Sabtu, 15 November 2008

Trip to Papua I

walaupun sebelumnya sempat dilanda post trip syndrome, maklumlah ga pernah sebelumnya melakukan perjalanan sejauh ini,,,,,,, hHHHuuua PAPUA!!! ga pernah deh kebayang bakal nginjak tanah papua,, selama ini papua nyaris cuma sebuah legenda tanah eksotis yang hanya bisa gw liat dan kagumi lewat buku2 IPS waktu sekolah dulu. But now i'm in my trip to Papua.... Huahahaha (evil laugh)

Huuuuhhh perjalan pannjang ke pakua dimulai subuh ini. ga biasanya gw yang selama ini well prepare kalo mau jalan jauh gt, tapi pagi ini bawaanya kesal aja dan ga mood; charger HP ilang, mana belom mandi, barang masih bertebaran deseantero kamar dan yang parahnya gw lupa pake deodorant (wah nyawa tuh). Tapi akhirnya papih dan mamih nya Paik07 dateng menyelametkan gw dan david untuk sampai ke bandara dengan aman dan nyaman (secara keluarga gw ga punya mobil, adanya dirumah cuma dua motor jadul. wah tak sanggup diriku berkedara pagi buta begini sambil bawa travel bag yang segede gaban :)

sampe di airport enak juga kebetolan bokap lagi dinas malem jadi perjalanan masuk keruang tunggu bandara lancar2 aja. Dan akhirnya gw ada disini,, dikursi merah ruang tunggu air port.....


Tunggu laporan langsung lainnya OKAYYY...

Kamis, 06 November 2008

Etnis Tionghoa dan Sumpah Pemuda

Etnis Tionghoa dan Sumpah Pemuda

Kristan

Pemuda Khonghucu/Ketua Gemaku

Awalnya istilah Indonesia Merupakan definisi ilmiah bagi kepulauan Hindia yang dikenalkan oleh para antropolog Barat, seperti JR Logan, GSW Earl, dan Adolf Bastian, di penghujung abad ke-19. Endapan diskursus tersebut telah bertransformasi menjadi suatu bangsa, tepatnya setelah jiwa-jiwa mudanya mengucap dik-tum Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa. Berlaksa bangsa yang sebelumnya terberai ideologi primordialisme (kedaerahan, kesukuan, keagamaan) bisa bersatu. Masyarakat madani kita yang mulanya didominasi kental oleh gairah primordial, seperti Jong Java, Jong Sumatranen, Jong Celebes, Jong Ambon, Sarekat Islam, Muhammadiyah, Jong Tionghoa (sejarah mencoba menutupinya) tampak mengorientasi kiblat.

Kelompok nasionalis berlatar belakang sekuler, kalangan agamis (Islam), dan kelompok komunis melakukan konsolidasi di bawah payung ideologis bernama keindonesiaan. Walhasil, 17 tahun kemudian, proklamasi kemerdekaan dideklarasikan, dan lahirlah Pancasila dan UUD 1945. Terpenuhi sudah syarat ontologis yang dibutuhkan Indonesia untuk menjadi sebuah negara-bangsa (nation-state) dalam lembaran sejarah peradaban dunia.

Masyarakat Terbuka

Dalam suatu kesempatan di sela-sela dialog tentang primordialisme, Mohammad Sobari pernah berujar: "Anggaplah nenek moyang kita yang terdahulu telah melakukan kesalahan yang tidak disengaja, dengan menyatakan ada bangsa yang lebih unggul dari yang lain, dan berbagai text books yang menjurus pada primodialisme dan mungkin fundamentalisme. " Lebih lanjut Sobari mengatakan, bagaimana jika kita buang jauh-jauh pemikiran itu dan kita gunakan saja hasil konsensus para pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928, yang kita kenal sekarang sebagai Sumpah Pemuda yang berisi: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa yaitu Indonesia .

Dengan semangat berbeda-beda tetapi tetap satu (Bhineka Tunggal Ika) mungkin dapat mewujudkan masyarakat yang lebih damai dan terbuka (open society), yang menurut Karl Kopper, dapat meredam radikalisme dan fundamentalisme. Sejak dahulu dalam UUD 1945 (walaupun sudah empat kali diamandemen) dikenal terminologi Indonesia asli dan dalam Pasal 2 UU Kewarganegaraan RI 2006 terdapat istilah "asli" yang berbunyi: "Yang menjadi Warga Negara Indonesia adalah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang- undang sebagai warga negara."

Sejatinya kata asli memiliki dua dimensi arti yaitu asal usul (originality) atau sejati (genuine), yang artinya sejati atau tulen. Artian asal usul sebenarnya tidaklah mempunyai dasar ilmiah yang kukuh seperti yang telah lama diuraikan bahwa sebenarnya bangsa-bangsa di kepulauan Nusantara ini pada dasarnya adalah bangsa campuran. Dalam kehidupan politik yang modern pengertian nation (bangsa) tidak dikaitkan dengan faktor etnisitas, melainkan dengan rasa solidaritas dengan sesama warga negara untuk bersama-sama mewujudkan kehidupan bernegara. Keaslian tidaklah terkait pada faktor fisik melainkan pada semangat patriotisme. Jadi Indonesia yang asli haruslah bermakna Indonesia yang sejati, yang memiliki semangat cinta Tanah Air dan seluruh bangsa, serta memandang semua komponen bangsa sebagai sesama.

Sebagai contoh jika keaslian dikaitkan dengan faktor biologis, maka etnik Jawa yang tinggal di Suriname atau orang Ambon eks KNIL, ketika mereka kembali ke Indonesia dan menjadi WNI maka mereka berhak menjadi presiden. Jadi seolah-olah lebih berhak dibandingkan dengan etnik Tionghoa, Arab , India , atau Indo yang telah turun temurun hidup di sini dan telah berjasa banyak bagi kesejahteraan bangsa. Apakah ini tidak bertentangan dengan rasa keadilan yang berketuhanan? Oknum Tionghoa yang mengacaukan ekonomi dan menyebabkan kehancuran bank, tidak membayar pajak dengan adil, menyelundupkan kekayaan negara, tidaklah dapat dikategorikan Indonesia yang sejati. Bahkan tidak dapat dikategorikan ke dalam kelompok Indonesia sama sekali. Walaupun memakai nama Indonesia dan berbahasa Indonesia dengan fasih serta mengenal sejarah perjuangan dengan baik.

Tidak dapat disangkal bahwa banyak oknum Tionghoa yang melakukan tindakan kriminal dalam bidang ekonomi dan perdagangan dan tentunya tindakan kriminal lainnya yang cukup menyakitkan bangsa Indonesia secara keseluruhan, baik etnik Tionghoa maupun Melayu. Namun di sisi lain kontribusi etnis Tionghoa khususnya dalam perekonomian Indonesia sangatlah signifikan, hal ini dapat dikaji dari sejak awal kedatangan etnis Tionghoa di Nusantara. Introduksi teknologi pengolahan pangan dan hasil pertanian seperti pembuatan gula tebu, tanaman jati, pendulangan emas dan timah, teknik pengolahan kedelai menjadi tahu, kecap, tauco misalnya merupakan teknik-teknik yang dibawa oleh orang-orang Tionghoa ke Nusantara. Atas sumbangsih tersebut mungkin anak cucu mereka kini berhak menikmati buah karya leluhurnya tersebut.

Dalam kehidupan modern, etnik Tionghoa menyumbangkan tenaganya dalam bidang perdagangan dan telah menyediakan jutaan lapangan pekerjaan bagi semua pihak. Tidak sedikit yang banyak berkarya dalam bidang olahraga, ilmu pengetahuan, kedokteran, hukum, perhubungan, keteknikan, pendidikan, dan hampir semua bidang profesi lainnya. Bahkan ada umat Khonghucu (Yap Tjwan Bing) yang menjadi anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia ) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia ). Perlu dicatat pula bahwa sewaktu teks Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dibacakan, tempatnya di rumah seorang Tionghoa Khonghucu bernama Sie Kong Liong, di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta (sekarang rumah tersebut dijadikan Museum Sumpah Pemuda). Hingga detik ini sumbangan etnik Tionghoa dalam berbagai sektor cukup besar. Tindakan Diskriminatif Fenomena penjarahan toko-toko milik etnik Tionghoa adalah buah dari tidak konsistennya produk hukum dari penguasa dalam kaitannya dengan etnis Tionghoa, serta masih banyaknya tindakan diskriminatif lainnya.

Contoh paling konkret adalah diskriminasi di bidang birokrasi seperti masalah SBKRI yang kadang dipelesetkan menjadi "Surat Bukti Kebodohan Republik Ini" dari arti yang sebenarnya yaitu Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia , kasus pencatatan akta kelahiran, dan lain-lain. Kasus-kasus tersebut merupakan salah satu petunjuk masih kuatnya budaya kesukuan (primordialisme) pada sebagian kalangan di Indonesia . Kelompok rasialis ini bukan saja telah merusak etnis tertentu, melainkan juga telah merusak ekonomi negara secara keseluruhan. Dengan adanya UU Kewarganegaraan yang baru-baru ini disahkan mudah-mudahan hal-hal tersebut tidak terjadi lagi di masa mendatang. Dan juga jangan sampai aturan yang telah disepakati bersama tersebut dinodai oleh praktek-praktek oknum rasialis yang mungkin masih tetap ada di bumi Indonesia tercinta ini. Namun di balik itu semua komunitas Tionghoa Indonesia juga jangan terlalu terbuai dengan tuntutan hak-haknya semata melainkan juga harus mengimbanginya dengan kewajibannya sebagai warga negara yang baik sesuai dengan konstitusi. Maka dari itu komunitas Tionghoa juga harus belajar membuka diri menuju open society, sebab terkadang teman-teman Tionghoa juga sering kali bersikap eksklusif dalam hal ini kurang membaur.

Sebagai contoh, masih banyak orang Tionghoa yang menggunakan bahasa Tionghoa di khasanah publik dan hidup berkelompok (pecinan). Hal ini tanpa disadari tidak sesuai dengan isi Sumpah Pemuda. Etnis Tionghoa hendaknya memang tidak usah ragu-ragu dalam membina negara dan bangsa Indonesia karena memang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari negeri ini. Kontribusi etnis Tionghoa dalam membangun negara dan bangsa Indonesia tidaklah sedikit. Mulai sekarang etnis Tionghoa Indonesia haruslah merasa benar-benar at home di negara ini. Setiap individu Tionghoa harus aktif menangkis tuduhan-tuduhan yang tidak adil sesuai tugas dan kewajibannya sebagai warga negara Indonesia yang baik. Keadaan demografi dan landsekap politik sekarang ini sangatlah berbeda. Konsep kebangsaan lama yang terlalu menekankan homogenitas di atas keberagamaan tidaklah mengikuti irama zaman. Kebudayaan yang kita hadapi bukan cuma nasional tetapi juga multinasional. Konfigurasi kebudayaan Indonesia akan semakin mendekati konfigurasi kebudayaan dunia.

Indonesia akan menghadapi kenyataan semakin berkembangnya kebudayaan Amerika, Eropa, Arab , China , Jepang , Korea , India , dan sebagainya. Keanekaan tidak hanya antarsuku bangsa yang telah ada, tetapi dengan kebudayaan bangsa lain. Jadi konsep kebangsaan zaman kini mungkin haruslah menjadi suatu konsep yang terbuka dan semakin menuju pada semangat internasionalisme yang merujuk pada perdamaian dunia. Selaras dengan apa yang dikatakan Confucius bahwa Semua Manusia adalah Bersaudara (All Men are Brothers and Sisters).

Nasionalisme dan rasa cinta Indonesia yang tak bersekat etnis, ras dan agama

Nasionalisme dan rasa cinta Indonesia yang tak bersekat etnis, ras dan agama



Kebiasaan gw sejak gabung di milis Budaya Tioghua adalah mengCopast semua email yang sudah di bundel dalam sistem Daily digest kedalam file Onenote gw, karena maksud dan tujuan gw gabung di milis ini Cuma buat jadi member pasif aja kalo memang ada obrolan yang sangat menarik di gw baru deh gw nimbrung dan perpartisipasi. Tapi selebihnya yyaaah gw Cuma baca2 tulisan orang aja dan tadi malem pas gw baca2 lagi (ga da kerjaan karena mati lampu) gw nemu tulisan yang berjudul: Etnis Tionghoa dan Sumpah Pemuda yang ditulis oleh Kristan, nama ini rasanya kaga asing lagi bagi gw, rasa2nya pernah gw baca di mana gituuu… dan ternyata gw baca nama dia di buku yang berjudul Jadi cokin siapa takut? Buku ini juga kerena banget, disini si Kristan nulis kalo ga salah dua buah tulisan (bukunya berbentuk kumpulan tulisan2 dari berbagai penulis) mengenai hukum dan politik yang berkaitan dengan eksstensi etnis Tionghua di Indonesia.

Tapi yaudah lah gw ga bakalan bahas buku itu, tapi tulisan Kristan yang gw temuin di milis budaya Tionghua gw benar-benar tertarik dengan pemikiran-pemikiran cerdasnya di tulisan ini dan seketika rasa nasionalisme gw memuncak (walaupun gw selama ini memang udah cinta buuuanget sama Indonesia hehehe) gw jadi tercerahkan bahwa sebagai negara bangsa (atau lebih tepatnya negara bangsa-bangsa)masih terdapat ideologi2 primordialisme yang sangat menjunjung paham kedaerahan, kristan juga mengkiritisi penguunaan kata Indonesia asli yang terdapat didalam konstitusi kita alias UUD 45, cerdas banget!! Yang mana sih yang orang Indoneisa asli tiu? Kata askli aja memiliki dua makna:

"

Sejatinya kata asli memiliki dua dimensi arti yaitu asal usul (originality) atau sejati (genuine), yang artinya sejati atau tulen. Artian asal usul sebenarnya tidaklah mempunyai dasar ilmiah yang kukuh seperti yang telah lama diuraikan bahwa sebenarnya bangsa-bangsa di kepulauan Nusantara ini pada dasarnya adalah bangsa campuran. Dalam kehidupan politik yang modern pengertian nation (bangsa) tidak dikaitkan dengan faktor etnisitas, melainkan dengan rasa solidaritas dengan sesama warga negara untuk bersama-sama mewujudkan kehidupan bernegara. Keaslian tidaklah terkait pada faktor fisik melainkan pada semangat patriotisme. Jadi Indonesia yang asli haruslah bermakna Indonesia yang sejati, yang memiliki semangat cinta Tanah Air dan seluruh bangsa, serta memandang semua komponen bangsa sebagai sesama"

Nah benerkan?? Jadi udah ga jamannya lagi kalau lw bersikap diskrimitanif terhadap sodara2 Tionghoa kita dengan ngatain mereka Cina yang bukan orang Indonesia, cina tidak nasionalis dan sebagainya, Come on kita satu Indonesia!! Tiba2 juga gw jadi inget berdebatan gw waktu KKN (kuliah kerja nyata) sama teman KKN gw yang latar belakangnya ilmu politik dan hukum tataegara tentang kenapa orang Tionghua masih mendapat diskriminasi di negri ini, dan yang parahnya mereka berdua berpendapat kalau "cina-cina itu"(maaf gw Cuma ngutip kata2 yang keluar dari mulut kedua teman gw ini) memang sudah sepantasnya mendapatkan perlakuan yang tidak adil karena mereka bukan orang Indonesia asli tapi berasal dari Cina. Yang bikin gw kesal lagi kenapa gw kurang bisa meng komunikasikan pemekiran gw yang kurang lebih sama dengan Kristan bahwa asli atau tidaknya orang Indonesia tidak dilihat dari ras atau etnistas mereka, Tapi patriotisme dan pengakuan diri yang menyatakan bahwa mereka orang Indonesia tulen dan cinta Indonesia.

Your body is your Right

Your body is your Right


Aneh aja gitu kenapa pemerintah kurang kerjaan ngurusin urusan syahwat dan tubuk rakyatnya (kalo masalah tubuh agaknya yang banyak jadir korban dari UU Pornografi yang konyol ini adalah wanita).

Urusan sek yang kalau dirinci lagi didalam UU itu adalah masalah posisi dalam ML dan juga masalah orientasi seksual yang dianggap oleh pemerintah sebagai sesuatu yang menyimbang (gay dan lesbian atau secara umum adalah orientasi selain heteroseksual) juga dibahas, yang ini juga bisa dilihat sebagai manifestasi kekonyolan pemerintah seks dan segala macem atributnya adalah urusan pribadi sesorang yang berada diranah privat. Demikian juga ddengan orientasi seksual orang2 yang beragam bukanlah urusan pemerintah atau satu pihak tertentu, mengenai menyimbang atau tidaknya aktifitas dari orentasi seksual orang kebanyakan lagi2 juga bukan urusan pemerintah dan terlepas dari apapun orientasi seksual seseorang segala macem aktivitas seksual yang dilakukan secara dpribadi dan tidak dipertontonkan didepan umum dan tidak menganggu masyarakat tidak bisa dikatakan pelanggaran bukan??

Wahhh..wah ternyata UU ini sangat dikaitkan juga dengan masalah moral dan akhlak!! Dari mana datangnya moral dan akhlak? Cara berpakaian tidak ada sangkut pautnya dengan moral dan akhlak, tidak pernah terjadi kausus pemerkosaan ataupun tindak pidana yang berhubungan dengan kesopanan pada kehidipan orang Asmat di Papua yang tidak menutupi payudara dan penis mereka !!

Perempuan selalu disalahkan atas boboroknya moral bangsa ini, perempuan selalu disalahkan karena tidak bertanggung jawab dengan tubuh mereka. Mereka dipaksa menutup tubuh… kenapa laki-laki tidak? Jelas pemikiran ini adalah produk dari budaya patriaki yang selama ini membesarkan kita di indonesia, gw mang jadi agak feminist sejak ngabil mata kuliah antropologi wanita semester ini :)

Trus defenisi pornonya juga ndak jelas disini, gimana dengan penari bali?gimana dengan pakaian tradisional papua? Pronokah?

Stupid POLICY made by Stupid POPLE

Kamis, 30 Oktober 2008




Overview

User Rating:

2.3/10 3,404 votes

Bottom 100: #89 (register to vote)

Director:

Ian Iqbal Rashid

Writer:

Annmarie Morais (written by)

Release Date:

25 January 2008 (USA) more

Genre:

Drama more

Tagline:

Set your dreams in motion.

Plot:

Following her sister's death from drug addiction, a high school student is forced to leave her private school to return to her old, crime-filled neighborhood where she re-kindles an unlikely passion for the competitive world of step dancing. | full synopsis

Plot Keywords:

African American | Stepping | Step Dancing | Loss Of Sister | Teen

more

Awards:

1 nomination more

NewsDesk:

Movie Reviews: 'How She Move'

(From Studio Briefing. 25 January 2008)

User Comments:

Stepping Is Music, So Why the Music? more

HOW SHE MOVE

HOW SHE MOVE



Men gw barusan nonton pilem keren banget judulnya : how she move. Duh keren banget ni film, beda dari film2 musikal dan berbau dance yang bernah gw liat sebelumnya kaya high school musical (rada banci gituh, trus ada bring it on (yang ini kerena dari yang yang pertama tadi, apa lagi yang seri terakhir), trus ada juga film musikal yang judulnya rent (bernuansa drama tapi banyak pesan moralnya) yang bikin beda dari film ini karena…

Lebih nge-bit aja musiknya, dan yang paling penting adalah musik dan tarian ini adalah bagian dari kultur dan budaya orang African amerikan sonoh, secara gw calon antropolog dan akhir2 ini gw lagi terobsesi dengan gejala diaspora atau persebaran dan migrasi suatu suku bangsa dari daerah asal mereka. Nah gw pikir untuk ukuran black people yang ada di amerika sana mereka tidak terlalu lama bermigrasi atau dimigasrikan (korban jual beli budak orang eropah sialan) dari tanah leluhur mereka di benua afrika, yah kurang lebih sama lah rentang waktunya dengan orang-orang tionghoa di indonesia. Tapi untuk ukuran yang seperti itu kenapa atribut asli yang menyertai mereka dari tanah leluhur seperti pakaian, agama dan bahasa (yang paling mudah diliat kayanya) ga keliatan lagi di kehidupa orang2 afrika-amerika. Dimanapun orang tionghoa berada dan berapa lamapun mereka terpisah dari tanah leluhur didataran cina tetap banyak atribut asli yang masih bertahan.

Eeh kok tulisan gw melenceng jadi terlalu ilmiah getuh (maklum lah gw kan emamng cerdas hehehe)balik lagi ke film. Yah lagi2 karena kecintaan terhadap ilmu ini juga yang membuat gw sedikit meihat film ini dari kacamata antropologis, kayanya sisa2 jiwa suku pedalaman afrika yang masih di fase hunter and gather (bahkan belom pastoral) masih dapat dilihat sisa2nya kecintaan orang kuliat hitam pada musik RnB dan tarian jalanan, secara psikologis mungkin juga tarian dan musik ini merupakan mentuk peluapan emosi diri mereka. Trus si bintang utama Ray diceritakan tinggal disebuah pemukiman warga kulit hitam Amerika, asik juga melihat bagaimana komunitas ini berinteraksi, dan sekilas kita kebanyakan melihat bahwa kehidupan orang kulit hitam dekat dengan kekerasan dan stereotipe terhadap mereka kebanyakan negatif. MMhhhh kalo lw liat sejarahnya mereka adalah orang-orang kuat nan tangguh, karena mereka harus tetap survive sebagai budak yang diculik dan dibawa secara paksa dari tanah leluhur mereka di di benua afrika, silakan liat lebih dalam di : http://en.wikipedia.org/wiki/Atlantic_slave_trade.

tapi emang keren banget ni film bikin gw terharu juga karena dia berhasil survive dengan teman2 sepergaulan seperti itu, dan setiap orang punya pilihan masing2 Ray memilih untuk tidak mengikuti jejak kakak perempuannya yang mati karena OD. Musik nya keren banget bikin lw semangat, 8 dari 10 bintang buat film ini.

Rabu, 29 Oktober 2008

DEBAT SUBSTANTIVIS DAN FORMALIS DALAM PERKEMBANGAN AWAL ANTROPOLOGI EKONOMI

DEBAT SUBSTANTIVIS DAN FORMALIS DALAM PERKEMBANGAN AWAL ANTROPOLOGI EKONOMI


  1. kontroversi antara disiplin ilmu dengan ilmu sosial
  2. debat formalis dan substantivis
  3. perkembangan antropologi ekonomi setelah era debat

Buku-buku text kuliah sekarang cenderung memberi kesan kalau antropologi adalah ilmu yang cenderung stag dan tidak berkembang, padahal antropologi adalah ilmu yang selalu berkembang dan selalu berubah.

Polanyi membedakan ekonomi menjadi formal dan substansial, formal dalam arti ini formal berarti ekonomi seperti yang diterangkan oleh ilmu ekonomi yang dikenal sebagai proses maksimalisasi dan berorientasi kepada profit. Sedangkan substansial berarti upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup ditengah lingkungan alam dan lingkungan sosialnya. Dalam arti substantif setiap masyarakat modern, tradisional, atau primitif pasti memiliki ekonomi. Polanyi sendiri adalah salah satu tokoh substantif yang berpendapat bahwa, ekonomi substantif lah yang berlaku universal hal ini didukung oleh pemikiran bahwa didalam masyarakat manapun sistem ekonomi atau kegiatan perekonomian akan berkembang sesuai dengan nilai-nilai budaya setempat. Ditambahkan juga oleh Dalton yang juga beraliran sama dengan Polanyi bahwa teori ekonomi modern tidak dapat dipakai untuk mempelajari masyarakat primitif atau tradisional karena, metode teori ekonomi berkembang dan dimentuk oleh ciri utama inggris diabad ke 19 yaitu industrialisasi pasar dan organisasi pasar. Ciri lain dari mekanisme pasar yaitu adanya sifat ketergantungan : semua kehidupan materi diambil dari menjual sesuatu dengan mekanisme pasar.

Menurut saya perbedaan ini akan sangat berdampak pada perkembangan antropologi ekonomi kedepan karena perkembangan ilmu ini kedepan akan berpijak pada kedua pendapat ini.

Setelah masa perdebatan yang mereda dengan sendirinya (sekitar pertengahan tahun 70 an) perkembangan antropologi ekonomi sebagai satu disiplin yang mulai mantap bertambah komlpleks. Khasanah keilmuan antropologi ekonomi bertambah dengan adanya dua aliran baru, yang pertama adalah Ekonomi baru yang mendapat pengaruh dari gagasan-gagasan Marx dan yang kedua adalah Ekonomi personalisme. Dengan begitu debat substantivis dan formalis tidak menjadi sia-sia karena kedua pemikiran ini masih dapat dilihat sebagai sesuatu yang saling melengkapi (walaupun sudah mengalami perombakan) di dalam aliran Ekonomi baru dan Ekonomi personalisme.

Untuk melihat lebih jelasnya bagaimana pemikiran Formalis dan Substantivis masih tampak dan saling mempengaruhi pada masa era setelah debat dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Paradigma

Pendukung Teori Ekonomi Pasar

Penolak Teori Ekonomi Pasar

Antropologi Ekonomi klasik

Formalisme

Substantivisme

Antropologi Ekonomi baru

Kultural Matrelial

Struktural Marxsis neo-Marxis

Ekonomi Personalisme

Ekonomi Politik

Eokomi Moral

Ekonomi personal

Pos-Modernisme

Pengadopsian gagasan Marx[1] sebagai suatu pendekatan dalam Ekonomi baru terpecah menjadi tiga golongan yaitu Kultural matralial, Struktural Marxsis, dan Neo-Marxsis. Gagasan Marx yang dipakai dalan Antropologi Ekonomi baru[2] karena adanya kesamaan yaitu keduanya mempelajari sistem ekonomi masyarakat.

Dari pemikir antropologi ekonomi baru kelompok struktural marxsis dan neo marxis (dua2nya Marxsis kan ...)jalur pemikirannya sejalan dengan Substantivis, karena ada kesamaan gagasan antara substantivis dengan Marxisme, bahwa sistem ekonomi adalah gejala yang melekat pada institusi sosial dan teori-teori ilmu ekonomi tidak dapat diterapkan secara universal. Bagi kaum Marxis pemikiran teori-teori ekonomi modern dibangun atas realita dan logika masyarakat kapitalis dan sementara itu tidak semua masyarakat didunia ini adalah kapitalis. Dalam Pengantar Antropologi Ekonomi Marxsisme Antropologi Ekonomi baru ini dianggap sebagai Substativisme ”baru” dan yang membedakannya dari substantivisme murni (yang cenderung mempelajari proses distribusi) adalah mereka lebih tertarik pada proses produksi yang mereka yakini sebagai pondasi dari sistem sosial.

Kultural matreaalisme yang dikemukakan oleh Harris lebih menempatkandirinya dikubu Formalis berpendapat bahwa kaum substantivis tidak salah menyatakan ketidak universalan Teori Ekonomi Modern, tapi mereka juga mengingkari keuniversalan Teori Logika Ekonomisasi yaitu bahwa manusia dimanapun diatas dunia selalu bergerak atas pemikiran untukg dan rugi! Jadi pendapat kultural matralisme disini ada benarnya juga, mana ada manusia (bahkan yang paling primitif sekalipun) yang tidak mendasarkan aktivitas ekonominya pada untung dan rugi.

Kemudian diluar ekonomi baru muncul paradigma Ekonomi Personalisasi yang tidak menggunakan gagasan Marx sebagai analisa, mempelajari kondisi keadaan masyarakat Peasant atau pedesaan yang miskin dan menderita. Dalam sudut pandang paadigma Ekonomi personalisasi sistem sosial ditampilkan sebagai sistem yang dioperasikan oleh manusia. Pemikiran Ekonomi personalisme yang dikemukakan oleh Popkin melihat bahwa kehidipan petani pedesaan atau Peasant digambarkan sebagai masyarakat yang harmoni kehidupannya stabil dan desa dilihat sebagai institusi sosial yang berkepentingan untuk menjaga kepentingan hidup warganya. Pemberontakan yang dilakukan oleh kaum peasant dilihat sebagai akibat dari terancamnya harmoni kehidupan mereka oleh ekonomi kapitalistik dari kota. Tapi buku ini kemudian mendapat kritikan dari Scott yang berpendapat bahwa kehidupan dipedesaan bukanlah sesuatu yang harmonis, dan bentuk hubungan harmonis yang dikemukakan oleh Popkin menurut Scott adalah hubungan Patron Klien yang berisifat Eksploitatif. Apabila terjadi pemberontakan itu disebabkan oleh karena mereka ingin mendapat tempat di Ekonomi baru dan kembali kalau hal ini juga berarti pendukungan terhadap pendapat Harris (tentang manusia yang harusnya selalu mempartimbangkan untung dan rugi dalam kehidupan mereka)

REFERENSI

  1. Economics and cultures, Richard R. Wilk
  2. Pengantar antropologi ekonomi, Syafri Syairn et.all
  3. Hand Out mata kuliah Antropologi Ekonomi, DR. Nursyirwan Effendi


[1] Yang berawal di Prancis dan kemudian melebar ke Eropa, AS, dan Amerika Latin.

[2] Umumnya adalah doktrin determinasi infra struktur, konsep mode produksi dan konsep eksploitasi

My Visitors

mereka yang berkunjung


View My Stats