Tampilkan postingan dengan label catatan lapangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan lapangan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 September 2010

Heri dan pekerja pembuat keramba (Jumat, 13 Agustus 2010 part 2)

Hari ini jumat, saya memilih untuk shohat jumat di Masjid Besar Kemarin sore saya melihat ada beberapa hal menarik dari masjid yang ingin saya telusuri lebih lanjut. Didalam masjid sama sekali tidak terasa panas lembab seperti udara diluar, mungkin karena arsitektur masjid yang memungkinkan udara bisa masuk bebas, selain itu masyarakat Bunut percaya kayu belian yang digunakan di sebagian besar bangunan masjid ini bisa memberikan efek menyejukkan didalam ruangan masjid. Sedikit bersemangat karena saya megira akan mendengar khotbah dalam bahasa Hulu tapi ternyata khotbah dibacakan dalam bahasa Indonesia ada yang menarik dari pembacaan khotbah, sang khatib membacakan khotbah sambil memegang tongkat kayu. Ternyata memegang tongkat merupakan salah satu sunah dalam ritual sholat jumat, tapi sunah ini sepertinya tidak cukup populer ditempat asal saya. Baru pertama kali ini saya lihat, tradisi ini sudah dimulai sejak masjid pertama kali dibangun, tongkat yang ada sekarang inipun masih tongkat yang sama yang terbuat dari kayu belian untuk tiang masjid. Kabarnya tongkat ini pernah dicuri orang dan kemudian secara ajaib tongkat kembali ke masjid dengan sendirinya.


Rencana awal membangun rapport dengan para pengurus masjid harus saya tunda dulu karena seorang kenalan baru, Heri akan mengajak kami untuk ikut ke danau Tramabas siang ini selesai sholat Jumat. Eri kira-kira berusia 30-an akhir. Sudah berkeluarga dan punya seorang anak balita perempuan, dia tinggal di dusun Perdah desa Bunut Hulu dan masih ada hubungan saudara dengan pak Wim. Seperti hampir setiap orang di Bunut Eri pun mempunyai banyak profesi, Eri mempunyai kapal tambang yang biasa disewa oleh orang-orang Bunut untuk mengangkut barang selain itu yang saya dengar dia juga suka masuk hutan untuk menebang kayu. Saya belum berani menanyakan hal ini secara langsung kepada Eri, kayu menjadi topik yang sensitif apalagi untuk informan yang mungkin sangat berharga seperti dia.


Kebetulan hari ini dia akan mengantarkan 5 orang pekerja pembuat keramba ke danau tramabas. Kami berangkat dari dermaga kecil yang terletak di dusun Kuala Bunut arah ke timur rumah pak Wim. Sesampai kami di dermaga tampaknya para pekerja dan Eri sudah selesai memuat barang-barang kebutuhan pembuatan keramba kedalam kapal. Lima orang pekerja ini akan membuat keramba di danau Tramabas dan mereka akan tinggal disana selama 20 hari kedepan. Semua barang yang mereka butuhkan seperti drum-drum plastik, kayu, paku, alat-alat pertukangan dan kebutuhan makanan selama disana dimuat sekali angkut bersama kapal si Eri ini.


Eri ramah kepada kami, ia bahkan mengizinkan Kukuh untuk mencoba mengemudiakan kapalnya sebentar betika melewati sungai besar. Sepanjang jalan bercerita tanpa henti, saya menangkap beberapa info penting rantai penjualan burung dan konsepsi masyarakat terhadap danau. Sebagai awam saya melihat danau ini hanya sebagai danau, hamparan air luas yang tidak memiliki ruang, tapi ternyata ada pembatas-pembatas wilayah imajiner didalam kepala para nelayan. Danau ini dibagi-bagi kedalam bebrapa area yang diberi nama juga, batas-batasnya sangat abstrak yang hampir mustahil bias saya lihat. Batas-batas imajiner ini ditunjuk-tunjuk Eri kearah danau. Saya bertanya kenapa mesti danau dibagi-bagi? Dia tidak tau persis kenapa, katanya mungkin agar para nelayan lebih mudah saja menandakan bagian mana dari danau yang baik buat dipasang jermal, yang banyak ikan untuk dipukat dan sebagainya. Salah seorang dari pekerja masih yang paling muda saya ajak mengbrol tapi sepertinya pemalu dan tidak berani menatap wajah saya, umurnya tidak lebih dari 20 tahun dan ternyata juga masih keluarga pak Wim.


Para pekerja langsung menurunkan bahan-bahan pembuat keramba, saya ikut membantu menurunkan dan baru sadar bahwa mereka juga membawa sampan. Mungkin nantinya mereka akan perlu turun kedarat (kehutan). Sembari kami memindahkan barang-barang bawaan ke lanting Eri bericara dalam bahasa Hulu kepada seorang Ibu yang sedang mencemur ikan kering dilanting sebelah. Sepertinya istri dari ketua danau ini. Dikiri dan kanan lanting baru tempat keramba akan dibangun ini sudah ada lanting-lanting lain yang sepertinya lebih tua usianya. Lanting deretan sebelah kri bahkan terkesan sudah reot dan lapuk, lanting-lanting ini dihubungkan dengan kayu-kayu utuh yang diapungkan secara serampangan. Saya ingin ke lanting si Ibu lanting sebelah tapi sialnya untuk kayu yang menghubungkan lanting kami hanyut ke darat. Satu-satunya cara yang bisa saya gunakan untuk sampai kesana adalah dengan perahu kecil ramping yang sedang tertambat. Saya tidak yakin dengan hal ini, tidak mau ambil resiko dulu dengan berkayuh kelanting sebelah saya terpaksa melewati kesempatan untuk ngobrol dengan si Ibu. Dari jauh saya perhatikan di lanting ibu sebelah ada lebih banyak keramba, ada juga kandang ayam, beberapa ekor burung hijau yang dikurung didalam jaring.

Rabu, 08 September 2010

Bertemu Kades desa Bunut Tengah (12 Agustus 2010)

Rencana untuk bersilaturahmi ke Kades Bunut Tegah kemarin tertunda karena baliau sedang tidak ada dirumah. Hari ini kami kembali kerumah pak Kades, pak Kusnadi (adik ipar pak kades) berjanji akan menyampaikan pesan kami kepada pak Kades.


Seorang pemuda yang kira-kira seumuran dengan saya menyambut kami bertiga. Katanya, "bapak sedang dipantai" setetik kemudian seorang pria tua dijalan gertak depan melambai kepada kami. Pak Jafri kades Bunut Tengah lebih tua dari yang saya pikirkan, perawakannya agak pendek, badannya kurus tapi berjalan tapi perawakannya tegap untuk orang seusianya dengan jenggot putih di dagunya. Dua hari ini saya berkeliling kampung tapi belum pernah saya menemukan warga Bunut dengan berat badan berlebih, semua orang berbadan ideal bahkan atletis (berotot). Saya mengira ini dikarenakan seluruh Nanga Bunut dihubungkan dengan jalan gertak yang mengharuskan semua orang berjalan kaki kemanapun dan juga mungkin karena aktivitas bekayuh (mendayung sampan) dan berenang yang biasa mereka lakukan. Ternyata pak Jafri dari pantai untuk mengosongkan speed boatnya yang akan dijual, selang-selang dan beberapa elemen mesin yang ia bawa dari speed diletakkan di halaman. Setelah menyalami kami kami lalu buru-buru masuk kedalam rumah.


Sembari menunggu saya melihat-lihat foto-foto keluarga hitam putih yang tergantung di dinding ruang tamu pak Jafri, sebagian besar berisi foto orang-orang berpakaian khas timur tengah. Apa pak Jafri masih keturunan arab? Orang-orang yang dikatakan oleh pak Rustam sebagai pendakwah pada masa lalu. Pada awal abad ke-19 ada beberapa orang Arab yang datang dan menetap di Bunut untuk berdakwah dan mengajar agama pada masyarakat lokal, walaupun memang sejak mulanya bahkan semasa masih dalam kekuasaan kerajaan Bunut penduduk kampung Bunut sudah beragama Islam[1]. Orang-orang arab ini membaur dan menikah dengan wanita-wanita Bunut, keturunan mereka pun sampai sekarang mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Melayu. Pak Usman tidak dapat menjelaskan dengan detil mengenai waktu kedatangan mereka ke Bunut, tapi pada masa itu mereka cukup di hormati didalam masyarakat. Hal ini dikarenakan oleh pengetahuan mereka yang lebih tentang agama, bukan karena perbedaan ras atau ciri-ciri fisik. Lalu pada zaman sekarang apakah keturunan mereka masih diperlakukan dengan hormat seperti generasi pertama yang datang dulu? Pak Rustam menjawab 'tidak' dia menekankan lagi bahwa masyarakat agak segan kepada orang-orang Arab ini karena pengetahuan mereka yang dalam tentang agama, mereka dianggap lebih ilmunya. Jadi kalau keturunan mereka sama saja lah dalam pergaulan sehari-hari, kalau mereka tabiatnya tidak baik tetap saja dicela masyarakat. Pak Rustam mencontohkan seseorang yang keturunan langsung orang Arab di Kampung Tengah yang suka mabuk. Biasanya orang-orang ini bisa dikenali dengan panggilan didalam keluarga contonhnya panggilan abah atau ami.


Kembali ke pak Jafri, beliau sekarang sudah berpakaian rapi lengap dengan kain sarung, pemuda yang menyambut kami pertama kali tadi juga sudah mengganti celana boxer nya dengan celana jeans panjang. Pak Jafri memperkenalkan pemuda itu sebagai anaknya, namanya Erwin. Sepertinya orangnya pemalu, kalau bicara dengan saya agak gagap dan tidak pernah menatap mata saya, selalu salah tingkah. Tidak seperti pak Jafri yang percaya diri dan tegas dalam berbicara. Kesan saya pada pak Jafri adalah dia sosok yang cerdas ini terlihat dari cara dia berbicara dan memilih kata-kata selama mengobrol dengan kami bertiga. Kata-katanya tertata dan teratur. Pada dasarnya beliau menyambut baik kedatangan kami di Kampung Bunut Tengah dan bilang walaupun masih tinggal bersama pak Wim main-main juga lah ke sini. Ketika kami sampaikan bahwa kami ada rencana untuk menginap dirumah disini dia juga tidak keberatan dan meminta kami memaklumi rumahnya yang sederhana ini.



[1] Hal ini dibuktikan dari naskah-naskah beraksara arab, peninggalan berupa al-quran dan masjdi besar Bunut.

Selasa, 07 September 2010

Sistem mata pencarian (memancing) dan persepsi tentang iklim dan lingkungan

Hari ini kami berencana untuk bersilaturahmi ke rumah kades Bunut Tengah, tapi sesampai dirumah pak kades beliau tidak berada ditempat. Tidak jelas pergi kemana kata seorang bapak yang baru saja keluar dari rumah pak kades. Namanya pak Kusnadi, masih kerabat pak kades juga. Pak Kusnadi seperti nya akan pergi memancing, saya melihat joran dan keranjang anyaman yang disandangnya. Ketika saya menanyakan apakah kami boleh ikut memancing bersama dia langsung mengiyakan.


Lokasi memancing ternyata bukan disungai besar seperti yang saya bayangkan, dari arah pasar ketika sampai di depan kantor desa Bunut Tengah kami berbelok ke kanan menuju darat kearah jalan lintas. Jalan lintas ini adalah jalan darat yang sedang dalam tahap pembangunan oleh pemerintah, masih 50 persen lagi pengerjaannya bahkan jalan ini belum di aspal. Masih terlihat seperti daratan yang ditinggikan saja. Kata pak Pak Kusnadi jika air terus-terusan naik maka jalan ini pun akan terendam oleh bajir, dia mengatakan belum pernah banjir selama ini di Bunut. Biasanya banjir hanya 2 atau tuga bulan dan setelah masa itu air surut kembali, pada bulan ini pun seharusnya sudah musim kemarau tapi air masih saja belum turun malah cenderung bertambah naik dua hari terakhir. Sambil terus menyusuri jalan lintas kearah Timur pak Kusnadi terus bercerita tentang kondisi yang terjadi di darat ketika sedang musim kemarau.


"Biasa' Agus lapangan dah bisa buat dipakai budak-budak main bola sepak"

"… upacara pun biasa sudah bisa, sekarang nak tau bagaimana mau ngada' upacara kita"

"kalau dah dekat-dekat lebar (lebaran) rame nie… lebar pun di darat ni di pakai buat acara bakar-bakar Toman"


Pada saat lebaran daerah daratan kering di Selatan desa biasanya digunakan oleh warga kampung merayakan lebaran dan berkumpul bersama keluarga dengan acara bakar-bakar ikan Toman. Setiap keluarga berkelompok-kelompok membuat panggangan sendiri.


Dikanan jalan terdapat kebun sayuran dan tanaman-tanaman seperti bawang, dan cabe yang layu karena banjir. Kami terus berjalan menyusuri jalan lintas yang baru setengah jadi ini kearah Timur dan kemudian berbelok ke arah Selatan. Dikiri dan kanan jalan lintas ada sungai kecil yang besenarnya merupakan cerukan tanah yang timbul dari daratan yang ditinggikan untuk pembuatan jalan. Dataran rendah ini teritama terisi oleh air sungai ketika musim pasang seperti sekarang ini, masyarakat setempat menyebutnya dengan parit. Disinilah pak Kusnadi memancing, menurutnya menacing disungai seperti ini hanya merupakan pekerjaan sambilan baginya. Hasil pancingan yang biasanya lais digunakan untuk makan sehari-hari saja. terutama bagi orang yeng mempunyai pekerjaan tetap seperti PNS aktivitas memancing seperti ini hanya dijadikan sebagai pengisi waktu luang. Setiap rumah di Bunut memiliki joran, jadi ketika musim banjir seperti ini semua anggota keluarga jika mau mereka bisa memancing lais di kolong rumah mereka. Karena dengan meluapnya air sungai ikan-ikan terbawa air sampai ke perkampungan di kolong-kolong rumah warga juga.


Karena ikan yang menyebar di genangan-genangan air sungai yang meluap nelayan yang menangkap ikan disungai dan danau menjadi berkurang hasi tangakapannya. Hal sebaliknya yang terjadi dimusim kemarau adalah air menyusut, luas sungai dan danau mengecil sehingga ikan-ikan terkumpul pada sungai dan danau yang mulai mengering itu saja.


Panggilan dalam keluarga dan sistem kekerabatan

Pagi ini sekitar jam 9 selesai mandi saya berencana untuk menemui ibu Raida (istri pak Sekcam) yang tinggal persis didepan rumah yang pak Wim. Berharap pak rustam juga dapat ikut didalam diskusi, ternyata beliau sudah buru-buru berangkat ke kantor lebih awal. Diskusi atau wawancara ini tidak terjadwal, walapun begitu pedoman wawancara mengenai tpik ini sudah saya persiapkan kemaren malam. Sebenarnya bukan pedoman wawancara juga sih, saya beberapa bulan lau pernah punya pengalaman dengan riset yang berhubungan dengan sistem kekerabatan dan pola pewarisan jadi kemarin saya berusaha menuliskan kembali beberapa pertanyaan yang masih teringat.

Panas pagi di Bunut rasanya beberapa kali lipat dari pada yang saya rasakan di Padang, entah perasaan saya saja atau memang demikian adanya sinar matahari disini terasa lebih terang dan menyengat. Saya lihat bu Raida menyapu halaman yang dekat pelataran rumah saja yaitu bagian yang terlindungi oleh atap, beliau langsung menyapa saya ketika saya berjalan kearah pekarangan rumahnya. Sementara itu beberapa orang penjual makanan kecil untuk berbuka sudah berkeliaran dari gang ke gang (kegiatan jual beli makanan untuk berbuka [ta’jil] dimulai pagi-pagi sekali) kebiasaan di Bunut agak berbeda dengan tempat asal saya di Padang, disini makanan kecil untuk berbuka sudah mulai dijajakan oleh ibu-ibu sejak pagi-pagi sekali. Jam 9 sudah mulai para ibu berseliweran dijalan-jalan getak kampung mendorong gerobak pasir (gerobak yang biasa dipakai tukang bangunan). sebagian ada juga yag menggunakan keranjang plastik, ada juga ibu yang mendorong gerobak tapi juga memiliki partner yang mengiringinya dengan membawa keranjang plastik dibelakang. ada juga lewat beberapa orang bapak dengan perlengkapan panjing lengkap plus parang yang tergantung di pinggang mereka dan beberapa orang lain yang seprtinya baru selesai mandi dari tepi pantai sungai kapuas. Semuanya memakai topi yang terbuat dari daun pandan hutan yang disebut tanggui.

Ibu Raida seorang guru SD kira-kira berumur 40-an awal tinggal berdua saja dengan suaminya pak rustam dirumah mereka di dusun Kuala Bunut. Dua orang anak gadis mereka kuliah di pontianak dan hanya balik ke bunut pada saat liburan semester. Melihat sikap bu Raida yang membalas obrolan pembuka basa basi saya dengan bersahabat saya langsung mengutarakan maksud saya yaitu ingin berbincang-bincang tentang sistem kekerabatan orang bunut. Beliau mempersilahkan saya duduk diteras rumah.

Beberapa hal yang yang menjadi perhatian saya adalah ada beberapa perubahan dalam keluarga, seperti pola menetap setelah menikah yang sekarang cenderung neolokal. Pola menetap seperti ini sudah dimulai sejak generasi bu Raida dan pak Rustam akibatnya pola pemukiman kampung semakin mendesak kearah darat (kearah selaran desa). Beliau bercerita bahwa dulu bagian ini sangat sepi dari rumah penduduk karena pemukiman terpusat ke arah pantai. Saya teringat dengan beberapa rumah tua berasitektur khas Melayu Bunut yang besar dengan ruang lepas yang lapang dan banyak kamar-kamar didalamnya. Saya duga salah satu alasan dibuatnya rumah dengan gaya seperti ini adalah agar dapat menampung keluarga luas didalamnya [OC]. Kata bu Raida dulu orang kampung setelah menikah tinggal dirumah kerabat suami biasanya, walaupun sekarang sudah neolokal dan tinggal bersama keluarga batih pemukiman mereka berdekatan satu sama lain. “jadi adik beradik mereka rumahnya berdekatan” kemudian bu Raida menunjukk satu persatu rumah-rumah disekitar rumahnya sambil menjelaskan hubungan si kepala rumah tangga dengan suaminya.

Lalu kebiasaan yang masih banyak menyangkut perkawinan adalah perkawinan endogami kampung, biasanya kalaupun kawin diluar kampung palingan juga ke kampung sebelah. Contohnya pak Wim kawin dengan istrinya yang orang Ujung Pandang.


Ps: bagan dan tebel panggilan kekerabatan menyusul, saya lagi cari cara buat posting grafik nih hha..

Minggu, 07 Juni 2009

Catatan Lapangan (field notes) Kelas Agama Budha kelas II SD:ke Vihara part three

Catatan Lapangan (field notes)

Kelas Agama Budha kelas II SD:ke Vihara part three


Setelah janjian dengan Romo Sudharma pekan lalu hari inilah beliau baru bisa meluangkan waktunya buat gw. Berela hati setelah “ditegur” sedikit *bahasa yang telah diperhalus 100 kali* oleh para kerabat karena tidak pergi kuliah lapangan untuk tidak melewatkan kesempatan hari ini. Jadi dua minggu belakangan gw emang udah bulak balik ke lapangan (vihara, ikut kegiatan agama dan kegiatan sosial mereka dan kampung pondok dan sekitarnya). Minggu yang lalu Romo disibukkan dengan rapat tentang pendirian sebuah TK yang akan bernaung dibawah Vihara Budha Warman Padang. Dan sayang sekali, ga bisa gw pungkiri kalo sedikit kecewa. Karena sang Romo kembali ga bisa diajakin ngobrol (wawancara maksudnyah…),karena ada rapat lagi ngurusin persiapan apa gitu...



Tapi gapapa, seperti biasa kalo gw udah bercengrama *jijay banget gaya bahasa gw* dengan lingkungan baru yang gw sengangi selalu ada hal2 baru yang menarik yang bikin gw betah. Jadi tadi pagi nyampe di Vihara sekitar jam 9.30, tidak mungkin gw pulang dengan tangan kosong. Jadi gw ikut kebhaktian anak2 yang sedang berlangsung di lantai 2 vihara. Duduk manis disela2 anak2 bermata sipit yang menggemaskan ini bikin gw ga tahan juga lama2, akhirnya gw celingak celinguk kebelakang dan ngobrol dengan beberapa guru. Kebhaktian dipimpin oleh seorang anak perempuan yang umurnya kira2 10 tahun, mengenakan jubah biru dan duduk diposisi paling depan. Tapi ketika gw ikutan gabung, gw ga tau sudah sampai pada sesi (atau bagian) apakah kebhaktian ini sekarang. Karena belakangan gw baru tau kalo kebhaktian ato puja Bhakti punya beberapa tahap, kalo dibandingkan ke agama yang gw imani mungkin perbadingan seperti sholat jumat yang prosesinya lumayan panjang. Jadi si anak perempuan berjubah biru memimpin doa dalam bahasa Pali kalao gw ga salah menerka, sesekali memukul lonceng. Atau bahasa ini adalah bahasa Sangsekerta karena beberapa kata sangat mirip dengan bahasa Indonesia???



Suasana ruangan penuh sesak dengan anak2 yang berumur bayi (tentu dengan digendong oleh ortu mereka), balita sampai anak 10 tahun. Sebagian anak tidak didampingi oleh orang tua mereka (hanya bayi dan balita yang mengikuti kebhaktian dengan orang tua mereka). Beberapa orang dewasa mengobrol ditangga, gw berasumsi bahwa mereka adalah anggota keluarga atau pembantu (pengasuh) yang mungkin tidak beragama Budha. Agak aneh karena tidak ada mimik muka khusuk dan khidmat diwajah2 cilik ini dalam beribadah. Beberapa diantaranya sibuk mengobrol, dan melakukan aktifitas2 lainnya yang tidak berhubungan dengan prosesi kebhaktian. Para orang tua juga sepertinya tidak dapat benar2 khusuk beribadah karena beberapa waktu anak2 mereka merengek2 dan mencolek2 mereka (rewel lah pokoknya). Tapi mereka (anak2) dipaksa untuk tetap duduk manis, mengucapkan doa dengan merdu, membuat gerakan tangan memberi hormat ke pada sang Budha oleh guru2 sekolah minggu yang berpatroli selama kebhaktian berlangsung *oooh such a woderful bagaimana kebudayaan ditransmisikan kepada generasi baru, sangat memaksa (karena budaya sendiri adalah sesuatu yang memaksa bukan??). Tapi justru inilah yang belakangan akan membentuk identitas budaya mereka nantinya sebagai seorang Bhudist*. Mata mereka membelalak dan membuat simbol2 mengancam dengan tangan apabila ada anak2 yang tidak tertib dalam beribadah.



Akhirnya seluruh rangkaian kebhaktian selesai, sebenarnya ini adalah pertanyaan yang sudah pernah gw ajukan kesalah satu guru sekolah minggu seminggu lalu, tapi untuk memulai pembicaraan tetap gw gunakan topik basi ini.

“ci permisi, anak2 mulai belajar agamanya jam berapa ya?”

“ow ini kita mau langsung belajar niy habis kebhaktian”

“kalo gitu saya boleh ikutan belajar ya… (bukan pertannyaan, dan agak bernada maksa sih xixixi)

“iya2 boleh silahkan… (tapi jawaban mereka tulus kok)”



Lalu salah satu dari mereka bilang. “kayanya kita bernah kenal deh…”. What? Sebegitu terkenalkah gw di jagad selebritas?? Setelah dia ingatkan, bodohnya gw. Baru nyadar kalo gw emang pernah sekelas di EF sama cewek ini sebelumnya. Sekarang gw baru menyadari betapa beruntungnya gw hari ini, ketemu teman lama namanya Vidya (dia anak Psikologi UPI 04’). Bernostalgia bentar bareng Vidya trus langsung ngekorin dia dengan patuhnya kekelas 2 SD yang akan dia ajar. Seperti halnya kelas agama dilantai dua, dua kelas dilantai dasar ini hanya sebuah ruangan luas yang dibatasi selembar triplek. Tapi tempat duduk dan mejanya cukup nyaman untuk belajar, kecuali satu hal yang akan sangat mengganggu anak2 adalah suara guru sebelah (kelas 1) yang jauh lebih keras dari pada suara si Vidya. Apa anak2 nya Vidya (kira2 ada 30an anak) masi bisa konsentrasi tuh belajarnya…? jadi hari ini adalah latihan membahas soal2 untuk ujian semester. Sebagian anak2 sudah menjawab dengan betul soal mereka, banya satu atau dua soal yang dibahas bersama. Woo ga nyangka aja gw pikir dia itu dulu cewek pemalu gt… ga nyangka ternyata si Vidya oke juga kalo lagi ngajar (soo charming ehemmm…).


Jadi anak2 ini punya semacam agenda sholatnya anak Islam, setap minggu setelah kebhaktian mereka ngisis buku agenda. Judul ceramah agama, inti ceramah, penceramah dan ditandatangani oleh guru mereka. Juga ada buku agenda belajar setiap minggunya agar orang tua bisa memantau perkembangan belajar anak2 mereka.


Semua anak yang dikelas ini (kelas 2) tidak ada yang bersekolah di sekolah negri. Sebagian besar di SD2 yayasan prayoga, sebagian di SD Murni, dan sebagian kecil lainnya di SD DEK. Bener susah dikendalikan ini kelas kayanya, mereka benar hiperaktif. Bahkan ada anak2 laki2 yang nakalnya minta ampun, lari2an. Sementara suaranya Vidya kecil banget, bener2 kelas yang bikin stress. Tapi overall kayanya ini kelas agama yang cukup efektif walaupun mereka hanya diajar oleh guru2 relawan seperti VIdya dan teman2nya yang ga ada latar belakang gelar pendidikan formal agama Budha. Selesai kelas karena si Vidya ada latihan nari makanya gw cepat2 aja wawancara dia. Sebenarnya ada beberapa informasi meenarik, tapi ga mungkinlah gw share juga isi percakapan wawancara…



p.s: Fotonya menyusul yah, pulsa wimode gw ga cukup buat OL lama nguplot foto.

Sabtu, 30 Mei 2009

Maen ke Vihara Part II

Minggu 24 Mei 2009

Terkejut saat memasuki pelataran parkir vihara, penuh sesak dengan mobil dan motor umat yang sedang beribadah. Ditambah sempit lagi dengan pertamhanya fungsi pelataran perkir vihara ini sebagai tempat berdagang dadakan yang menjajakan makanan (nasi lengkap dengan lauk pauk) dan juga sate. Agaknya dagangan ini hanya digelar setiap minggu diwaktu vihara penuh sesak dengan umat yang beribadah dan anak TK dan SD yang sedang bersekolah minggu.

Lengkap dengan bangku2 dan meja2 bundar, banyak keluarga yang menikmati sarapan mereka setelah beribadah di warung makan dadakan ini. Aku bertanya kepada beberapa orang yang sedang duduk diruangan lantai satu tentang Romo. Ternyata ada diatas diruangannya, tapi ga punya banyak waktu karena ada rapat jam 11. Jadinya aku hanya punya waktu kira2 setengah jam saja dengan romo. Vihara ini benar2 menjadi pusat kegiatan umat dihari minggu karena tidak hanya ibadah yang dilakukan, setiap umat bisa saling berbicara satu sama lain. Satu leluarga dan tetangga bisa lebih dekat karena mereka dapat duduk satu meja ketika sarapan di warung depan vihara. Lalu anak2 tk maupun sd dapat bermain halaman vihara yang sempit (walaupun begitu tetap ditumpukka dua buah ayunan yang tidak pernah kosong diduduki oleh anak2) dipenuhi anak2 yang berlarian kessana kemari, karena space yang tidak begitu cukup untuk bermain mereka kadang menjengkelkan para orang tua karena berlarian di sepanjang koridor, tangga, dan bahkan ruangan doa.

Ternyata vihara ini lebih besar dari pada yang aku duga, yakin bakalan nyasar ke ruangan romo kalo tidak diantar. Pertama masuk ruangan ini aku disambut dengan semerbak aroma hio, tapi aromanya lembut tak begitu menyengat seperti diklenteng diruangan sembahyang lain mungkin karena ruangan ini berAC. Kesan pertama yang aku tangkap dari Romo adalah orangnya bijaksana dan ramah ternyata memang begitu (setelah ngobrol). Berbaju kemeja, celana berbahan seperti celana kantoran, trus rambut licin (mungkin karena kebanyakan dikasi minyak rambut) disisir rata sekali (lurus benget, jadi curiga jangan2 romo pake penggaris buat menata rambut).

Keluar dari ruangan romo aku liat semuah altar yang berisi foto Ganesha dengan perbagai versi. Berbagai foto dalam ukuran kecil itu dibingkai diletakkan diatas altar yang diapit oleh patung yang tidak mirip dengan patung2 singa seperti yang banyak aku jumpai di gedung2 suci di china town ini (tidak mirip dengan gaya patung2 singa yang kental dengan nuansa keBudhaan Cina). Aneh banget padahal Ganesha adalah dewa Hindu (bukan Budha!!), tapi kelihatannya altar Gansha ini sudah lama tidak di sembahyangi. Terletak diantara tumpukan2 barang, sudah agak berdebu dan tidak ada sisa2 perlengkapan sembahyang seperti sesajian yang terdapat diatas latar ini [cari tau soal altar ini]. Dua kelas, sebenarnya tidak bisa disebut sebagai kelas sih karena kelas ini adalah ruangan lepas yang dibagi dua dengan pembatas triplek yang ketika aku memasuki ruangan romo sedang digunakan untuk belajar agama dan sekarang sudah kosong. Tiga orang cewek yang kira2 seumuran aku, mereka memakai baju seragam berwarna kuning, sedang berbenah merapikan ruangan aku tanyai soal jadwal sekolah minggu anak2 dan agak ragu2 mereka menjawabnya. Dan belakangan aku tau ternyata mereka adalah pengajar untuk anak2 tingkat TK dan Play group (pantersan aja mereka ga ngerti). Sepertinya mereka bukanlah seorang guru agama profesional tapi semacam sukarelawan yang diperbantukan untuk mengajar dan membimbing anak2 kecil untuk belajar agama Budha.

Aha… jadwal lengkap belajar agama untuk anak dari tingkat play group sampai SMA ternyata sudah ada tertempel rapi di dinding, baguslah aku tidak usah bertanya2 lagi. Lalu diruangan lain [cari tau nama setiap ruangan ibadah di vihara ini] sedang berlangsung semacam ujian menghafal doa. Beruntung sekali waktu aku mengunjungi rumah abu ketika itu sedang dipersiapkan upacara peringantan satu tahun kematian seseorang yang abunya dititipkan dirumah itu. Ketika memasuki ruangan itu tampak dua orang wanita yang bersembahyang untuk kerabat mereka yang dititipkan disana, mereka wanita muda yang cukup modis dengan pakaian berupa kaos ketat dan celana jeans yang juga super ketat. Mendapat kesan kalau orang muda berdoa mereka terkesan tidak niat dan hanya sekedar melakukan kewajiban saja. Didalam ruangan terdapat dua buah altar, satu yang yang tertinggi yang menyatu dengan dinding mempunyai atap dan bernentuk seperti miniatur rumah terdapat arca Budha dan beberapa dewa. Dibawahnya terdapat altar yang lebih rendah yaitu altar tempat hio lo dan juga ada satu arca dewa diatasnya.

Dan kemungkinan karena hari ini akan dilaksanakan upacara doa untuk memperingati satu tahun wafat orang yang diperabukan disini maka ruangan abu leluhur ini ditambah satu altar lagi yaitu altar untk meletakkan sesajian bagi siarwah berupa berbagai makanan vegetarian (ciak cay), bunga dan segala macamnya. Tampaknya ada seorang petugas khusus yang disiapkan oleh vihara untuk melayani umat yang akan berziarah atau berdoa untuk kerabat mereka diruangan ini. Hari ini seorang ibu membantu menyusun posisi makanan diatas altar persembahan, membantu menata potret almarumah yang akan didoakan, menyusun alas duduk bagi orang yang akan berdoa dan segala macamnya. Anak laki-laki tertua dari almarhumah menurunkan potret untuk diletakkan diatas altar sesajian, seperti biasanya setiap menyentuh benda2 yang dianggap suci seseorang memberikan hormat dahulu sebelum menyentuh benda itu (dalam hal ini peotret si almarhumah).

Sepertinya masih ada satu sarat sesajian buat upacara lagi yang kurang lengkap makanya beberapa orang keluarga tampak sedikit panik. Tak mau menunda2 akhirnya aku memutuskan untuk minta izin kesalah satu kerabat untuk diperbolehkan mengikuti upacara ini. Jawaban yang aku terima dalam nada datar dan agak terkejut seperti berfikir dalam hati: apaan sih ini, orang lagi sibuk ngurus ini itu ni anak malah pengen ikutan lagi. Dasar ga jelas, dan kayanya si ibu yang aku mintain izin setengah ga percaya didalam hati berkata: masa sih ni anak mau ikutan upacara juga?? Tapi toh aku ikut juga kegiatan mereka. terdengar percakaapan tentang aturan main penyusunan sajian dan tentang makanan seperti apa yang akan dijadikan sesajian. Ibu petugas ruangan abu leluhur ini memberi penjelasan kepada salah seorang keluarga bahwa memang yang menjadi sesajian haruslah makanan ciak cay alias makanan vegetarian. Seorang wanita tua, oma2 gitu masuk ke ruangan dengan tertatih-tatih. Duh kaki ni oma udah susah banget jalan, kayanya karena rematik, mungkin karena bakti ke orang tua makanya dipaksain juga buat dateng ke Vihara.

Upacara molor sampai setengah jam karena menunggu pemimpin upacara yang sedang mengadakan kebaktian diruangan atas, jadi aku menyempatkan ngobrol dengan seorang oma kerabat almarhum yang ternyata adalah anak perempuan dari si almarhumah. Wah ternyata memang kebanyakan orang Tonghoa selalu mengecoh aku dari wajah mereka, rasanya tadi si oma kok terkesan jutek dan sangat tidak bersahabat ternyata ramah dan enak banget diajak ngobrol. Pada dasarnya cara pemakaman diserahkan pada kesepakatan keluarga dan juga keinginan si orang mati, akan diapakankan jenazah mereka. Jadi orang Tonghoa pada masa sekarang ini lebih banyak memilih metode kremasi sebagai perlakuan pada zenazah, penguburan menjadi tidak begitu popler karena alasan ekonomi dan kepraktisan. Sehabis dikremasipun abu boleh di tabur di lautan atau di simpan disumah atau dirumah abu. Nah oma ini lebih memilih abunya ditaburkan di laut kalau dia meninggal nanti katanya, katanya supaya lebih merasa bebas dialam sana.

Lagi asik2 ngobrol tiba diba masuk tiga orang ibu pandita berjubah kuning cerah menyenandungkan kata2 “namo ami to fo” berulangkali sambil mengetuk2 lonceng. Semua orang berdiri, ibu petugas yang tadi kerjaanya menata meja sesajian kemudian membagi2 kan buku Budha sutra, buku doa2 untuk arwah dan keluarga yang ditinggalkan dan mengeluarkan sebuah alat musik pukul yang terbuat dari kayu (ketuknya bunder gitu, tapi ada rongga di bagian dalam nya jadi bunyinya kira2 seperti bunyi orang jualan pangsit gitu). Jadi ternyata tiga tas olah raga bersar yang biasa dipake orang buat olah raga itu berisi perlengkapan doa seperti berbagai alat musik, buku-buku doa dan sebagainya. Jadi kalau ada panggilan untuk memimpin doa disuatu tempat sang Pandita tinggal bawa tas yang udah lengkap isinya.

Sebenarnya ada empat orang yang rohaniawan yang mendapingi upacara ini dan keempatnya adalah wanita, tapi ada salah seorang diantara mereka yang tidak mengenakan jubah kuning tapi ikutan memegang alat musik pengiring doa jadi aku tidak begitu tahu apakah beliau juga bertugas dalam mendamping umat dalam upacara ini. Jadi keempat orang ini (termasuk yang tidak megenakan jubah) meimpin doa dalam bahasa Tiongkok dan kelimanya berdoa sambil memegang alat musik. Si oma yang baik hati tadi memastikan aku medapat satu buku Budha Sutra ketika buku itu dibagi2kan kepada keluarga atau umat yang hadir. Sementara itu tiga diantara anggota keluarga berdiri didepan altar sesajian sambil memegang hio dan buku Budha sutra. Disela2 membaca doa adakalanya ketiga anggota keluarga ini membungkin didepan altar. Tapi sepertinya mereka bertiga tidak begitu mengerti kapan waktunya meerka membungkuk memberkan penghormatan, karena ibu petugas ruangan memberikan instruksi mereka untuk membungkuk ketika tiba waktunya mereka untuk membungkuk.

Sebelum dimulai upacara tadi aku dapat kenalan seorang ibu lainnya yang juga kut dalam upacara peringatan satu tahun kematian ini, dia tanya aku apakah aku anggota keluarga atau tidak. Mungkin aneh bagi dia karena aku ga ada tampang Tonghoa tetapi ikut mendoakan. Aku sih jujur aja bilang kalo aku mahasiswa yang sedang mngerjakan tugas, karena kayanya strategi ini yang paling efekif. Benar saja si ibu jadi seakan punya kewajiban untuk memberikan bimbingan pada aku selama doa ini, selalu memastikan bahwa aku tidak keketinggalan mengikuti setiap kata yang dibaca di buku Budha sutra, setiap kali aku celingak celinguk liat kesebelah karena ketinggalan bacaan si ibu dengan bersemangat memberi petunjuk bacaan yang benar. Padahal kan aku ga benar2 membaca doa itu. Namanya juga observasi jadi ya… melihat bagaimana wajah dan emosi orang2 yang membaca doa dari raut wajah mereka juga penting (karena termasik dalam variabel data yang akan dikumpulkan hehe…). Ada yang khusuk sekali ada juga yang membaca dengan tidak begitu serius. Ada yang sudah hafal diluar kepala tapi lebih banyak yang membaca contekan di buku Budha sutra mereka masing2.

Bacaan ini ditutup dengan bersujud tiga kali ke Budha, lalu berlanjut ke meditasi yang diiringi oleh semacam renungan hakikat tubuh manusia tentang rapuhnya tubuh manusia ini, tentang bagaimana tubuh ini begitu kotor dan tidak ada apa2nya. Karena tubuh ini hanya akan menjadi bangkai yang menjadi santapan hewan ketika mati nantinya. Pokoknya kata-katanya bikin kita instrospeksi deh kalau kita manusia hanyalah seonggok daging dan tulang, makhluk yang lemah. Ditengah-tengah meditas ini ada umat yang memutuskan tidak lemanjutkan maka diapun memberikan sujud dan penghormatan kearah Budha lalu keluar ruangan (jadi ternyata bagian ini tidak terlalu mengikat umat untuk ikut). Lalu ada doa dalam bahasa Indonesia agar arwah selamat dan diterima disisi Tuhan.

Upacara selesai dan aku segera cegat ibu2 pandita, sebelum mereka keburu kabur ketempat lain. Ngobrol sedikit (percakapan persahabatan kalo menurut Spradley) tapi sedikit memasukkan unsur pertanyaan etnografis didalamnya. Jadi upacara ini pada dasarnya tujuannya adalah untuk mendoakan arwah agar tenang di alamnya dan agar keluarga diberi ketenangan dan kesabaran. Makanan yang jadi sesajian dan persembahan dalam upacara ini adalah makanan vegetarian yang tidak mengandung daging, keluarga yang membawa dari rumah atau boleh kalau keluarga tidak sempat atau tidak mau repot juga bisa minta tolong pada vihara untuk memasakkan makanan karena sepertinya vihara punya layanan khusus dalam membantu umat untuk urusan ini.

Lantas makanan ini setelah upacara akan diapakan?? Aku tidak mendapat jawaban yang begitu jelas untuk pertannyaan ini. Karena makanan ini sepertinya dimasak dengan kaidah memasak yang benar, maksudnya benar-benar dimasak seperi memasak makanan untuk dimakan sehari-hari. Lagian mereka terlihat begitu menggoda dan wangi (Mmhhm they looks yummy). Jadi seharusnya makanan yang menjadi persembahan bagi arwah tetap dimasak dan diberi perlakuan seperti makanan manusia. Jadinya seperti kata ibu pandita makanan ini nantinya akan dimakan lagi oleh siapa yang mau (khususnya bagi keluarga yang kaya makanan tidak akan dibawa ulang lagi). Nah masalahnya siapa yang akan memakan makanan-makannan ini, siapa yang mau memakan?? Apakah umat yang kebetulan hadir di vihara ataukah para rohaniawan yang ada divihara? Apakah makanan akan diberikan kepada pengurus viahara sebagai bentuk derma oleh keluarga yang punya hajatan? Seperti apa persepsi orang-orang terhadap makanan-makanan ini apakah ada perasaan malu atau tidak enak diantara orang Tionghoa kalau mereka memakan makanan sisa sesajian sembahyang (walaupun makanan ini sebenarnya bukan makanan yang benar-benar sisa karena sama sekali tidak disentuhkan karena hanya ditaruh diatas altar saja selama sembahyang). [nanti telusuri lebih dalam lagi soal makanan persembahan dalam sembahyang ini]

Ada sebuah kertas kuning bertuliskan aksara Cina yang dibakar di hio lo yang terletak di altar luar ruangan abu leluhur ternyata adalah nama dari si almarhumah yang didoakan. Kelihatan ibu Pandita agak menekankan kalau ini bukannya percaya tahayul tapi dilakukan agar kita tidak lupa akan si almarhum dikemudian hari. Kenapa begitu khawatir kalau yang dilakukan ini bukanlah sebuah tahayul?? Mungkin karena bagian ritual yang ini tidak merupakan bagian dari ajaran Budha yang yang sebenarnya (bercampur dengan tradisi Tionghoa) [baru pendapat pribadi sih, jadi perlu ditelusuri lebih dalam]. Lalu juga ada kim cua (kertas mas) dan kertas perak yang telah dilipat yang ditaruh didalam bungkusan kantong plastik. Setelah konfirm ke pandita menurut beliau bagian ritual yang memberkati kim cua dan membakarnya adalah lebih kepada tradisi orang Tionghoa karena dalam ajaran agama Budha tidak ada yang seperti itu. Pantas tidak ditemukan tempat pembakaran kim cua dihalaman vihara seperti yang ada di halaman klenteng.

Lalu setelah ngobrol bareng bu Pandita aku dikasi bakpau dan air mineral sama si ibu yang agak jutek tadi (ga jelas juga apa bakpaunya adalah bakpau yang diatas altar atau sisa bakpau yang berlebih yang tidak jadi ditaruh diatas altar). Duh baik juga ternyata si ibu, dan agak ragu-ragu memberi tau aku kalau bakpaunya ga pake bak (babi) kok. *dalam hati: duh buk saya omnivora kok jadi jangan khawatir saya bisa makan apa aja*. Dan ternyata bakpaunya ueenak banget, rotinya lembut dan isiannya sayur-sayuran yang gurih dan agak manis…mmhhmm Yummy..


---à besok kalo ke vihara lagi minggu besok ada upacara seperti ini lagi ga ya??biar kebagian bakpau lagi maksudnya huehehe…

My Visitors

mereka yang berkunjung


View My Stats