghoa sudah ada di Bunut bahkan ajuh sebelum masa penjajahan Jepang, dia memprediksi Tinongoa sekarang adalah generasi ketiga.

Hari ini saya dari obrolan saya dengan pemilik toko kelontong di pasar saya mendapat informasi bahwa Tionghoa yang bermukim di Bunut adalah berasal dari suku Khek atau lebih di kenal dengan Hakka. Agama yang merka anut cukup beragam (Kristen, Katolik dan juga Konghucu). Ketika saya di Putusibau juga sempat mengobrol di Klenteng tengtang komunitas Tionghoa di Kapuas Hulu, menurut bapak penjaga klenteng Putusibau kebanyakan disini orang Hakka tidak seperti di Pontianak yang lebih banyak orang Teochew. Saya menanyakan lembaga sosial atau perkumpulan sosial yang biasanya dimiliki pleh orang tionghoa di setiap daerah. Si bapak penjaga toko sedikit bingung dengan pertanyaan saya dan menjawab,

"maksudnya semacam yayasan begitu?"

"iya pak ada yayasan atau paguyuban orang Hakka tidak?"

Paguyuban yang saya maksud baru dibuat beberapa waktu lalu bahkan belum diberi nama, si bapak penjaga toko memnyebutkan nama seorang sesepuh Tionghoa tempat bertanya kalau saya ingin menelusuri lebih dalam sejarah dan kebudayaan Tionghoa. Dia juga memberitahu saya kalau di Kampung ini juga ada rumah pekong (kleteng). Setelah ini saya langsung berjalan menuju rumah pekong yang dimaksud, berada tidak jauh dari pasar dan bersebelahan dengan gereja Katolik Santo Petrus.

Jika melihat sekilas dari luar orang tidak akan menyangka bangunan yang ada dibalik pagar kayu bercat merah kusam itu adalah sebuah klenteng, benar-benar terlihat kusam dan suram dari luar. Tinggi pagar kayu kleteng kira-kira 180 senti, pintunya tertutup tapi untungnya tidak terkunci. Bagian dalam lebi suram lagi, belum pernah saya lihat klenteng se kusam ini selama ini klenteng yang saya temui selalu berwarna berah pekat dan ceria. Sama sekali tidak ada aksara latin di klenteng ini, semuanya ditulis dalam kanji, hanya satu yang saya ingat yaitu kanji miau (mandarin) atau bio dalam bahasa Hokian yang artinya adalah tempat ibadah. Saya mengenali Dewa tuang rumh atau Dewa utama yang dipuja di klenteng ini dari ciri-ciri fisik dewa yang dipersonifikasikan pada patungnya. Dugaan saya dia adalah Hok Tek Cheng Sin (Hokian) atau Fu De Ching Sin dalam bahasa Mandarin, hal ini dapat dilihat dari ciri-ciri patungnya: laki-laki tua berjenggot panjang, memakai baju bangsawan kerajaan Tiongkok, dan memegang uang logam kuno tiongkok di tangan kanannya. Dewa ini adalah dewa Bumi yang mengatur kesuburan tanah, kalender musim, curah hujan dan sebagainya. Dia biasanya dia dipuja oleh para petani dan pedagang.

Ada dua patung Hok Tek Cheng Sin di altar utama yang satu sepertinya lebih tua usianya, hal ini biasa ditemukan diklenteng-klenteng. Biasanya patung yang paling tua adalah patung yang dibawa oleh orang-orang gnerasi pertama yang mendirikan klenteng dan patung-patung tambahan adalah sumbangan dari warga yang sudah tidak dapat menyembahyanginya lagi (karena alasan pidah rumah). Selain di altar utama terdapat tiga hio lo (tempat membakar hio/dupa), dua botol minyak sembahyang yang sudah kosong tergeletak diantara abu-abu dupa bekas sembahyang yang sepertinya sudah lama tidak dibersihkan. Dialtar Tuhan ada lebih banyak hio lo sekitar lima buah hio lo yang terbuat dari kuningan dijejerkan rapi secara simetris, dua buah tempat lilin, dua buah cawan persembahan untuk memberi persembahan arak kepada Dewa. Seperti halnya altar Dewa altar Tuhan pun dipenuhi oleh abu-abu sisa sembahyang. Didinding kanan klenteng arah ke depat pintu masuk ada meja kecil tempat meletakkan perlengkapan sembahnyang seperti lilin, hio dan kertas doa dan tampaknya persediaan mereka akan perlengkapan sembahyang di kleteng ini sudah mulai menipis. Di meja ini juga ada sebuah kotak amal berwarna merah.

Saya tidak melihat gambar Dewa pintu di kanan dan kiri pintu kleteng, mungkin gambarnya digantikan oleh dua baris kanji yang tidak saya baca ini. dihalaman sebelah kiri klenteng terdapat satu altar lagi, tidak jelas juga ini altar dewa apa karena semuanya ditulis dalam kanji sedankan disebelah kanannya terdapat tempat membakar kertas doa (kim chua dalam bahasa Hokian)

Diluar pagar kleteng tepatnya desebelah kiri klenteng terdapat kuburan Tinonghoa, ada berbagai bentuk yang saya lihat. Tapi kebanyakan sih nisannya terbuat dari papan kayu segi empat ada beberapa makam yang sangat bercirikan budaya Tionghoa yang disebut dengan bong pay (Hokian). Kalau di Padang banyak orang Tionghoa yang memilih dikremasi atau dimakamkan dengan makam biasa yang sederhana dengan alasan membuat bong pai susah, konstruksinya rumit dan juga banyak memakan tempat, apakah orang Tionghoa buntu juga merasakan hal yang sama?

Nelayan danau Termabas (Minggu, 15 Agustus 2010)


lantingnya bu Noor


ini Gelok, kucingnya bu Noor


Ibu Nor adalah penduduk desa Bunut Hulu. Saya yakin sebenarnya beliau baru berumur 30an, tapi penampilan fisiknya yang tidak terawat membuat dia tampak seperti 10 tahun lebih tua dari usaia aslinya. Perawakannya kurus tapi tegap, kulitnya kusam dan hitam terbakar matahari saya membayangkan dia pasti wanita yang tangguh. Tidak mudah untuk hidup terisolir ditengah danau jauh dari kampung Bunut yang nyaman, tidak ada gunanya juga menurut bu Noor untuk terlalu merawat tubuh. Dia mengenakan baju kumal yang sama ketika saya melakukan observasi pertama kali ke danau ini dua hari yang lalu. Tapi saya melihat semangat dan kegigihan dalam nada bicara bu Noor dia bilang bahwa

"kalau ndak ada keramba susah hidup, mau tetap di kampung juga serba susah"

"kalau ada usaha keramba kita bisa tabung buat rumah, buat beli emas"


Ibu Noor dan suaminya pak Buyung sudah punya rumah sendiri di Bunut Hulu, sedangkan orang tua mereka yang juga orang bunut tinggal di dusun perdah (arah ke pantai). Mereka menikah sejak tahun 2005 dan belum dikaruniai anak sampai sekarang. Mereka mendapatkan bantuan kanting ini dari pemerintah tahun 2006 lalu, lanting proyek percontohan ini dibawa melalui sungai dari Putusibau. Sampai saat ini keramba ibu Noor sudah panen tiga atau empat kali. Setelah pemerintah merasa ada keerhasilan pada ibu Noor mereka sekarang membuat keramba dan lanting kedua yang berada disebelah lanting ibu Noor. Menurut saya cukup lama juga jaraknya pembangunan lanting kedua dan ketiga ini. saya lupa menanyakan lebih lanjut tentang apa saja syarat untk mendapatkan lanting ini, apa saja yang mesti dipenuhi. Lanting dan keramba ini diberikan lengkap dengan bibit secukupnya untuk sekali panen pakan yang diberikan juga secukupnya. Setelah itu nelayan yang dibantu harus melanjutkan sendiri setelah itu. Karena mereka merasa masih bisa menambah beberapa keramba lain mereka kemudian membuat tambahan keramba lain disamping kerambayang di berikan oleh pemerintah sesekitar lanting. Selain itu mereka juga membudidayakan toman didalam kurung, awalnya yang dimaksud dengan kurung adalah sma dengan keramba. Tapi ternyata kurung adalah krungan ikan atau kandang ikan yang dibuat dari kayu. Kurung ini tertutup sepenuhnya, jadi tidak perlu khawatir dengan binatang pemangsa yang akan memakan ikan.


Pada observasi pertama ke Tramabas saya kira dia adalah istri dari ketua danau dan baru tau kemudin ternyata suaminya pak Buyung bukanlah ketua danau. Saya berharap pada kunjungan kedua ini bisa mendapatkan informasi yang lebih dari pak Buyung tentang pengelolaan lanting dan aktivitas ekonomi yang dilakukan di danau tapi sayangnya kara bu Nor suaminya sedang memukat burung kedalam hutan. Saya melanjutkan mengobrol mengenai bagai mana awalnya dia dan suami mendapatkan lanting ini.

Mengupahkan kepada orang untuk tinggal dilanting merupakan pilihan terakhir bagi nelayan. Ibu Nor ketika saya tanya kenapa tidak dipahkan saja buk kepada orang lain, beliau menjawab hampir tidak ada orang yang pakai cara upah-upah dalam mengelola keramba ini karena investasi mereka yang bernilai jutaan rupiah berada di keramba ini tidak mungkin dipercayakan kepada orang lain. Memelihara ikan didalam keramba bisa saya lihat sebagai penghasilan utama mereka, sekali panen mereka bisa mendapat untung sampai jutaan rupiah. Walaupun begitu untung yang besar ini mereka jadikan investasi atau tabungan untuk keperluan yang lebih besar seperti membeli rumah, biaya anak sekolah atau tabungan. Jadi diantara peternak keramba tidak mengenal sistem upahan dalam mengelola keramba, semua barang keperluan selama didanau dibeli didanau dua atau tiga kali sebulan ke Bunut. Semua yang mereka perlukan sudah mereka stok didanau jadi hanya perlu ke kampung desa (Bunut Hulu) dua sampai tiga kali seminggu. Bahkan dilanting mereka ini juga ada satu ekor ayam kampung jantan yang diikatkan di lanting belakang dekat dengan keramba. Saya membayang kan kenapa memelihara ayam ditengah danau begini, toh juga tidak menghasilkan telur. Lalu ada juga seekor kucing jantan berwarna putih di lanting ini, namanya Gelok. Menurut bu Noor Gelok sudah menemaninya dan suami sejak pertama kali mereka tinggal di lanting, dia (Gelok) dibawa sejak dari bayi ke lanting. Sejak itu gelok tidak pernah menginjak daratan lagi. Kucing yang malang. Tapi walupun begitu kucing ini sangat disayangi oleh pasangan ini.

IbuNoor mempunyai dua lanting, yang pertama adalah lanting yang didapat dari bantuan pemerintah (satu paket ketika juga dengan keramba) disini tempat dia bersama suami tidur dan meletakkan pakaian lanting. Lanting ini masih tergolong baru, dicat putih dan pada sisi sebelah lanting tergantung papan yang menunjukka lanting dan keramba ini adalah bantuan dan proyek percontohan yang diberikan oleh Dinas Perikanan Kab. Kapuas Hulu. Lanting yang kedua terletak kearah darat atau dibelakang lanting yang pertama. Dilihat dari bentuk fisik lanting ini yang tidak serapi lanting pertama dan juga disesuaikan dengan kebutuhan mereka didanau lanting ini sepertinya dibuat sendiri oleh ibu Noor dan suaminya. Lanting ini difungsikan selabagi dapur, tempat menyimpan bahan makanan.

Tak lama kemudia pak Buyung datang dengan sampan motor 3 pk nya, baru balik dari memukat burung. Sebelum pak Buyung dari perahunya bu Noor berbicara dengan suaminya dengan bahasa hulu dalam tempo yang sangat cepat hanya beberapa kata yang saya mengerti, kalau tidak terjemahan saya tidak salah dia memberi tahu kalau

pak Wim membawa tiga anak ini, mau lihat-lihat keramba. Pak Wim juga membeli toman-toman mereka.

Bu Noor memanggil pak Wim dengan panggilan Unggal yang berasal dari kata tunggal, karena pak Wim adalah anak tunggal di keluarga. Dia di keluarga di panggil unggal dan orang-orang satu kampung juga memanggil pak Wim dengan panggilan unggal.

Saya menyalami pak Buyung, beliau berperawakan tegap, berotot kulit gosong terbakar matahari. Saya memprediksi umurnya tidak lewat dari 40 tahun. Di katakan oleh pak Buyung bahwa aktivitas mereka yang utama di lanting adalah memelihara ikan-ikan di keramba dan kurung. Pemliharaan ini mencakup memasang bubu dan jermal disungai-sungai pada bagi hari dan kemudia mengambilnya juga di pagi hari keesokan harinya. Ikan-ikan yang didapat dengan bubu ini digunakan untuk pakan ikan yang didalam keramba dan kurung. Jika ada ikan yang cukup besar yang didapat dengan bubu dan jermal akan dimakan untuk lauk sehari-hari. Ikan yang didapat dari jermal dan bubu ini jumlahnya biasanya sampai lebih dari seratus kilo tapi jumlah ini hanya cukup untuk satu sehari saja (satu kali makan), patin yang dipelihara didalam dia keramba dalam sekali makan bisa sampai 30 kilo, toman biasanya makan paling banyak bisa sampai 50 sampai 60 kilo dan gurame tergolong sedikit dalam makan karena juga dikasih makan buah, semacam buah-buahan ikan dan biasanya ibu Noor yang mencari buah ini kedalam hutan.

Selain itu pak Buyung juga memukat ikan di sungai-sungai sekitar danau Tramabas, hasil yang dari memukat ini dijual ke desa dan uangnya akan di pergunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Disela-sela keiatan itu pak Buyung menangkap burung hijau di hutan, Hari ini pak Buyung tidak beruntung karena pukatnya hanya menjerat satu ekor burung dan itupun juga tidak menghasilkan karena burung yang terjerat mati. Dia melepaskan bangkai burung itu dari jeratnya, menurutnya ini karena kesalahan dalam pemasangan pukat. Apabila pukat burung yang terbuat dari benang-benang halus ini tidak benar maka begini lah hasilnya. Biasanya akan mendapatkan lebih banyak burung ketika musim buah, pak Buyung harus memanjat pohon cukup tinggi untuk memasang pukat. Burung ini biasa di jual ke orang di Bunut seharga 120 ribu. Salah satu orang Bunut Hulu yang berlangganan membeli burung hasil tangkapan pak Buyung adalah bang Suha tetangga sebelah rumah pak Wim. Dari Suha akan dijual pada pengumpul berikutnya kepada orang di Putusibau seharga 180 ribu dan selanjutnya dari pengumpul di Putusibau ini burung akan dijual ke toko burung seharga 250 ribu. Biasanya di toko burung akan di pelihara dulu sampai beberapa saat untuk memulihkan tenaganya sebelum dijual ke pembeli, mungkin sampai di toko burung akan harganya menjadi 300 sampai 350 kata pak Buyung.

Kamis, 02 Desember 2010

Sore-sore di Putusibau

9 Nopember 2010

Beberapa hari ini terkurung di penginapan, sepanjang hari bercinta dengan jurnal, laporan etnografi, trip repport dan sebagainya membuat kami sangat membutuhkan udara segar agar tetap waras di hari2 yang penuh tekanan *lebay verssion*

Jadi kemaren sore saya dan Rieke lari sore kearah GOR Uncak Kapuas, tidak sampai gor sih jadinya karena lebih tepatnya aktivitas yang kami lakukan bukan lari sore tapi jalan santai sore. Karena larinya sebentar tapi berenti liat kios majalan dan berenti lagi liat kios DVD dan MP3 haha… kalau ditotal mungkin kalori yang terbakar hanya setengah dari aktivitas lari beneran :)

Tapi keluar disore hari yang cerah benar2 memberikan efek yang positif bagi mood saya sepanjang malam, rasanya melihat berbagai aktivitas kehidupan sore hari membuat kota kecil ini beberapa kali lipat menjadi lebih menarik.

Di depan bank Kalbar kami melihat gladiresik upacara peresmian bank tersebut, anak-anak remaja kota Putusibau yang sepertinya berada dibawah binaan sanggar seni sedang latihan tari. Sumpah deh kalo latihannya aja keren gini gimana mereka pas tampil di hari H yah. Jadi ada tiga kesenian yang dikompinasikan jadi satu didalam performa mereka ini, yang pertama adalah kesenian barongsai, kesenian tari dayak dan tari melayu (tari zapin). Semua diiringi dengan musik hidup dan saling terintegrasi, misalnya waktu tari dayak lagi dibawain penari melayu dan barongsainya tetap mengiringi tapi semuanya menjadi sebuah seni pertunjukkan yang baguuus banget!!

Ini beberapa foto hasil jepretan sore itu :)






Minggu, 21 November 2010

Flickr

This is a test post from flickr, a fancy photo sharing thing.

My Visitors

mereka yang berkunjung


View My Stats