Senin, 05 Januari 2009

Main2 ke klenteng Yuuukk...

Main2 ke klenteng Yuuukk...



Mhhh ndak percuma rasanya hari ini aku bangun pagi2 hari ini, semuanya berjalan lancar sesuai dengan apa yang aku harapkan. Padahal aku sempat untuk tidak akan pergi ke klenteng pada hari ini, hari libur mang bawaannya pengen tidur aja dirumah apa lagi tadi malem ujan lebat dan paginya dingiiiin benget.

Jam 7 lewat dikit aku barangkat dari rumah (lewat dikit karena masih nyempetin nonton Spongebob dulu), dan ternyata lalulintas dipagi buta hari libur sepi banget, angkot yang aku tumpangi juga jalannya lancar. Nyambung naek angkot jati didepan bank Mestika (lagi males aja jalan kaki, lagian takut telat juga kan…) waktu udah di kawasan Chinatown aku liat jam di HP baru jam setengah 8 lewat dikit ternyata.

Lewat pasar (besok cari tau nama pasarnya apa…)sepanjang jalan pasar liat2 juga tempat sarapan yang enak soale dari rumah tadi ndak sempat sarapan. Dan sengaja juga nanati milihnya tempat yang rame supaya bisa ngobrol juga dengan bapak2 yang lagi nongkrong minum kopi disana.

Sesampai di klenteng orang yang harusnya ku wawancarai belom dateng jadinya aku hanya sekedar liat2 aja dan sempat juga mengikuti jalannya tahap demi tahap ritual ibadah (kebetulan ada dua umat yang lagi ibadah diklenteng). Ahmpir aja aku kehilangan pak Huan. Waktu lagi ngobrol dia hampir aja berangkat pake motornya keluar klenteng.

Kesan yang kudapat dari dia adalah pertama, cerdas, berwibawa dan kayanya dia lebih cocok sebagai orang yang kerja kantoran dari pada sebagai agawan Tridharma atau sorang skretaris rumah ibadah. Dari cara berbicara dia sangat bagus terdengar profesional aja. Kita sempat ngobrol panjang lebar pada akhirnya obrolan kami ini mungkin bisa tidak dikatakan sepenuhnya sebagai wawancara etnografis (karena juga suasana menjadi tidak begitu kaku lagi). Yang menjadi sedikit masalah pada wawancara ini adalah aku menjadi speechless gitu,, ndak tau apa lagi yang musti dipertanyakan. Harusnya dibanak ini selalu ada pertanyaan cadangan yang harus segera dikeluarkan dan dikeluarkan apabila pertanyaan yang ada didaftar sudah terjawab semua.

Waawancara berakhir jam sembilan lewat 5 menit karena pak Huan ada janji dengan orang juga, aku puas dengan wawancara ini. Duuuh mudah2 selama riset ini dapet informan yang elok laku dan ndak banyak cing cong (bisa diajak kerjasama lah). Dari sini aku kemudian hunting cari mangsa (cari sarapan maksudnye hehe…), akhirnya dapet warung yang enak dan karena males juga nyari kepelosok pasar. Nasi goreng nya lumayan lah, tapi buanyak banget bo' satu porsinya (harganya 5 ribu rupiah), keluarga Tionghua penjual makanan ini juga ramah luar biasa, kayanya itu ada Oma, anaknya laki2, istri anaknya (plus sang cucu yang lagi asik makan nasi dengan ikan goreng dan kecap), trus juga ada anak perempuan yang lebih muda. Ngobrol juga dengan si koko kehidupan orang Tionghua dan ngorol juga sedikit tentang ini dan itu. Trus pas mau pulang si Oma bilang "tommorow kemari lagi yah" wah beres deh mi, duh hari ini semua orang baek dan ga ada kesulitan.

Tujuan berikutnya adalah Rumah duka HTT, setelah kemaren sempat tertunda mengunjungi tempat ini gara2 si Hayu ndak mau nemenin (dan juga rasanya ga etis kalo baru meninggal trus udah ditanya2 segala macem). Sesampai disana tidak terlalu ramai orang, hanya beberapa kelompok orang mengobrol dibeberapa tempat diruangan sebelah. Tempat ini terdiri dari dua ruangan, ruangan yang kecil tempat diletakkannya mayat (didalam peti)trus yang disebelahnya lagi ada ruangan yang agak lebih besar yang kemungkinan digunakan untuk mengadakan upacara keagamaan bagi jenazah (apapun agamanya). Kebetulan sedang ada dua mayat yang disemayamkan di rumah duka, satu katolik dan satu Budha. Aku menyapa tua orang ibu2 yang lagi ngelipat uang kertas buat dibakar untuk jenazah. Yang satu tetangga dari si mayat (nenek yang mati bo' umurnya kalo ga salah 80an), yang satunya lagi kayanya orang yang kerja di HTT, trus beberapa saat ngobrol dengan si Ibu tetangga si mayat seorang ibu lagi yang bepakaian serba hitam ikut nimbrung ngobrol bareng kita. Dan ternyata dia adalah anak dari si mayat. Dan bercerita lah kita tentang tatacara pengurusan mayat pada orang Tionghoa… (selengkapnya tentang obrolan kami bisa di baca di bagian hasil wawancara)

Minggu, 04 Januari 2009

Bagian V di KM Gunung Dempo (habis)

Bagian V di KM Gunung Dempo (habis)



Untunglah pada kapal merapatdi Biak pada waktu pagi hari, tapi walaupun begitu hari ini adalah minggu jadi smeua orang pergi ibadah kegereja. Tidak ada toko yang buka, pasar tradisional juga sepi. Di Biak aku mengunyah pinang pertamaku di dekat2 pelabuhan, awalnya sempat dicerca habis sama Rhya [UNHAS],

"uda ngapain sih ikut2an makan pinang, jorok tau!!"

"jadi ih jijik deh sampe merah2 gitu"

Hoho,,, ini tidak akan membuatku mengurungkan niat untuk tidak menyicipi pinang. Aku diajari oleh mama si penjual pinang step by step how to eat pinang eh ternyata ga separah yang aku bayangkan rasanya. Memang agak kelat dan pahit. Tapi bukin segar mulut dan ngilangin bau mulut.

Selanjutnya kamu mengunjungi pasar tradisional terdekat, tidak ada yang menarik. Tidak ada juga yang mau dibeli. Ada sih beberapa penjual makanan yang menjual sarapan khas Papua: nasi kuning, tapi anak2 ga ada yang mau diajak makan jadinya kita Cuma jalan2 ndak tentu arahsambil mengulangi kegilaan yang kami lakukan waktu di Ambon yaitu berFoto2… hahaha…

Kapal berangkat ke pelabuhan terakhir yaitu JAYAPURA…. Sekitar jam 2 siang.

Benar-benar perjalanan panjang yang melelahkan baik secara fisik maupun mental bagi kami, terutama kami yang dari Sumatra, tapiii yahh banyak hikamah dari perjalanan panjang ini kami jadi dekat satu sama lain (munkin tidak untuk anak UNAIR hehehe) timbul kelakar diantara kami kalau ternyata di Jayapura peserta sarasehan hanya ari lima universitas yang ada diatas kapal ini sarasehan resmi ditutup di Jaya pura,,, karena tujuh hari di kapal bobotnya sudah hampir seperti sarasehan hyang sebenernnya :)

Transit terakhir juga pada siang hari kira2 jam 8 wita KM. Gunung Dempo merapat di pelabuhan biak, rasany akitivitas bongkar muaat kapal, porter dan kuli angkut yang berlarian di lorong2 dek, aktivitas turun naik penumpang dari kapal dan pedagang asongan yang menjajakan dagangannya sudah menjadi keseharian kami (padahal dikapal baru 6 hari tapi aktivitas ini sudah akrab saja rasanya). Tapi sekedar menghibur diri, ini adalah pelabuhan transit terakhir (penderitaan akan segera berakhir) nikmati aja kota Biak ini.

Tapi pemikiran kami tentang meinikmati Biak salah,, karena minggu, tidak ada yang bisa kami liat dari Biak. Semua fasilitas umum tutup, pasar sepi (karena semua orang kegereja pagi untuk ibadah) hanya berputar disekitar jalanan pelabuhan untuk berfoto2 gila2an maklumlah semua meluapkan stress.

Kapal akhirnya menuju JAYA PURA!!

Malam terakhir dikapal saranya seru juga semua orang dalam good mood. Untunglah tidak ada begadang dan pesta malam terakhir heehhe. Tapi sempat juga nyicip alkhohol beberapa teguk sama anak2 (kia dan bang ucok yang paling buanyak minum kayanya mereka disetiap pelabuhan nyelundupin minuman deh kepakal huahahaha)

Subuh sepanjang malam seperti biasa banyak pengumuman yang disiarkan oleh pusat Informasi kali ini pengumuman tentang sandarnya kapal tidak jauh berselang dengan pengumuman waktu sholat subuh dan arah kiblat. Nahhhh subuh buta kita akhirnya sampe di JAYA PURA city, saatnya berkemas2….

Sebelumya Abner (panitia anak Kerabat Antro UNCEN) memang sudah kontact dengan Herry (USU) tapi kami sama sekali penyambutannnya akan seperti ini :) mataku berkaca2 hehe…

Ada mi??? ("adakah Mie disini" atau "sudah ada kah??")--- bagian IV

Ada mi??? ("adakah Mie disini" atau "sudah ada kah??")--- bagian IV


    Perjalanan dari Ambon ke Sorong, Papua adalah perjalanan tercepat. Sorong berdasakan keterangan yang aku dapet dari seorang bapak yang ketemu di dek 6 adalah daerah awal dari Papua yang ditemukan dan dibuka dari keterisolasian oleh Belanda (terletak di bagian atas kepa burung katanya). Kita banyak dapat pengalaman mengenai kapal dan lautan dari Ria anak UNHAS yang udah sering bolak-balik pulang kampung dengan kapal, wah parah deh kalo tiap pulang kampung pake kapal yang jelek terus. Duh pembaca yang budiman maap aja yah kalau ditulisan ini rada ga bagus dan mulai ga enak dibaca, saya lagi mabok laut soalnya. Perjalanan Ambon-Sorong parah banget, ga ada anak2 antro yang ga muntah. Yang ngaku2 preman dan suka minum beer juga mabok huahaha (muntahnya diem2 balik dari toilet muka udah pada pucet tuh)….

    Pokoknya secara fisik dan mental udah mulai ndak stabil niyy, akhirnya ada penemuan baru dari Dani [USU], kalau kita diruang terbuka (dek atas) yang terkena angin laut, mabok lautnya jadi agak berkurang. Maka berapa menit kemudian berbondong2lah kami keatas… dan ternyata benar angin laut yang menerpa wajah,, whuua seger bikin mendingan. Sambil cerita2 sampe maghrib kita disini.

    Seperti biasa makanan kapal sangat menjengkelkan, selalu sama dari hari pertama sampai hari ini (tapi kamu kan ksatria Antropologi jadi mesti tahan makan apa aja hehe…). Tapi untuknglah selera sudah sedukit terobati dari makanan yang kita borong dari AMPLAZ di Ambon. Dan sepertinya kami udah selesai Sarasehan duluan huahaha… soalnya kita udah bahas semua dari A-Z disini tentang JKAI habis mau ngapain lagi berhari2 dikapal. Eeh sebenarnya dikapal ini kami makhluk2 antropologi juga bisa sekalian penelitian lapangan lhooo. Kapal ini bisa diibaratkan dengan miniatur Indonesia, semua suku bangsa Indonesia ada disini mulai Aceh sampai Papua juga ada berbagai bahasa yang selama ini ga pernah aku dengar sekarang muncul disana-sini di seluruh penjuru kapal…. Wah pokoknya benar-banarlah kalu ingin melihat Indinesia yang sesungguhnya ada disini. Ngomong soal bahasa juga menjadi lelucon diantara kami

    Anak makasar mereka ada make akhiran mi jadi kami sering becandain mereka "dari kemaren udah keseringan makan mi terus jadi ndak mau lagi" hehe.. Mungkin sama kali yah kalau di bahasa Indonesia logat Minang kita sering beri akhiran do, malaupun donya diilangin ga ada perubahan makna pada kalimat. Trus kalau di bahasa makasar yang aku perhatiin yaktu ngobrol ada akhiran ji, kah, dan sebagainya (maklumlah sebagai calon antropolog rasa ingin tau haru tinggi dong hihi…) sama dengan orang Papua sering memakai toh untuk mempertegas makna suatu kalimat. Kalau anak2 Aceh ngomong bahasa daerah mereka yang kita denger dan tangkep Cuma blablublablu… blablabla…blablau…. Huahaha lucu banget si Lena [USU] waktu ngejekin bahasa daerah Aceh.

    Trus,, masih menyangkut fenomena Ethnolinguistik ( hehe sok ilmiah banget sih padahal cuma ngomngin keberagaman berbagai kata2 kotor dan makian yang beragam diseluruh Nusantara),,, kami bertukar kata kotor masing2 daerah anak Aceh dan Medan lancar banget tuh bilang "pantek" kata makian dalam bahasa Minang. Tapi begonya penempatan kata pantek mereka tidak tepatsehingga kalimatnya terdengar janggal dan aneh banget. Misalnya gini ni: " ah pantek kali lah gaya kau!!" ah biar gimana pun akan lebih berasa kasarnya kalau diucapkan oleh native speakernya (penutur ahli) tapi perlu riset Antrolinguistik yang lebih lanjut juga sih (Hhidup Antrolinginguistik!!! Hidup Pak Thomas!![dosen antrolinguistik gw di kampus hihi..]) eh trus ada berbagai caruik2 lainnya (caruik= kata kotor dalam bahasa Minang) dari Medan, Aceh, Makasar dan Jawa. Kalau di Jawa ada cancuk (ga ngerti juga nulisnya gimana tapi kalau kuping gw ga salah denger mestinya tulisannya begini) sangat kasar bagi orang Jawa… jadi inget risetnya Fhya[UNAIR] tentang linguistik

    (duuuh ga tahan niy otak gw baku mumpet dan ga mood banget nulis karena sekarang lautnya lagi, nakal gw jadi mual dan maboooookkkk, bentar lagi gw sambung chuy)

    Minggu 23 Nov

    6.00 wit

    Whhoooaaa pagi yang segar di kapal,,, setelah semaleman begadang bareng anak-anak untunglah laut bersahabat tidak seperti kemaren lagi. Barusan melalui pengeras suara pusat informasi bilang kalao satu jam mendatang kapal akan sandar di pelabuhan Sorong.

    Kalau di waktu di Ambon kemaren kita punya Varis (UNHAS) yang menjadi guide dan petunjuk jalan, di Sorong ada Ria (UNHAS juga) yang sangat kenal daerah ini karena mamanya tinggal disorong. Sukurlah di tiga pelabuhan terakhir kita slalu transit pada siang hari jadi ada lebih banyak waktu untuk keluyuran dan juga lebih banyak tempat yang kami kunjungi (dan lebih banyak restoran dan tempat makan yang buka juga,,, maklumlah dimana2 anak antro gadang lambuang alias suka makan)

    Di Sorong banar2 terasa bahwa kita sudah berada di Papua, provinsi terujung di Republik tercinta karena semua orang berkulit hitam dan berambut keriting (huahahahah jadi inget smsnya Rani waktu di Sorong kemaren) tapi disekitar pelabuhan dan pusat kota Sorong buannyak juga penduduk pendatang yang tinggal dan menetap (rata2 dari Indonesia bagian timur juga sih).

    Hanya sempat berkeliling sekitar pelabuhan kita nemuin semacam tugu (ga terlalu jelas kebaca) tapi kayanya tugu ini ada hubungannya dengan perebutan Irian dari sekutu, poto2 dan berkenalan dengan seorang pemuda lokal yang gw lupa namanya siapa. Uniknya karena dia tau kalau kita dari Sumatra makanya dia PD aja ngasih salam Assalamualaikum dan ternyata dia mang seorang muslim (dan punya nama muslim juga) aneh aja rasanhya ada penduduk lokal yang beragama musllim karena disini kotanya sangat Katolik religuis gitu, ditrotoar jalanan sepanjang palabuhan berjejer hiasan2 salib (jadi inget sesuatu yang kontras di Kota Padang dimana sepanjang jalan tepi pantai selalu dihiasi ayat2 Quran dan Haidst dan juga asma'ul husna hehe) wah sekarang mulai memahami gimana jadi minoritas dinegri orang.

    Belanja makanan di warung2 pinggir jalan skitar pelabuhan eeh kita nemuin warung makan Padang juga (putri minang atau apalah gitu namanya) bener2 luar biasa gw dan anak2 UNAND lainnya sampe diledekin habis2an sama anak2 ("orang Minang doyan makan ato doyan jualan makanan yah??")disetiap pelabuhan yang kita singgahi selalu ada restoran Minang, mulai dari Jakarta, surabaya, Makasar, Ambon, dan terakhir di Sorong juga (wah luar biasa deh) dipinggiran jalan kami makan kue cucur dan kue pinada yang khas Ambon, rata2 pedagang yang aku amati disekitar pelabuhan adalah orang pendatang dari Indonesia Timur seperti ambon, Sulawesi dan sebagainya.

    Kapal bertolak dari Sorong sekitar jam 1 siang WITA menuju pelabuhan berikutnya Biak.

Di KMGunung Dempo III

Di KMGunung Dempo III


Ternyata anak UNHAS lebih friendly daridari tiga orang anak UNAIR (hoho... maap yah)terutama Adi dan Jaya kita seru banget cerita tentang antro di kampus masing-masing, mulai dari yang serius2 kaya pela

jaran, teori2 antro juga booow (huahahaha bisasanya rada susah ngajakin anak2 kampus gw ngobrol tentang teori), trus kita juga ngobrol tentang update terbaru kegiatan IKA wah ternyata mereka jago2 riset, kita UA ketinggalan banget kalo masalah riset (maklumlah divisi IKA tidak memfasilitasi hal ini, bahkan IKA UA kan juga dah lama vakum)

Yaaah ga bisa disembunyiin kalo gw jelous banget sama kualitas mereka,,, tapi baeklah sodara2 my jealously is a better sign to reach opportunities dan untuk lebih baik lagi di Antro ini. Wah rugi banget orang2 yang tidak ikut sarasehan, pokoknya tahun depan harus ikut lagi.

Nothing special… makalah akhirrnya selesai walaupun USU dan UNMAL berencana untuk tampil dengan Power point aku yakin persentation skills aku jauh lebih baik dari mereka yang pake PPT. makanan kapal masih seperti biasa sarapan telor dadar yang ga jelas dan ga ada rasanya, makan siang dan makan malam pake Iiiiikkannn melulu dari hari pertama mana ikannya hambar, kotorannya ndak dibuang siripnya ga dibuang, duh ampun deh. But I need energy to continue this trip…

Jumat siang jam 12 siang WIT sampe di Ambon, Maluku. Duh sumpah puanas banget sampe mendidih kepala waktu turun dari kapal, rame pedagang asongan menjajakan dagangan mereka tanpa mengindahkan terinknya matahari (duuh susah nya minta ampun nyari duit orang2 ini, tapi kenapa pemerintah masih tega2nya korupsi yakkk??) Walauppun siang ga bayak yang dikunjungi di kota ambon,Cuma sempat belanja kebutuha kapal di AMPLAZ (kemungkinan singkatan dari Ambon Plaza) sebenarnya kita punya cukup waktu untuk keliling tapi teman2 ga kooperatif mereka pada maless semua ga mau diajakin jalan.

Padahal kan sayang banget kalau waktu itu kita puter2 kota Ambon sambil wisata kuliner, akhirnya kami malah menumpahkan (lebih tepatnya mengekspresikan) kegilaaaan kami dengan berfoto gila2an (pokoknya kemana lensa kemerenya Bayu [UNAND] mengarah kami semua berlarian untuk dijepret huahahah..), asal jepret sana-sini dan ketawa ngakak ndak jelas (walaupun obrolan kita ga terlalu lucu) maklumlah karena stress dikapal.

Jam 4 sore WIT, kapal berlayar dari Ambon maniseeee menuju pelabuhan berikutnya: Sorong….

Di gunung Dempo II


Di gunung Dempo II



Wah ternyata keasikan di kapal (sekaligus kadang2 kebosanan juga)membuat aku lupa untuk menulis jurnal ini. Satu lagi yang jadi motivasi adalah pasti para fans dan pembaca setia blogku di Padang telah menanti-nanti tulisan ini huahahaha…

Baeklah sodara2 sesungguhnya tulisan ini bukan benar2 tulisan di hari ke dua, tapi tulisan ke dua yang ditulis dihari ke empat (nyesal banget udah ketinggalan dua hari, thanks to bu Yun yag udah ngingetin dengan smsnya yang sangat inspiratif). Dan barusan aku dan teman dikapal berdebat keras mengenai hari apa sekarang!!! Ooooh Tuhan,,, kami sampai lupa hari dan kami semua kebingungan bagaimana cara melihat jam huhehhehe….

Tapi ya sudahlahh, yang penting kapal tambah rame karena pada malam kedua kami sampai di pelanuhan Tanjung perak Surabaya naiklah tiga makhluk Antropologi lagi yaitu kerabat Antro UNAIR. balik lagi yah,, aku flash back lagi kebelakang, jadi pada malem ke dua jam 10 malem kita mendarat, eh berlabuh maksudnya tidak ada kesempatan untuk berkeliaran cari mangsa di Surabaya. Secara kapal merapat si SBY tengah malem buta(mulai sekarang aku singkat dengan ini saja) alhasil kita tidak bisa kemana2 toko atau pusat kota jauh diluar gerbang pelabuhan, lagian kita udah dikasih peringatan sama si mas yang punya toko dikapal (orang SBY juga) kalo pelabuhannya rawan dan juga serombngan mahasiswa Makasar yang bareng sama kita di dek 5 juga ngasih peringatan yang sama. Jadi kami memutuskan hanya mengobrol saja dengan kerabat UNAIR yang mengantar tiga orang kerabat yang akan berangkat ke Papua. Paling suka ngorbol sama Fiya (anak antro 05) cakep deh orangnya kita sempat ngbrol tentang riset dia tentang Antropologi linguistik.

Jam dua kapal berangkat menuju pelabuhan berikutnya yaitu : Pelabuhan Makasar untuk menjemput anak2 UNHAS yang ternyata ada sembilan orang. Kapal mendadak menjadi penuuuuuuuhhhh benar2 menuh sesak setelah menepi di Tanjung perak SBY. Penumpang membludak sampe kelorong2 diseluruh dek termasuk di dek 6 dan 7 yang langsung terpapar udara laut lepas,,,, termasukdi ruangan kita dan kesemuannya tidur dilantai, ga tau deh kok nekad berlayar dengan tingkat kenyamanan yang sangat rendah seperti ini. Apa yang mereka pikirkan,,,??? Bawa bayi dan anak2 dengan keadaan yang seperti itu (ga ada otak!!!)kapal jadi Jooorok banget (yang tadinya emang agak kotor juga tapi sekarang berlipat kali jadi kotor) beginilah kacaunya dunia transportasi Indonesia doain aja yah saya jadi mentri transportasi besok.

Jadi ga mood ngapa-ngapain niiiyyy, padahal delegasi yang lain udah sibuk neyelsaiin makalan, slide persentsi dan juga berbagai macam film pendek. Duh liat mereka aku jadi semangat lagi buat nyelesaiin draft makalah kami yang terbengkalai (aku bikin di mess UNAND sebelom berangkat ke Tanjung priok).
Karena di dek 5 terlalu padat dan sangat tidak memungkinkan untuk menulis sesuati yang sakral seperti makalah ini (kan kalo makalahnya berntakan dan ga bagus kita juga yang malu) akhirnya kita (aku dan beberapa anak USU dan UNMAL [malikul saleh] yang aku lupa namanya) hunting keseluruh penjuru kapal di dek 4, 5 dan 6 dan akhirnya kami menemukan sebuah lorong rahasia di dek 5 yaitu koridr kelas 1, sebuah tempat yang nyaman untuk melanjutkan membuat makalah dan segala macam bahan persentasi yang akan di tampilkan di sarasehan.


Sampai di Makasar hari hari kamis dini hari kira2 jam 1 dini hari,, penumpang yang naik dari Tanjung perak SBY ternyata sebagian besar turun di Makasar dan lorong-lorongpun sekarang hampir kembali sepi. Walaupun ternyata di makasarpun lorong kembali terisi tapi tidak terlalu penuh. KM. Gunung dempo sandar di Makasar sekitar 3 jam. Kami (david, novi, dedi dan aku) nekad keluar kapal (tak lupa membawa tiket tentunya, karena ga mau dikira sebagai penumpang gelap) tapi secara jam 1 dinihari apalah yang bisa kami nikmati dari kota Makasarr ini?? Akhirnya yang bisa kami lakukan hanya sekedar berpoto2 di segala macam plang kantor, hotel dan nama jalan yang ada tulisan Makasarnya ,, huahahahah bodoh banget deh ini Cuma sebagai pembuktian aja kalo kita pernah ke Makasar walaupun Cuma beberapa jam ajah. Selanjutnya kami berwisata kulinaer di satu-satunya warung nasi goreng gerobak yang masih buka. … Woooow aneh juga nasi goreng Makasr ini. Warnyanya pinkkk bow (iiih lucita deh bow) tapi gw agak2 parno ajah makan sembarangan (kan

ga lucu nanti kalo muntah2 atw mencret di kapal!!!)


Ada sembilan orang dari UNHAS dan Cuma satu orang ceweknya, Weda kerabat antro yang ku kenal waktu acara Ntional conferencenya AIESEC ternya ga ikutan sarasehan kali ini karena kakaknya mau mw baralek.
but it will be a lot of FUN ^_^ anggota kita tambah sembilan orang lagi.


Kami berlayar meninggalkan Makasar menuju pelabuhan berikitnya yaitu Ambon pada Kamis jam 5 pagi sambil menikmati sunrise di pelabuhan Makasar.




Di KM gunung dempo I



Di KM Gunung Dempo I


AAArrrgggghhh setelah perjuangan panjang utnuk mendapat tiket akhirnya kami ada diatas KM gunung dempo,,, sekali lagi aaakhirnya… tapi keadaan kita agak lebih beruntung dari pada dua delegasi kerabat lainnya yang dari sumatra (USU dan Malikul shaleh), mereka berangkat tengah malem dari medan dan bersitirahat di emperan pelabuhan sampe jam 5 ini trus dua orang perwakilan dari USU dan Mlikul ketemu dengan gw (perwakilan yang ngurusin tiket) di kantor pusat PT. Pelni di JL. Gajah mada tadi siang. Terus yang bikin gw tambah kesal lagi, panitia benar2 kurang koordinasi dengan kita, gw merasa ditelantarkan ditengah Mission Imposible menuju Papua yang berada diujung Indonesia sana

Sebenarnya sama sekali ga layak bagi gw untuk bersenang2 diatas penderitaan mereka… tapi itulah yang terjadi, mereka yang mendarat tengah malam buta dan ga tidur dan ga istirahat trus mereka juga yang akhirnya ngurusin tiket kita. Duuuuh merasa bersalah niiy tapi, gimana yah mang kedaan yang bikin mereka yang kerja buat dapetin tiket soalnya gw dan david telat bantuin mereka di pelni (baik yang di kantor pusat di gajah mada ataupun yang di jl. Angkasa) karena kita kelamaan nungguin bang ucok dan paik yang lagi ketemu sama alumni… ah udah lah ga usah dibahas lagi yang penting syukur alhadulillah tiga delegasi dari sumatra udah selamat sampe di kapal.

Tentang kapal ini,,, kayanya masih baru deh. Lumayan bersih. Tapi tetap aja mulai ada kejorokan disana-sini. Dan parahnya kejorokan yang terdekat ada di tempat kita tidur.Duuuuhhh matras nya bo' jorgi buanget, ih jijayyy gw menemukan pulau-pulau yang terbentuk entah dari cairan apa (dan gw sendiri juga ga berani banyangin itu cairan apa) trus juga numpuk disana sini bulu-buluan yang beraneka ragam bentuknya mulai dari yang halus sampe yang kasar dan keriting (panjangnya juga beragam) oh Lord gimana dengan perjalanan tujuh hari kedepan????? puji Tuhan untung gw bawa matras dan juga sleaping bed gw yang nyaman dan bersih,,, tapi tetap setelah kapal jalan benda pertama yang harus gw beli adalah hand sanitizer. Kita semua tidur di dek 5 yang satu ruagan dek itu banyaknya orang sampe seratus orang tudur berjejeran, masing-masing lorong ada dua blok (atau dua jejer kasur yang bikin kaki kita saling beradu gt)

Belom sempat niyyy mengobservasi seluruh penjuru kapal karena sekarang masih kalebuiiiiik banget (suasananya rusuh banget) karena semua orang sibuk cari tempat tidur dan berbagai barang diperdagangkan diseantero dek ini (benar2 berbagai barang apa aja bisa diditemuin,,,ini bukan kiasan)mulai dari rokok, kutang, kolor, haduk, buku TTS, ikat pinggang, nasi bungkus, sandal jepit bahkan sampe perhiasan imitasipun dijajakan pedagang di dek.

Sabtu, 03 Januari 2009

Dirumahnya siMbok eh… salah Dimess UNAND

Dirumahnya siMbok eh… salah Dimess UNAND


Jam setengah 8 nyampe bandara dan gw bersiap2 menguatkan fisik dan mental untuk menghirup udara kotor jakarta (huahaha lebayyyy, tapi emang kerasa banget sumpeknya jakarta). Blue bird taxi yang kita naiki ternyata sopirnya urang awak juga euyyy. Puter2 ternyata mess UNAND ga jauh juga dari bandara. Sebenarnya kawasan-kawasan jalan mandala ini komplek perumahan penduduk jadi aneh aja rasanya Universitas sekelas UNAND punya mess di lingkungan kaya gini.

Jl. Mandala selatan X no V ternyata mess yang sangat homy,,, serasa dirumah sendiri ajah. Pas baru dateng mbak anaknya si mbok nyambut kita (mboknya lagi kepasar) banyangin aja mess ini kaya rumah biasa ajah cuma ada lima kamar dan dapur dan kamar mandi cukuplah untuk di sebut sebagai mess. Makan siang telor dadar plus sayur bening ala simbok, awalnya simbok ga pede gt "sayuran saya ga enak lho, tapi cuma ini yang ada" tapi cukuplah untuk makanan sederhana berprotein cukup dan fresh from kuali hehe…

Suasana mess ini hangat dan sangat jauh dari kesan formal sebuah mess haha… (makasih mbok buat cerita sorenya yang inspiratif) si mbok umurnya udah 72 tapi seperti orang-orang tua Jawa kebanyakan, mereka awet muda, sama sekali ga kaya orang yang umurnya 72 (karena rajin minum jamu tiap hari kali yah??). hidup sederhana selama 25 tahun dikota seperti jakarta tidak merubah pola pikir simbok menjadi kekota2an. Bahkan dengan keterbatasan untuk tidak dapat membacapun (alias buta huruf) tidak menghalangi simbok untuk survive di jakarta.




My Visitors

mereka yang berkunjung


View My Stats