Tampilkan postingan dengan label tionghua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tionghua. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Januari 2009

Dirumah duka HTT




Dirumah duka HTT



Hari terakhir di tahun ini aku manfaatkan dengan mencari data dan berkeliaran disekitar China Town kota Padang yang dikenal sebagai kawasan pondok (atau orang Padang bilangnya kampuang cino). Kemarin mememang banyak ada banyak acara yang diadakan disekitaran pecinaan, salah satunya adalah festival kota tua yaang diadakan leh EO yang kebetulan adalah teman2ku anak2 AIESEC juga. Karena aku mang udah disana dari pagi jadi ga da salahnya juga kan aku bantu2 mereka sediki.

Jam 11 aku udah sampai dirumah duka HTT, pada dua jenazah yang disemayamkan disana masih akan dilakukan berbagi upacara keagamaan sesuai dengan agama sijenazah. Kebetulan mereka terdiri dari dua agama yang berbeda. Yang satu Katolik dan satunya lagi Budha, pada saat aku sampai disana keluarga Katolik sedang melakukan misa Requem, ditengah2 misa ini keluarga Budha melakukan pula upacara kematian Terayada yang dipimpin seorang Pandita Budha (seorang wanita), upacara ini dilakukan dengan berdiri mengelilingi jenazah sambil mebaca kibat suci yang dipimpin oleh seorang Pandita. Wah bentrokan dong kedua upacara jadinya, tapi tampaknya ndak ada masalah dengan hal ini bagi mereka, umat Katolik bernyanyi dan umat Budha tetap khusuk melantunkan mantra dan bacaan kitab suci sambil membunyikan lonceng.

Karena misa Katolik dimulai duluan maka mereka juga lebih cepat selesainnya jadi tanpa membuang waktu aku mewawancarai sang pastu yang memimpin misa pastur Abel Maia. Perbincangan kami seputar tatacara pengurusan jenazah dengan ajaran katolik dan sampai sejauh mana gereja Katolik dapat menerima adat istiadat Tionghoa (cari tau lagi kegiatan adat apa saja yang tidak bisa diterima oleh gereja).

Selesai dengan pastur aku mencegat ibu Pandita, tapi beliau ada janji lain untuk mendoakan orang yang sakit keras ditempat lain. Beliau menyarankan aku menemui sang romo di Vihara dekat taplau (tapi lupa nama romonya). Baeklah tapi tidak sekarang karena aku ndak ada persiapan, lagian aku harus ke rumah abu abadi.

Setelah nyasar dua kali akhirnya rumah abu ini aku temukan,,,dijalan yang ternyata juga udah dua kali aku lewati. Tidak banyak informasi yang bisa aku gali dari pak Bernard sang penjaga rumah, tidak mengizinkan juga untuk memotret bagian dalam dari rumah abu (harusnya diam2 aku potret saja) dan terkesan aku buru2 "diusir" dari tempat itu.

Rumah abu yang berada dibawah naungan HBT ini terdapat di jalan Pasa Batipuah. Ruangan utama adalah ruangan tempat menyimpan abu dimana terdapat rak dan lemari2 kecil tempat menyimpan abu yang disusun sampai kelangit2 ruangan, pintu dari setiap lemari kecil tempat menyimpan abu ini terbuat dari kaca sehingga terlihat dari luar adalah sebuah wadah untuk meletakkan hio, papan nama dan photo si mendiang dan dibelik papan nama itu diletakkan abu yang disimpan didalam sebuah guci. Ada beberapa lemari yang berisi dua buah guci dan ternyata mereka adalah sepasang suami istri. Pada bagian depan tepat disebelah kiri dan kanan pintu masuk terdapat altar doa untuk agama Katolik dan Budha.

Sejak didirikan dan diresmikan oleh walikota pada tahun 1999 silam rumah abu ini hanya berisi 200 abu. Prosedur penitipan abu ini adalah dengan membayar sumbangan ke HBT (perlu riset lebih jauh ke BHT tentang hal ini)

Main2 ke klenteng Yuuukk...

Main2 ke klenteng Yuuukk...



Mhhh ndak percuma rasanya hari ini aku bangun pagi2 hari ini, semuanya berjalan lancar sesuai dengan apa yang aku harapkan. Padahal aku sempat untuk tidak akan pergi ke klenteng pada hari ini, hari libur mang bawaannya pengen tidur aja dirumah apa lagi tadi malem ujan lebat dan paginya dingiiiin benget.

Jam 7 lewat dikit aku barangkat dari rumah (lewat dikit karena masih nyempetin nonton Spongebob dulu), dan ternyata lalulintas dipagi buta hari libur sepi banget, angkot yang aku tumpangi juga jalannya lancar. Nyambung naek angkot jati didepan bank Mestika (lagi males aja jalan kaki, lagian takut telat juga kan…) waktu udah di kawasan Chinatown aku liat jam di HP baru jam setengah 8 lewat dikit ternyata.

Lewat pasar (besok cari tau nama pasarnya apa…)sepanjang jalan pasar liat2 juga tempat sarapan yang enak soale dari rumah tadi ndak sempat sarapan. Dan sengaja juga nanati milihnya tempat yang rame supaya bisa ngobrol juga dengan bapak2 yang lagi nongkrong minum kopi disana.

Sesampai di klenteng orang yang harusnya ku wawancarai belom dateng jadinya aku hanya sekedar liat2 aja dan sempat juga mengikuti jalannya tahap demi tahap ritual ibadah (kebetulan ada dua umat yang lagi ibadah diklenteng). Ahmpir aja aku kehilangan pak Huan. Waktu lagi ngobrol dia hampir aja berangkat pake motornya keluar klenteng.

Kesan yang kudapat dari dia adalah pertama, cerdas, berwibawa dan kayanya dia lebih cocok sebagai orang yang kerja kantoran dari pada sebagai agawan Tridharma atau sorang skretaris rumah ibadah. Dari cara berbicara dia sangat bagus terdengar profesional aja. Kita sempat ngobrol panjang lebar pada akhirnya obrolan kami ini mungkin bisa tidak dikatakan sepenuhnya sebagai wawancara etnografis (karena juga suasana menjadi tidak begitu kaku lagi). Yang menjadi sedikit masalah pada wawancara ini adalah aku menjadi speechless gitu,, ndak tau apa lagi yang musti dipertanyakan. Harusnya dibanak ini selalu ada pertanyaan cadangan yang harus segera dikeluarkan dan dikeluarkan apabila pertanyaan yang ada didaftar sudah terjawab semua.

Waawancara berakhir jam sembilan lewat 5 menit karena pak Huan ada janji dengan orang juga, aku puas dengan wawancara ini. Duuuh mudah2 selama riset ini dapet informan yang elok laku dan ndak banyak cing cong (bisa diajak kerjasama lah). Dari sini aku kemudian hunting cari mangsa (cari sarapan maksudnye hehe…), akhirnya dapet warung yang enak dan karena males juga nyari kepelosok pasar. Nasi goreng nya lumayan lah, tapi buanyak banget bo' satu porsinya (harganya 5 ribu rupiah), keluarga Tionghua penjual makanan ini juga ramah luar biasa, kayanya itu ada Oma, anaknya laki2, istri anaknya (plus sang cucu yang lagi asik makan nasi dengan ikan goreng dan kecap), trus juga ada anak perempuan yang lebih muda. Ngobrol juga dengan si koko kehidupan orang Tionghua dan ngorol juga sedikit tentang ini dan itu. Trus pas mau pulang si Oma bilang "tommorow kemari lagi yah" wah beres deh mi, duh hari ini semua orang baek dan ga ada kesulitan.

Tujuan berikutnya adalah Rumah duka HTT, setelah kemaren sempat tertunda mengunjungi tempat ini gara2 si Hayu ndak mau nemenin (dan juga rasanya ga etis kalo baru meninggal trus udah ditanya2 segala macem). Sesampai disana tidak terlalu ramai orang, hanya beberapa kelompok orang mengobrol dibeberapa tempat diruangan sebelah. Tempat ini terdiri dari dua ruangan, ruangan yang kecil tempat diletakkannya mayat (didalam peti)trus yang disebelahnya lagi ada ruangan yang agak lebih besar yang kemungkinan digunakan untuk mengadakan upacara keagamaan bagi jenazah (apapun agamanya). Kebetulan sedang ada dua mayat yang disemayamkan di rumah duka, satu katolik dan satu Budha. Aku menyapa tua orang ibu2 yang lagi ngelipat uang kertas buat dibakar untuk jenazah. Yang satu tetangga dari si mayat (nenek yang mati bo' umurnya kalo ga salah 80an), yang satunya lagi kayanya orang yang kerja di HTT, trus beberapa saat ngobrol dengan si Ibu tetangga si mayat seorang ibu lagi yang bepakaian serba hitam ikut nimbrung ngobrol bareng kita. Dan ternyata dia adalah anak dari si mayat. Dan bercerita lah kita tentang tatacara pengurusan mayat pada orang Tionghoa… (selengkapnya tentang obrolan kami bisa di baca di bagian hasil wawancara)

Kamis, 06 November 2008

Etnis Tionghoa dan Sumpah Pemuda

Etnis Tionghoa dan Sumpah Pemuda

Kristan

Pemuda Khonghucu/Ketua Gemaku

Awalnya istilah Indonesia Merupakan definisi ilmiah bagi kepulauan Hindia yang dikenalkan oleh para antropolog Barat, seperti JR Logan, GSW Earl, dan Adolf Bastian, di penghujung abad ke-19. Endapan diskursus tersebut telah bertransformasi menjadi suatu bangsa, tepatnya setelah jiwa-jiwa mudanya mengucap dik-tum Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa. Berlaksa bangsa yang sebelumnya terberai ideologi primordialisme (kedaerahan, kesukuan, keagamaan) bisa bersatu. Masyarakat madani kita yang mulanya didominasi kental oleh gairah primordial, seperti Jong Java, Jong Sumatranen, Jong Celebes, Jong Ambon, Sarekat Islam, Muhammadiyah, Jong Tionghoa (sejarah mencoba menutupinya) tampak mengorientasi kiblat.

Kelompok nasionalis berlatar belakang sekuler, kalangan agamis (Islam), dan kelompok komunis melakukan konsolidasi di bawah payung ideologis bernama keindonesiaan. Walhasil, 17 tahun kemudian, proklamasi kemerdekaan dideklarasikan, dan lahirlah Pancasila dan UUD 1945. Terpenuhi sudah syarat ontologis yang dibutuhkan Indonesia untuk menjadi sebuah negara-bangsa (nation-state) dalam lembaran sejarah peradaban dunia.

Masyarakat Terbuka

Dalam suatu kesempatan di sela-sela dialog tentang primordialisme, Mohammad Sobari pernah berujar: "Anggaplah nenek moyang kita yang terdahulu telah melakukan kesalahan yang tidak disengaja, dengan menyatakan ada bangsa yang lebih unggul dari yang lain, dan berbagai text books yang menjurus pada primodialisme dan mungkin fundamentalisme. " Lebih lanjut Sobari mengatakan, bagaimana jika kita buang jauh-jauh pemikiran itu dan kita gunakan saja hasil konsensus para pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928, yang kita kenal sekarang sebagai Sumpah Pemuda yang berisi: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa yaitu Indonesia .

Dengan semangat berbeda-beda tetapi tetap satu (Bhineka Tunggal Ika) mungkin dapat mewujudkan masyarakat yang lebih damai dan terbuka (open society), yang menurut Karl Kopper, dapat meredam radikalisme dan fundamentalisme. Sejak dahulu dalam UUD 1945 (walaupun sudah empat kali diamandemen) dikenal terminologi Indonesia asli dan dalam Pasal 2 UU Kewarganegaraan RI 2006 terdapat istilah "asli" yang berbunyi: "Yang menjadi Warga Negara Indonesia adalah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang- undang sebagai warga negara."

Sejatinya kata asli memiliki dua dimensi arti yaitu asal usul (originality) atau sejati (genuine), yang artinya sejati atau tulen. Artian asal usul sebenarnya tidaklah mempunyai dasar ilmiah yang kukuh seperti yang telah lama diuraikan bahwa sebenarnya bangsa-bangsa di kepulauan Nusantara ini pada dasarnya adalah bangsa campuran. Dalam kehidupan politik yang modern pengertian nation (bangsa) tidak dikaitkan dengan faktor etnisitas, melainkan dengan rasa solidaritas dengan sesama warga negara untuk bersama-sama mewujudkan kehidupan bernegara. Keaslian tidaklah terkait pada faktor fisik melainkan pada semangat patriotisme. Jadi Indonesia yang asli haruslah bermakna Indonesia yang sejati, yang memiliki semangat cinta Tanah Air dan seluruh bangsa, serta memandang semua komponen bangsa sebagai sesama.

Sebagai contoh jika keaslian dikaitkan dengan faktor biologis, maka etnik Jawa yang tinggal di Suriname atau orang Ambon eks KNIL, ketika mereka kembali ke Indonesia dan menjadi WNI maka mereka berhak menjadi presiden. Jadi seolah-olah lebih berhak dibandingkan dengan etnik Tionghoa, Arab , India , atau Indo yang telah turun temurun hidup di sini dan telah berjasa banyak bagi kesejahteraan bangsa. Apakah ini tidak bertentangan dengan rasa keadilan yang berketuhanan? Oknum Tionghoa yang mengacaukan ekonomi dan menyebabkan kehancuran bank, tidak membayar pajak dengan adil, menyelundupkan kekayaan negara, tidaklah dapat dikategorikan Indonesia yang sejati. Bahkan tidak dapat dikategorikan ke dalam kelompok Indonesia sama sekali. Walaupun memakai nama Indonesia dan berbahasa Indonesia dengan fasih serta mengenal sejarah perjuangan dengan baik.

Tidak dapat disangkal bahwa banyak oknum Tionghoa yang melakukan tindakan kriminal dalam bidang ekonomi dan perdagangan dan tentunya tindakan kriminal lainnya yang cukup menyakitkan bangsa Indonesia secara keseluruhan, baik etnik Tionghoa maupun Melayu. Namun di sisi lain kontribusi etnis Tionghoa khususnya dalam perekonomian Indonesia sangatlah signifikan, hal ini dapat dikaji dari sejak awal kedatangan etnis Tionghoa di Nusantara. Introduksi teknologi pengolahan pangan dan hasil pertanian seperti pembuatan gula tebu, tanaman jati, pendulangan emas dan timah, teknik pengolahan kedelai menjadi tahu, kecap, tauco misalnya merupakan teknik-teknik yang dibawa oleh orang-orang Tionghoa ke Nusantara. Atas sumbangsih tersebut mungkin anak cucu mereka kini berhak menikmati buah karya leluhurnya tersebut.

Dalam kehidupan modern, etnik Tionghoa menyumbangkan tenaganya dalam bidang perdagangan dan telah menyediakan jutaan lapangan pekerjaan bagi semua pihak. Tidak sedikit yang banyak berkarya dalam bidang olahraga, ilmu pengetahuan, kedokteran, hukum, perhubungan, keteknikan, pendidikan, dan hampir semua bidang profesi lainnya. Bahkan ada umat Khonghucu (Yap Tjwan Bing) yang menjadi anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia ) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia ). Perlu dicatat pula bahwa sewaktu teks Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dibacakan, tempatnya di rumah seorang Tionghoa Khonghucu bernama Sie Kong Liong, di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta (sekarang rumah tersebut dijadikan Museum Sumpah Pemuda). Hingga detik ini sumbangan etnik Tionghoa dalam berbagai sektor cukup besar. Tindakan Diskriminatif Fenomena penjarahan toko-toko milik etnik Tionghoa adalah buah dari tidak konsistennya produk hukum dari penguasa dalam kaitannya dengan etnis Tionghoa, serta masih banyaknya tindakan diskriminatif lainnya.

Contoh paling konkret adalah diskriminasi di bidang birokrasi seperti masalah SBKRI yang kadang dipelesetkan menjadi "Surat Bukti Kebodohan Republik Ini" dari arti yang sebenarnya yaitu Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia , kasus pencatatan akta kelahiran, dan lain-lain. Kasus-kasus tersebut merupakan salah satu petunjuk masih kuatnya budaya kesukuan (primordialisme) pada sebagian kalangan di Indonesia . Kelompok rasialis ini bukan saja telah merusak etnis tertentu, melainkan juga telah merusak ekonomi negara secara keseluruhan. Dengan adanya UU Kewarganegaraan yang baru-baru ini disahkan mudah-mudahan hal-hal tersebut tidak terjadi lagi di masa mendatang. Dan juga jangan sampai aturan yang telah disepakati bersama tersebut dinodai oleh praktek-praktek oknum rasialis yang mungkin masih tetap ada di bumi Indonesia tercinta ini. Namun di balik itu semua komunitas Tionghoa Indonesia juga jangan terlalu terbuai dengan tuntutan hak-haknya semata melainkan juga harus mengimbanginya dengan kewajibannya sebagai warga negara yang baik sesuai dengan konstitusi. Maka dari itu komunitas Tionghoa juga harus belajar membuka diri menuju open society, sebab terkadang teman-teman Tionghoa juga sering kali bersikap eksklusif dalam hal ini kurang membaur.

Sebagai contoh, masih banyak orang Tionghoa yang menggunakan bahasa Tionghoa di khasanah publik dan hidup berkelompok (pecinan). Hal ini tanpa disadari tidak sesuai dengan isi Sumpah Pemuda. Etnis Tionghoa hendaknya memang tidak usah ragu-ragu dalam membina negara dan bangsa Indonesia karena memang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari negeri ini. Kontribusi etnis Tionghoa dalam membangun negara dan bangsa Indonesia tidaklah sedikit. Mulai sekarang etnis Tionghoa Indonesia haruslah merasa benar-benar at home di negara ini. Setiap individu Tionghoa harus aktif menangkis tuduhan-tuduhan yang tidak adil sesuai tugas dan kewajibannya sebagai warga negara Indonesia yang baik. Keadaan demografi dan landsekap politik sekarang ini sangatlah berbeda. Konsep kebangsaan lama yang terlalu menekankan homogenitas di atas keberagamaan tidaklah mengikuti irama zaman. Kebudayaan yang kita hadapi bukan cuma nasional tetapi juga multinasional. Konfigurasi kebudayaan Indonesia akan semakin mendekati konfigurasi kebudayaan dunia.

Indonesia akan menghadapi kenyataan semakin berkembangnya kebudayaan Amerika, Eropa, Arab , China , Jepang , Korea , India , dan sebagainya. Keanekaan tidak hanya antarsuku bangsa yang telah ada, tetapi dengan kebudayaan bangsa lain. Jadi konsep kebangsaan zaman kini mungkin haruslah menjadi suatu konsep yang terbuka dan semakin menuju pada semangat internasionalisme yang merujuk pada perdamaian dunia. Selaras dengan apa yang dikatakan Confucius bahwa Semua Manusia adalah Bersaudara (All Men are Brothers and Sisters).

My Visitors

mereka yang berkunjung


View My Stats