Terkejut saat memasuki pelataran parkir vihara, penuh sesak dengan mobil dan motor umat yang sedang beribadah. Ditambah sempit lagi dengan pertamhanya fungsi pelataran perkir vihara ini sebagai tempat berdagang dadakan yang menjajakan makanan (nasi lengkap dengan lauk pauk) dan juga sate. Agaknya dagangan ini hanya digelar setiap minggu diwaktu vihara penuh sesak dengan umat yang beribadah dan anak TK dan SD yang sedang bersekolah minggu.
Lengkap dengan bangku2 dan meja2 bundar, banyak keluarga yang menikmati sarapan mereka setelah beribadah di warung makan dadakan ini. Aku bertanya kepada beberapa orang yang sedang duduk diruangan lantai satu tentang Romo. Ternyata ada diatas diruangannya, tapi ga punya banyak waktu karena ada rapat jam 11. Jadinya aku hanya punya waktu kira2 setengah jam saja dengan romo. Vihara ini benar2 menjadi pusat kegiatan umat dihari minggu karena tidak hanya ibadah yang dilakukan, setiap umat bisa saling berbicara satu sama lain. Satu leluarga dan tetangga bisa lebih dekat karena mereka dapat duduk satu meja ketika sarapan di warung depan vihara. Lalu anak2 tk maupun sd dapat bermain halaman vihara yang sempit (walaupun begitu tetap ditumpukka dua buah ayunan yang tidak pernah kosong diduduki oleh anak2) dipenuhi anak2 yang berlarian kessana kemari, karena space yang tidak begitu cukup untuk bermain mereka kadang menjengkelkan para orang tua karena berlarian di sepanjang koridor, tangga, dan bahkan ruangan doa.
Ternyata vihara ini lebih besar dari pada yang aku duga, yakin bakalan nyasar ke ruangan romo kalo tidak diantar. Pertama masuk ruangan ini aku disambut dengan semerbak aroma hio, tapi aromanya lembut tak begitu menyengat seperti diklenteng diruangan sembahyang lain mungkin karena ruangan ini berAC. Kesan pertama yang aku tangkap dari Romo adalah orangnya bijaksana dan ramah ternyata memang begitu (setelah ngobrol). Berbaju kemeja, celana berbahan seperti celana kantoran, trus rambut licin (mungkin karena kebanyakan dikasi minyak rambut) disisir rata sekali (lurus benget, jadi curiga jangan2 romo pake penggaris buat menata rambut).
Keluar dari ruangan romo aku liat semuah altar yang berisi foto Ganesha dengan perbagai versi. Berbagai foto dalam ukuran kecil itu dibingkai diletakkan diatas altar yang diapit oleh patung yang tidak mirip dengan patung2 singa seperti yang banyak aku jumpai di gedung2 suci di china town ini (tidak mirip dengan gaya patung2 singa yang kental dengan nuansa keBudhaan Cina). Aneh banget padahal Ganesha adalah dewa Hindu (bukan Budha!!), tapi kelihatannya altar Gansha ini sudah lama tidak di sembahyangi. Terletak diantara tumpukan2 barang, sudah agak berdebu dan tidak ada sisa2 perlengkapan sembahyang seperti sesajian yang terdapat diatas latar ini [cari tau soal altar ini]. Dua kelas, sebenarnya tidak bisa disebut sebagai kelas sih karena kelas ini adalah ruangan lepas yang dibagi dua dengan pembatas triplek yang ketika aku memasuki ruangan romo sedang digunakan untuk belajar agama dan sekarang sudah kosong. Tiga orang cewek yang kira2 seumuran aku, mereka memakai baju seragam berwarna kuning, sedang berbenah merapikan ruangan aku tanyai soal jadwal sekolah minggu anak2 dan agak ragu2 mereka menjawabnya. Dan belakangan aku tau ternyata mereka adalah pengajar untuk anak2 tingkat TK dan Play group (pantersan aja mereka ga ngerti). Sepertinya mereka bukanlah seorang guru agama profesional tapi semacam sukarelawan yang diperbantukan untuk mengajar dan membimbing anak2 kecil untuk belajar agama Budha.
Aha… jadwal lengkap belajar agama untuk anak dari tingkat play group sampai SMA ternyata sudah ada tertempel rapi di dinding, baguslah aku tidak usah bertanya2 lagi. Lalu diruangan lain [cari tau nama setiap ruangan ibadah di vihara ini] sedang berlangsung semacam ujian menghafal doa. Beruntung sekali waktu aku mengunjungi rumah abu ketika itu sedang dipersiapkan upacara peringantan satu tahun kematian seseorang yang abunya dititipkan dirumah itu. Ketika memasuki ruangan itu tampak dua orang wanita yang bersembahyang untuk kerabat mereka yang dititipkan disana, mereka wanita muda yang cukup modis dengan pakaian berupa kaos ketat dan celana jeans yang juga super ketat. Mendapat kesan kalau orang muda berdoa mereka terkesan tidak niat dan hanya sekedar melakukan kewajiban saja. Didalam ruangan terdapat dua buah altar, satu yang yang tertinggi yang menyatu dengan dinding mempunyai atap dan bernentuk seperti miniatur rumah terdapat arca Budha dan beberapa dewa. Dibawahnya terdapat altar yang lebih rendah yaitu altar tempat hio lo dan juga ada satu arca dewa diatasnya.
Dan kemungkinan karena hari ini akan dilaksanakan upacara doa untuk memperingati satu tahun wafat orang yang diperabukan disini maka ruangan abu leluhur ini ditambah satu altar lagi yaitu altar untk meletakkan sesajian bagi siarwah berupa berbagai makanan vegetarian (ciak cay), bunga dan segala macamnya. Tampaknya ada seorang petugas khusus yang disiapkan oleh vihara untuk melayani umat yang akan berziarah atau berdoa untuk kerabat merekadiruangan ini. Hari ini seorang ibu membantu menyusun posisi makanan diatas altar persembahan, membantu menata potret almarumah yang akan didoakan, menyusun alas duduk bagi orang yang akan berdoa dan segala macamnya. Anak laki-laki tertua dari almarhumah menurunkan potret untuk diletakkan diatas altar sesajian, seperti biasanya setiap menyentuh benda2 yang dianggap suci seseorang memberikan hormat dahulu sebelum menyentuh benda itu (dalam hal ini peotret si almarhumah).
Sepertinya masih ada satu sarat sesajian buat upacara lagi yang kurang lengkap makanya beberapa orang keluarga tampak sedikit panik. Tak mau menunda2 akhirnya aku memutuskan untuk minta izin kesalah satu kerabat untuk diperbolehkan mengikuti upacara ini. Jawaban yang aku terima dalam nada datar dan agak terkejut seperti berfikir dalam hati: apaan sih ini, orang lagi sibuk ngurus ini itu ni anak malah pengen ikutan lagi. Dasar ga jelas, dan kayanya si ibu yang aku mintain izin setengah ga percaya didalam hati berkata: masa sih ni anak mau ikutan upacara juga?? Tapi toh aku ikut juga kegiatan mereka. terdengar percakaapan tentang aturan main penyusunan sajian dan tentang makanan seperti apa yang akan dijadikan sesajian. Ibu petugas ruangan abu leluhur ini memberi penjelasan kepada salah seorang keluarga bahwa memang yang menjadi sesajian haruslah makanan ciak cay alias makanan vegetarian. Seorang wanita tua, oma2 gitu masuk ke ruangan dengan tertatih-tatih. Duh kaki ni oma udah susah banget jalan, kayanya karena rematik, mungkin karena bakti ke orang tua makanya dipaksain juga buat dateng ke Vihara.
Upacara molor sampai setengah jam karena menunggu pemimpin upacara yang sedang mengadakan kebaktian diruangan atas, jadi aku menyempatkan ngobrol dengan seorang oma kerabat almarhum yang ternyata adalah anak perempuan dari si almarhumah. Wah ternyata memang kebanyakan orang Tonghoa selalu mengecoh aku dari wajah mereka, rasanya tadi si oma kok terkesan jutek dan sangat tidak bersahabat ternyata ramah dan enak banget diajak ngobrol. Pada dasarnya cara pemakaman diserahkan pada kesepakatan keluarga dan juga keinginan si orang mati, akan diapakankan jenazah mereka. Jadi orang Tonghoa pada masa sekarang ini lebih banyak memilih metode kremasi sebagai perlakuan pada zenazah, penguburan menjadi tidak begitu popler karena alasan ekonomi dan kepraktisan. Sehabis dikremasipun abu boleh di tabur di lautan atau di simpan disumah atau dirumah abu. Nah oma ini lebih memilih abunya ditaburkan di laut kalau dia meninggal nanti katanya, katanya supaya lebih merasa bebas dialam sana.
Lagi asik2 ngobrol tiba diba masuk tiga orang ibu pandita berjubah kuning cerah menyenandungkan kata2 “namo ami to fo” berulangkali sambil mengetuk2 lonceng. Semua orang berdiri, ibu petugas yang tadi kerjaanya menata meja sesajian kemudian membagi2 kan buku Budha sutra, buku doa2 untuk arwah dan keluarga yang ditinggalkan dan mengeluarkan sebuah alat musik pukul yang terbuat dari kayu (ketuknya bunder gitu, tapi ada rongga di bagian dalam nya jadi bunyinya kira2 seperti bunyi orang jualan pangsit gitu). Jadi ternyata tiga tas olah raga bersar yang biasa dipake orang buat olah raga itu berisi perlengkapan doa seperti berbagai alat musik, buku-buku doa dan sebagainya. Jadi kalau ada panggilan untuk memimpin doa disuatu tempat sang Pandita tinggal bawa tas yang udah lengkap isinya.
Sebenarnya ada empat orang yang rohaniawan yang mendapingi upacara ini dan keempatnya adalah wanita, tapi ada salah seorang diantara mereka yang tidak mengenakan jubah kuning tapi ikutan memegang alat musik pengiring doa jadi aku tidak begitu tahu apakah beliau juga bertugas dalam mendamping umat dalam upacara ini. Jadi keempat orang ini (termasuk yang tidak megenakan jubah) meimpin doa dalam bahasa Tiongkok dan kelimanya berdoa sambil memegang alat musik. Si oma yang baik hati tadi memastikan aku medapat satu buku Budha Sutra ketika buku itu dibagi2kan kepada keluarga atau umat yang hadir. Sementara itu tiga diantara anggota keluarga berdiri didepan altar sesajian sambil memegang hio dan buku Budha sutra. Disela2 membaca doa adakalanya ketiga anggota keluarga ini membungkin didepan altar. Tapi sepertinya mereka bertiga tidak begitu mengerti kapan waktunya meerka membungkuk memberkan penghormatan, karena ibu petugas ruangan memberikan instruksi mereka untuk membungkuk ketika tiba waktunya mereka untuk membungkuk.
Sebelum dimulai upacara tadi aku dapat kenalan seorang ibu lainnya yang juga kut dalam upacara peringatan satu tahun kematian ini, dia tanya aku apakah aku anggota keluarga atau tidak. Mungkin aneh bagi dia karena aku ga ada tampang Tonghoa tetapi ikut mendoakan. Aku sih jujur aja bilang kalo aku mahasiswa yang sedang mngerjakan tugas, karena kayanya strategi ini yang paling efekif. Benar saja si ibu jadi seakan punya kewajiban untuk memberikan bimbingan pada aku selama doa ini, selalu memastikan bahwa aku tidak keketinggalan mengikuti setiap kata yang dibaca di buku Budha sutra, setiap kali aku celingak celinguk liat kesebelah karena ketinggalan bacaan si ibu dengan bersemangat memberi petunjuk bacaan yang benar. Padahal kan aku ga benar2 membaca doa itu. Namanya juga observasi jadi ya… melihat bagaimana wajah dan emosi orang2 yang membaca doa dari raut wajah mereka juga penting (karena termasik dalam variabel data yang akan dikumpulkan hehe…). Ada yang khusuk sekali ada juga yang membaca dengan tidak begitu serius. Ada yang sudah hafal diluar kepala tapi lebih banyak yang membaca contekan di buku Budha sutra mereka masing2.
Bacaan ini ditutup dengan bersujud tiga kali ke Budha, lalu berlanjut ke meditasi yang diiringi oleh semacam renungan hakikat tubuh manusia tentang rapuhnya tubuh manusia ini, tentang bagaimana tubuh ini begitu kotor dan tidak ada apa2nya. Karena tubuh ini hanya akan menjadi bangkai yang menjadi santapan hewan ketika mati nantinya. Pokoknya kata-katanya bikin kita instrospeksi deh kalau kita manusia hanyalah seonggok daging dan tulang, makhluk yang lemah. Ditengah-tengah meditas ini ada umat yang memutuskan tidak lemanjutkan maka diapun memberikan sujud dan penghormatan kearah Budha lalu keluar ruangan (jadi ternyata bagian ini tidak terlalu mengikat umat untuk ikut). Lalu ada doa dalam bahasa Indonesia agar arwah selamat dan diterima disisi Tuhan.
Upacara selesai dan aku segera cegat ibu2 pandita, sebelum mereka keburu kabur ketempat lain. Ngobrol sedikit (percakapan persahabatan kalo menurut Spradley) tapi sedikit memasukkan unsur pertanyaan etnografis didalamnya. Jadi upacara ini pada dasarnya tujuannya adalah untuk mendoakan arwah agar tenang di alamnya dan agar keluarga diberi ketenangan dan kesabaran. Makanan yang jadi sesajian dan persembahan dalam upacara ini adalah makanan vegetarian yang tidak mengandung daging, keluarga yang membawa dari rumah atau boleh kalau keluarga tidak sempat atau tidak mau repot juga bisa minta tolong pada vihara untuk memasakkan makanan karena sepertinya vihara punya layanan khusus dalam membantu umat untuk urusan ini.
Lantas makanan ini setelah upacara akan diapakan?? Aku tidak mendapat jawaban yang begitu jelas untuk pertannyaan ini. Karena makanan ini sepertinya dimasak dengan kaidah memasak yang benar, maksudnya benar-benar dimasak seperi memasak makanan untuk dimakan sehari-hari. Lagian mereka terlihat begitu menggoda dan wangi (Mmhhm they looks yummy). Jadi seharusnya makanan yang menjadi persembahan bagi arwah tetap dimasak dan diberi perlakuan seperti makanan manusia. Jadinya seperti kata ibu pandita makanan ini nantinya akan dimakan lagi oleh siapa yang mau (khususnya bagi keluarga yang kaya makanan tidak akan dibawa ulang lagi). Nah masalahnya siapa yang akan memakan makanan-makannan ini, siapa yang mau memakan?? Apakah umat yang kebetulan hadir di vihara ataukah para rohaniawan yang ada divihara? Apakah makanan akan diberikan kepada pengurus viahara sebagai bentuk derma oleh keluarga yang punya hajatan? Seperti apa persepsi orang-orang terhadap makanan-makanan ini apakah ada perasaan malu atau tidak enak diantara orang Tionghoa kalau mereka memakan makanan sisa sesajian sembahyang (walaupun makanan ini sebenarnya bukan makanan yang benar-benar sisa karena sama sekali tidak disentuhkan karena hanya ditaruh diatas altar saja selama sembahyang). [nanti telusuri lebih dalam lagi soal makanan persembahan dalam sembahyang ini]
Ada sebuah kertas kuning bertuliskan aksara Cina yang dibakar di hio lo yang terletak di altar luar ruangan abu leluhur ternyata adalah nama dari si almarhumah yang didoakan. Kelihatan ibu Pandita agak menekankan kalau ini bukannya percaya tahayul tapi dilakukan agar kita tidak lupa akan si almarhum dikemudian hari. Kenapa begitu khawatir kalau yang dilakukan ini bukanlah sebuah tahayul?? Mungkin karena bagian ritual yang ini tidak merupakan bagian dari ajaran Budha yang yang sebenarnya (bercampur dengan tradisi Tionghoa) [baru pendapat pribadi sih, jadi perlu ditelusuri lebih dalam]. Lalu juga ada kim cua (kertas mas) dan kertas perak yang telah dilipat yang ditaruh didalam bungkusan kantong plastik. Setelah konfirm ke pandita menurutbeliau bagian ritual yang memberkati kim cua dan membakarnya adalah lebih kepada tradisi orang Tionghoa karena dalam ajaran agama Budha tidak ada yang seperti itu. Pantas tidak ditemukan tempat pembakaran kim cua dihalaman vihara seperti yang ada di halaman klenteng.
Lalu setelah ngobrol bareng bu Pandita aku dikasi bakpau dan air mineral sama si ibu yang agak jutek tadi (ga jelas juga apa bakpaunya adalah bakpau yang diatas altar atau sisa bakpau yang berlebih yang tidak jadi ditaruh diatas altar). Duh baik juga ternyata si ibu, dan agak ragu-ragu memberi tau aku kalau bakpaunya ga pake bak (babi) kok. *dalam hati: duh buk saya omnivora kok jadi jangan khawatir saya bisa makan apa aja*. Dan ternyata bakpaunya ueenak banget, rotinya lembut dan isiannya sayur-sayuran yang gurih dan agak manis…mmhhmm Yummy..
---à besok kalo ke vihara lagi minggu besok ada upacara seperti ini lagi ga ya??biar kebagian bakpau lagi maksudnya huehehe…
“Perjalanan panjang usaha integrasi etnis Tionghoa untuk menjadi seorang Indonesia”
Kita semua sedang dalam proses perubahan, bersentuhan dengan kebudayaan dan kebiasaan yang berlainan dengan kebudayaan dan kebiasaan yang kita punya. Hampir tidak ada kebudayaan yang tidak tersentuh atau dipengaruhi oleh kebudayaan lain, sama benarnya jika kita mengatakan bahwa hampir tidak ada masyarakat yang hidup dalam keadaan terisolasi. Semua kebudayaan pada tingkat peradaban apapun sedang dalam pergerakan.
Bumi nusantara ini sudah sejak lama menjadi seperti magnet bagi “bangsa-bangsa asing”, letak geografis yang strategis dan kekayaan alam yang melimpah manjadi salah satu alasan bagi mereka si pemilik kebudayaan asing untuk datang ke nusantara. Mereka datang untuk sekedar berkunjung, berdagang, menjalin diplomasi ada yang tinggal untuk waktu sementara namun ada juga yang menetap dan kawin mawin dengan orang lokal.
Persentuhan bangsa Tionghoa atau orang Cina yang berasal dari negeri Tiongkok terjadi sudah semenjak lama. Sumber tertulis pertama yang menyatakan persentuhan atau interaksi orang cina dengan penduduk nusantara adalah catatan cina tentang terdamparnya seorang pendeta Budha bernama Fa Hsien (Fa Hian atau Fa Xian) disebuah pulau yang bernama Ya Wa Di, nama ini diperkirakanadalah dari bunyi bagaimana orang Cina mengucapkan Jawadwipa (bahasa Sangsekerta) untuk menyebut Jaya (Margianto 2008). Namun peninggalan-peninggalan zaman prasejarah seperti tembikar dan berbagai macam senjata yang memiliki kesamaan dengan tembikar dan senjata dengan Cina membuktikan bahwa interaksi itu sudah terjadi jauh sebelumnya.
Pemukiman orang Tionghoa baru muncul setelah terjadi pemantapan hubungan dagang antara saudagar Tionghoa dengan eksportir hasil buminusantara. Karena pada masa itu sistem pelayaran masih bergantung pada arah dan kekuatan angin, maka sembari menunggu waktu yang tepat untuk berlayar kembali kenegri mereka orang-orang Tionghoa membuat pemukiman sementara didaerah-daerah pesisir nusantara. Mungkin dikarenakan hubungan dagang yang semakin intens antara orang-orang Tionghoa dengan suku-suku nusantara pemukiman yang tadinya bersifat sementara menjadi semakin kuat kedudukannya. Pemukiman ini kemudian dilengkapi dengan berbagai sarana danprasarana pendukung kehidupan sosial masyarakat Tionghoa (seperti klenteng dan rumah-rumah perkumpulan marga atau she).
Peraturan kerajaan Tiongkok menyatakan bahwa kaum perempuan tidak diizinkan keluar negri maka kaum laki-laki menjadikan para wanita pribumi sebagai pasangan mereka[1]. Dari perkawinan ini lahirlah generasi-generasi campuran yang kemudian disebut dengan berbagai sebutan yang berbeda diseluruh Indonesia. Babah, nyonya, cina peranakan, orang peranakan dan semacamnya merupakan konsep-konsep yang mengacu pada orang-orang berdarah campuran Tionghoa Indonesia. Kaum peranakan ini kawin dengan sesama mereka, dengan Tionghoa-tionghoa baru yang datang belakangan dari Cina ataudengan penduduk pribumi. Asimilasi yang terjadi begitu halus dan wajar, benturan-benturan budaya dialami oleh Tionghoa dan pribumi tapi bukanlah sebagai sesuatu yang menghambat integrasi orang tionghoa sebagai usaha untuk menjadi bagian dari penduduk nusantara.
Kaum peranakan menciptakan sebuah corak budaya baru yang unik yang berbeda tapi memiliki masing-masing sedikit dari karakter dari budaya Tiongkok dan nusantara. Budaya hibrida memperkaya corak budaya bangsa ini bahkan tidak bisa dikatakan sekedar memperkaya corak budaya bangsa saja. Tapi berbagai kontribusi disumbangkan oleh kaum peranakan, dalam hal pakaian orang madura telah mengadopsi syle pakaian mereka dari baju ala Tionghoa (baju khas kanton). Pengetahuan menjahit tidak dimiliki oleh penduduk nusantara sampai pada abad ke-15 dan 16, bangsa orang Tionghoa memperkenalkan jarum dan benang kepada mereka. Penduduk nusantara juga belajar cara mengolah lahan pertanian dari orang Tionghoa, sehingga hasil yang mereka dapatkan berlipat ganda. Dalam hal makanan banyak bahan makanan yang sebelumnya tidak dikenal dinusantara yang diperkenalkan oleh orang Tionghoa seperti kacang hijau dan tauge, tahu, taoci, mie. Belum lagi dalam hal kesenian, arsitektur dan sebagainya (Margianto, 2008).
Prinsip adu domba sudah mulai diterapkan oleh Belanda tanpa disadari oleh penduduk Indonesia prakemerdekaan, orang Tonghoa hanya dibolehkan bermukim didaerah-daerah yang sudah ditentukan inilah yang menjadi cikal bakal berbagai kampung cina yang tersebar diseluruh Indonesia (Danandjaja, 2007), bahkan untuk mempermudah koordinasi demi kepentingan pemerintah kolonial dipilihlah beberapa orang sebagai kapitein cina yang bertugas sebagai pemimpin sebuah komunitas Tionghoa dikota-kota besar. Belanda mengklasifikasi strukstur masyarakat Indonesia dalam bentuk golongan-golongan yang terstratifikasi. Walaupun secara dalam stratifikasi yang dibuat oleh Belanda kedudukan masyarakat Tionghoa berada setingkat diatas pribumu tapi hidup mereka sama menderitanya dengan pribumi karena berbagai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah kolonial sangat memberratkan, termasuk dalam penjualan hasil bumi mereka. belanda sengaja menciptakan iklim bermasyarakat yang timpang guna memecahbelah persatuan dan mencegah timbulnya kesadaran perstuan penduduk Indonesia(baik Tionghoa maupun pribumi).
Pada masa pergerakan kemerdekaan tidak sedikit sumbangsih yang diberikan masyarakat Tionghoa demi terwujudnya kemerdekaan, tiga orang anggota BPUPKI merupakan orang Tionghoa. salah seorang diantara mereka sangat disayangkan meninggal di pertiwi Indonesia dalam keadaan stateless (tidak memiliki kewaganegaraan). Pada awal kemerdekaan beberapa posisi parlemen dan mentri dikabinet orla diduduki oleh orang Tionghoa. Permasalahan baru muncul ketika perdana mentri RRC pada masa itu mengklaim semjua orang keturunan Cina atau yang berdarah Cina yang berada diluar negri merupakan warga negara RRC karena mereka menganut azas ius sanguinis. Permasaahan ini diselesaikan pemerintah RI dengan membuat perjanjian bilateral dengan RRC yang berisi tentang status dwikewarganegaraan bagi WNI keturunan Cina (orang-orang Tionghoa) sampai batas tertentu dan setelah itu mereka diberikan kesempatan untuk memilih kewarganegaraan mereka. Hal ini membuat orang-orang mempertanyakan loyalitas mereka kepada negara Indonesia.
Konflik dengan PKI yang terjadi di Indonesia merembet kepada sentimen anti Cina atau Tionghoa, mereka menjadi amuk kekesalan masa yang karena orang-orang Tionghoa dianggap dekat dengan PKI atau terlibat dengan PKI. Semenjak itu orang Tionghoa tidak diperkenankan bekerja dipemerintahan, satu-satunya akses mereka dalam mencari makan adalah dibidang perdagangan. Berdagang, membuka toko merupakan profesi utama orang Tionghoa. Ironisnya masyarakat Indonesia mencap mereka sebagai golongan yang tamak, opurtunis, binatang ekonomi, eksklusif dan segalamacam. Padahal ini dikarenakan pemerintah ataupun masyarakat Indonesia pada umumnya tidak memberi kesempatan kepada mereka, orang-orang sudah teracuni oleh pemikira-pemikiran dan stereotip negatif tentang mereka.
Kesalahan besar yang dibuat oleh pemerintah orba megenai asimilasi, suatu usaha pembauran orang Tionghoa secara budaya agar mereka dapat dianggap sebagai bagian dari bangsa Indonesia (walaupun secara hukum mereka adalah WNI). Karena konsep Indonesia berarti pribumi sedangkan pribumi diartikan sebagai sukubangsa asli yang mendiami tanah ini. Jadi pada waktu itu etnis Tionghoa tidak dianggap sebagai Indoenesia atau belum cukup Indonesia. Pembauran yang dipaksakan dan tidak semestinya ini sangat merusak struktur masyarakat dan eksistensi kebudayaan Tionghoa, semua bentuk kebudayaan Tionghoa tidak boleh ditampilkan, mereka dilarang merayakan hari-hari besar, dilarang menggunakan aksara mandarin, diarang bercakap-cakap dengan bahasa Tionghoa, dilarang beragama Konghuchu atau Tao (kedua agama ini hanya diakui sebagai aliran kepercayaan) akibatnya beramai-ramai mereka bertukar keyakinan tanpa sepenuh hati mengimani keyakinan baru mereka, dan yang paling tidak masuk akal adalah peraturan ganti nama. Hal ini sangat merusak tatanan kehidupan sosial masyarakat Tionongoa. Coba saja banyangkan bagaimana jadinya kalau anda adalah seorang Batak dan tianggap keBatakan anda itu dianggap penghalang untuk menjadi seorang Indonesia kemudia nama batak anda Hotman Siahaan (misalnya) dipaksa diubah menjadi nama Jawa karena budaya Jawa atau segala sesuatu yang berhubungan dengan Jawa dianggap merepresentasikan budaya nasional Indonesia.
Ini bisa dikatakan suatu usaha pelenyapan sebuah kebudayaan, padahal kebudayaan Tionghoa sejatinya merupakan bagian dari kebudayaan nasional. Pemerintah seharusnya tidak perlu meragukan loyalitas kebangsaan orang-orang Tionghoa kepada Indonesia ketakutan yang tidak beralasan. Bagi kebanyakan orang Tionghoa tanah air adalah tetap Indonesia sedangkan Tiongkok hanyalah tanah lelulur agaknya sama seperti orang Jawa yang sekarang menjadi warga di negara Suriname.
Dapat disimpulkan bahwa sepanjang sejarah Indonesia sebelum masuknya bangsa Eropa tidak pernah ditemukan kasus konflik antara Tionghoa dan pribumi. Sentimen anti Tionghoa dan Tionghoa dengan berbagai stereotip negatif justru timbul setelah era kolonialisasi oleh Belanda. Masalah Tionghoa berlanjut dan seakan tidak pernah redup dari panggung sejarah bangsa Indonesia pada masa pendudukan (baik Belanda maupun Jepang). setelah Indonesia merdeka Indonesia sebagai negara baru mulai menata segala sesuatu namun tetap memiliki beberapa hal yang dibenahi mengenai ketionghoaan ini. Orde baru baru pemerintah melakukan kebijakan yang bisa dikatakan sebagai usaha pemusnahan sukubangsa atau apa yang mereka sebut dengan konsep asimilasi total. Reformasi membawa angin segar bagi kehidupan orang Tionghoa di negri ini, mereka mulai diberi kesempatan untuk menjadi bagian seutuhnya dari bangsa ini, namun tidak sedikit harga yang dibayar oleh orang Tionghoa untuk mendapatkan kebebasan paskareformasi. Kerusuhan Mei ’98 benar-benar pukulan bagi mereka, amuk masa tidak dapat dibendung, toko-toko dan rumah mereka dibakar istri dan anak-anak perempuan mereka diperkosa beramai-ramai.
Berangkat dari beragam dan begitu kompleksnya malasalah etnis Tionghoa penulis penulis berpendapat bahwa hal ini seharusnya menjadi concern bagi pemerintah agar lebih bijak dalam menangani masalah ini. Apa yang telah dibangun oleh pemerintahan paska referormasi hendaknya terus dilanjutkan, penghapusan istilah pribumi dan nonpribumi dalam UU kependudukan dan UU Sistem Administrasi Kependudukan (hanya ada istilah WNI dan WNA) adalah penting adalah pentik karena ini merupakan sebuah usaha pengakuan dari pemerintah maupun segenap elemen bangsa bahwa kita semua sama. Semua suku dari NAD sampai Papua adalah Indonesia. Sedangkan orang Tionghoa sendiri dituntut untuk belajar kembali ketertinggalan mereka dalam budaya mereka sendiri karena bisa dikatakan satu generasi telah dicuri dan buta dengan kebudayaan Tionghoa. pantas jika James Danandjaja menyebutkan proses belajar kebudayaan kembali ini merupakan terapi penyembuhan amnesia yang selama ini diderita oleh orang-orang Tionghoa.
DAFTAR PUSTAKA
Danandjaja, James. Folklor Tionghoa. Jakarta. Grafiti. 2007
Erniwati. Asap hio di Ranah Minang: komunitas Tionghoa di Sumatra barat. Yogyakarta. Penerbit ombak. 2007
Hari ini bertepatan dengan waisak, ternyata perayaan atau semacam upacara telah diadakan pada pagi harinya. Memasuki vihara ini (ruangan utama), seorang ibu sedang menguras air bekas mandi rupang atau patung Budha masa kecil dengan air bunga. Air ini kemudian ditampung didalam sebuah ember dan di bungkus dengan plastik seukuran plastik pembungkus es batu, untuk kemudian boleh diambil oleh umat. Air ini dianggap suci bagi umat yang mempercainya. Posisi Budha kecil yang berdiri hanya dibalut oleh selembar kain di bagian alat vital-Nya adalah posisi ketika Dia dilahirkan, langsung bisa berdiri dan disetiap tanah yang dipijaknya tumbuh bungan teratai (lotus).
Sementara itu si Ibu yang gw tanya tentang informan yang tepat mengoper gw ke seseorang yang sepertinya adalah juga petugas atau pengurus vihara. Diki, sedang menuangkan minyak kedalam pelita-pelita. Dari logat sepertinya dia dari Jawa, katanya Romo sedang off *ajaib,, gw kira istilah of cuma dipakai oleh orang yang kerja kantoran aja*. Baru saja pulang, tadinya sih memang ada ibadah. Ternyata seorang rohaniawan Budha di vihara ini tidak digaji sehingga mereka memiliki “pekerjaan lain” yang menghasilkan gaji disamping berbhakti terhadap umat di vihara ini. Si diki ini pastilah semacam petugas juga di vihara ini yang bekerja secara voluntere.
Pelita-pelita yang di apungkan diatas cairan minyak dan air ini digantungkan di dua buah wadah berbentuk kubah yang terbuat dari logam berwarna keemasan. Kedua wadah logam tempat menggantungkan pelita-pelita ini berada di kiri dan kanan altar dewa-dewa sementara itu di dinding dekat pelita itu ditempel karton bertuliskan nama-nama umat penyumbang pelita, keempat sisi karton ini bertuliskan aksara cina, semua nama penyumbang pelita bernama cina bahkan beberapa nama ditulis dengan aksara cina juga. Karena generasi muda Tionghoa kota pada sekarang ini tidak lagi diberi nama tionghoa oleh orang tua mereka jadi gw berasumsi bahwa pastilah orang-orang didalam daftar ini adalah orang-orang tua.
Trus waktu gw lagi baca-baca brosur dan buku-buku dideket tangga beberapa orang bertampang India masuk dua orang cowok dan beberapa orang cewek. Awalnya sih ge kira mereka turis atau semacamnya tapi kemudian gw liat mereka ikutan mandiin Budha (denga hio) dan sembahyang didepa altar dewa-dewi. Cara mereka sembahyang berbeda2 ada yang duduk bersimpuh ada yang berdiri, ada yang mengatupkan kedua telapak tangan seperti orang kristen ada juga cara berdoa yang belon pernah gw liat sebelumnya (menyambungkan kedua telapak tangan dengan mempertautkan jari2, jadi telapak tangan mengarah ke dada sedangkan kedua jempol menghadap ke atas) belum pernah melihat yang seperti ini sebemumnya. MMhhhmm mungkin tradisi Hindu atau semacamnya dari India. Dan ga salah liat lagi gw cowok-yang-berdoa-dengan-cara-yang-belom-pernah-gw liat-sebelumnya membuat tanda salib didadanya setelah berdoa didepan altar (agak aneh ya...)
Gw nyari2 kesempatan buat ngobrol bareng mereka, tapi ga lucu kan kalo mereka lagi ibadah gw recoki dengan pertanyaan2 yang bernada sok akrab. Satu yang sama dengan kebiasaan orang tionghoa berdoa, mereka juga menggunakan dupa atau hio. Tapi tetep aja dupa2 itu keliatan janggal ditangan mereka, tidak seperti gerakan orang tionghoa yang memegang hio mereka ketika sembahyang diklenteng. Akhirnya setelag mereka menancapkan hio di hio lo yang terletak di pelataran vihara (berasumsi pada tahap ini mustinya ibadah telah selesai dilakukan).
Gw nyapa cowo-yang-berdoa-dengan-cara-yang-belom-pernah-gw-liat-tadi dengan bahasa Inggris. Namanya Najraf (kalo kaga salah, secara gw selalu ga pernah pay attention waktu kenalan sama orang. Kenalan, trus dua detik kemudian gw lupa nama makhluk yang barusan kenalan sama gw *biasanya gitu*) sopan, sangat sopan bahkan kalo menurut gw. Mungkin karena tersugesti dengan beberapa orang Inda lain yang pernah gw kenal. panjang lebar ngobrol kalo gw lagi bikin skripsi, kuliah di antro, tertarik dengan kebudayaan tionghoa dst... *mendominasi pembicaraan, ngobrol terus menyerocos masih dengan bahasa Inggris*.
dan...
“excuse me are u an exchange student from medical faculty?“
“yep.”
“are u Malaysian?”
“yes...”
Hahayy ngapain capek ngomong Ingris kalo kami sama2 bisa bahasa Melayu atau Indonesia. Akhirnya obrolan dilanjutkan denga bahasa Indonesia saja. Jadi gw dan teman2 baru dari Malaysia ini beranjak ke ruang berdoa selanjutnya di lantai dua, trus ngikutin ibadah mereka sampai ke ruangan lantai tiga juga. Sebenarnya mereka adalah Hindu tapi karena menurut mereka Hindu dan Budha punya banyak kesamaan makanya mereka juga berdoa di Vihara. Ketika pulang si Najraf membawa beberapa kantong plastik air mandi Budha juga.
Untuk kesekian kalinya otak gw yang supercerdas yang kecerdasannya beberapa point lebih tinggi dari skor kecerdasan otak simpanse ini melupakan hal2 kecil yang penting banget. Hari jumat kemaren setelah berpuas diri dapat menyelesaikan semua soal UTS mata kuliah SPI, berkat bantuan catatan kuliah gw yang paling setia dan yang paling gw sayang si Romlah.
Malang nian nasib si Romlah, setelah selese ujian dia gw biarkan tergeletak lesu di kelas dan gw nyelonong keluar, anjriiit. Padahal banyak catatan kuliah penting disana!!! Kenapa gw ga bisa ga bisa sedikit aja berkonsentrasi dan tidak lagi melupakan hal2 seperti ini,ga lagi ngilangin kinci, buku, deodorant, HP, kacamata deelel. Sebell tidak hanya karena telah kehilangan catatan AKA Romlah, tapi sebel karena gw udah ceroboh.
Pagi ini lengkap sudah kekesalan gw, pagi2 jam 10 sebelum menunaikan tugas gw sebagai staff laboratorium Antropologi di jurusan, gw berlari2 centil di sepanjang koridor gedung E *berharap Romlah masi bisa diselamatkan* dan tebak apa yang gw temukan. Helai demi helai halaman Romlah yang berisi catatan kuliah gw di gulung jadi satu. Najiiiiisss, ANJING KURAAAAAAAAAPPPPPPP!!!!!!!!
Dengan sehelai kertas yang ada pesannya, bunyinya gini :
Maaf ya Prabu buku lo gw ambil habis gw naksir ma buku lo....?
Makasih banyak ya ya...
Trus di halaman depan ada lagi tulisan yang kaya gini:
Kalo lo mau beli lagi ya...
Anjing kurap,, gw sumpahin ... dari tulisannya sih jelas banget tu tulisan cewek, danditambah lagi ada kata2 curhatan dan gambar2 ga jelas yang cewek banget...
Busuk banget ga sih kelakuan ni anak? Sebusuk dan seanyir bau vagina si cewek brengsek ini. Bakalan gw silet wajahnya dengan pisau cukur bekas pencukurbulu pubis penderita HIV/AIDS *biar ketularan HIV tuh sekalian wanita jalang ini*
Ketahuan banget rendah harga diri manusia hina yang paling hina dari pada gelandangan yang paling hina sedunia hina di planet terhina!!! Buku udah bulukan dan ga berbentuk masi aja diambil, bela2in pake disobek segala. Gw lebih rela buku gw ini di lempar ketong sampah dari pada dibalikkan dalam bentuk lembaran2 plus pesan2 yang menjijikkan! .
Huh...huh...huhhhh
*tersengal2, dada naik turun*
Biarin biar orang pikir gw sinting karena maki2 ga jelas di blog ini...!!
Yang penting hasrat gw untuk mnegutuk dan memaki2 sudah terpenuhi!!!
Dua hari yang lalu gw memendapatkan email diatas lengkap beserta foto2 aksi penolakan dari organisasi yang ga jelas bernama FORKABI itu *tapi entah kenapa fotonya kaga muncul* tapi ga pentinglah, cuma gambar poster bernada penghakiman dan penolakan dari segerobolan orang2 bodoh yang membawa2 dana agama (islam). Jelas banget tidak “berbudaya” *hidup budaya!!*:
Perhatikan beberapa foto yang dijepret oleh seorang sahabat saya di Jakarta. Benar, persis, gerombolan spesies dari jaman batu berulah lagi!
Nah, bagaimana menurut anda? Bagi saya sih ada 1 indikasi absolut nan sederhana: sebagian besar anggota dari perkumpulan para pengangguran itu belum pernah ke Kuta. Belum pernah menikmati riuh kosmopolitan namun damainya Kuta. Bali yang penuh senyum, aman, dan tanpa golok juga kelewang. Sedangkan sebagian kecil petinggi organisasinya yang pernah ke salah satu destinasi pariwisata terbaik di dunia itu merasa risi melihat menjamurnya perempuan berbikini dan bebasnya penjualan minuman beralkohol. Spontan saja vonis, "Maksiat!", menyembur dari mulutnya yang bau pesing (akibat melulu ngibulin 3 istri pertamanya biar bisa kawin lagi dengan bakul jamu muda nan segar tetangga sebelah, hiks). Padahal duh-gusti fakta tajam lagi sengit berbicara: di Bali, di pulau berpantai indah dan nyiur sepoi melambai, tingkat pemerkosaan serta derajat kriminalitas- --pula kecenderungan korupsi, jika mau membawa topiknya lebih melebar---jauh lebih rendah (jika sebagian dari anggota Forkabi masih buta huruf, mari saya eja: JA-UH LE-BIH REN-DAH) dibanding di Jakarta maupun daerah-daerah lain di Indonesia yang mengaku, ahem, religius. Silakan deh dicek ke insititusi terkait.
Lagipula, Forkabi mungkin lupa, jika dinamika turisme Jakarta terlalu dikekang, para wisatawan Arab Saudi (negara sumber inspirasi mereka) yang banyak berkeliaran di sekitar Menteng---dan sebagian sudah mulai merambah Kemang---niscaya bakal ogah lagi datang ke Jakarta. Lha, iya toh, wong sama aja doktrinal/konservatif/kolot/ literal/ortodoks nya kayak Riyadh, ngapain juga berpelesir ke Jakarta?
Dan menanggapi spanduk di atas kayaknya normal aja kita bikin propaganda kontra:
KAMI MENERIMA INDONESIA MENJADI NEGARA RELIGIUS.
TAPI KAMI MENOLAK INDONESIA MENJADI NEGARA PERSEMAKMURAN WAHABI DAN/ATAU TALIBAN,
MENAMPIK NUSANTARA MENJADI PUSAT PENGGEMBALAAN ONTA & LADANG KURMA,
SERTA TEGAS MENENTANG MERUYAKNYA IRAMA PADANG PASIR
(Wih, agak kepanjangan ya? Maaf, emosi soalnya, he he…)
Muslim moderat, Hindu liberal, Nasrani merdeka, Buddha rasional, Konghucu toleran, sejawat se-Nusantara pengibar Bhinneka Tunggal Ika, sudah saatnya anda melakukan sesuatu. Jangan terus diam saja. Tubuhkembang fundamentalisme secara sistematis sudah makin dalam masuk ke pori-pori negeri multi suku ini. Jelas, manuver tersebut keji mengkhianati, melukai, mengencingi, prinsip "Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu Juga". Pelan tapi pasti ranah privasi anda, kemerdekaan anda, hak asasi anda, akan tergerus makin menyempit, terus mengecil, hingga akhirnya sirna. Nihil. Nol besar.
Partai Keadilan Sejahtera telah sukses mendorong lahirnya Undang Undang Pornografi, sebuah produk hukum yang jika jeli dicermati penuh bermuatan fundamentalisme (kami, Komponen Rakyat Bali, menyusul rekan-rekan lain yang telah maju duluan, dalam waktu dekat akan berangkat ke Mahkamah Konstitusi untuk mengajukan uji materi). Buka mata anda lebar-lebar, sadari sejak sekarang, bahwa sebentar lagi paguyuban saudagar kambing ini akan mengetok pintu rumah anda, meminta anda memindahkan kanal televisi---dari MTV ke sinetron bertema religi, mematikan DVD berorientasi gay, "Milk", ke film dokumenter "Sejarah Kerajaan Saudi Arabia"; mengecilkan volume stereo system di ruang tamu dus ofensif disarankan mengganti album dari sosok aseksual, Morrissey, dengan Irama Padang Pasir; menyudahi bacaan berbau "Barat" dan menggantinya dengan buku-buku agama, menghardik saudara perempuan anda yang memakai atasan yang agak memperlihatkan belahan dadanya, dan bukan tidak mungkin Ayah anda yang lulusan Ludwig Maximilian University of Munich disarankan mengganti BMW tua kesayangannya dengan, well, onta…
Mau digituin? Emoh? No way? Maka itu: LAWAN!
Merdeka Menjadi Bianglala,
RUDOLF DETHU
Komponen Rakyat Bali
Lega rasanya ada juga orang cerdas yang seide dengan saya :)
Emang susah kalo mencari jati diri budaya indonesia, tapi yang jelas budaya indonesia sendiri BUKAN berasal dari Arab, Saudi Arabia sana atau negara2 arab lainnya. Kita cuma belajar agama (islam) dari mereka!! setelah itu bagaimana kita mengapresiasi keislaman itu, menjalakan keislaman yah urusan kita dong,, lhaa itu kan disesuaikan dengan Local Geniusnya kita orang indonesia.
Islam di Jawa atau Sumatra yah beda lah dengan islam yang ada di Maroko atau Arab, ga bisa disamain! Banyak orang megadopsi budaya2 Arab dengan alasan agama *bodoh banget,, cuuuih* walaupun saya Muslim juga. Tapi saya pantang banget menghakimi orang, mari mengapresiasi budaya Indonesia yang indah ini. Tanpa menghakimi orang2 dan mencap mereka kebarat2an dalam berpakaian dan juga gaya hidup,,, kalau boleh saya tanya jilbab (yang lebih parah lagi ditambah dengan cadar) itu budaya mana sih??bukannya budaya arab sono? pake jubah plus sorban juga bukan budayanya orang Indonesia kan???
Satu masalah lagi mereka memakai terminologi “maksiat”, apasih maksiat itu? Ga bisa dong kita menyamaratakan semua ini sebagai perbuatan maksiat karena Indonesia adalah negara plural *bukan sekedar negara yang heterogen saja!*. jadi kalau teteup bersikukuh menggunakan model analisa maksiat ala “forum” ga jelas ini marilah kita melihat kata maksiat dari sudut pandang antropolgisnya bukan TEOLOGIS (karena biasanya kata maksiat sering digunakan oleh salah satu agama) !
jadi kalo "mereka" berteriak2 kita berbuat dosa dan kafir karena make jeans, tanktop dan produk2 budaya barat suruh aja mereka buka jilbab, cadar, sorban, jubah dll suruh ganti dengan blangkon, kopiah, baju kurung, baju bodo, koteka, noken, ulos dan sebagainya karena itu adalah produk budaya indonesia kan?????
Buat semua orang Indonesia, buka mata lebar2. Jangan sampai negara ini perlahan2 menjadi negara agama. NKRI harus dipertahankan!
Sabtu ini gw memutuskan untuk tidak kemana2 pertama karena suasana hati alias mood gw sedang ga karuan setelah kemaren waktu bimbingan proposal gw di corat-coret banyak perbaikan2 yang sebenarnya ga gw ngerti, “kerangka pemikiran ga jelas”, landasan teori kurang tepat dan segala macemnya. Layaknya kembang desa yang masih seger dan kenceng habis diperkosa tu proposal, saking semangatnya pembimbing gw tercinta Prof. Nursyirwan sampe bikit halaman depan sobek, ga ngerti deh kenapa gt... tapi ga papa deh namanya juga belajas khannn?? Lagian masa orang cerdas seperti gw ini kaga bisa nyelesain yang kaya beginian *strategi menantang diri sendiri, Optimis MODE: ON*
Buset tu dosen sibuk banget dan sussye banget ditemui, baru keluar kelas kalo ga keuber yah ga tau lagi deh kapan lagi mau ketemu *Huuuf jauh lebih mudah berburu brondong dari pada berburu dosen yang satu ini*. Waktu bimbingan kemaren (jumat) kaya pasien yang ngantri ada dua mahasiswa antro lain yang mau bimbingan bareng gw (kebetulan seangkatan sama gw) *nama mereka eri dan ine, nama yang norak dan aneh bukan??*. Sesuatu yang tambah gw panas adalah mereka ga mau nunggu diluar kelas, setiap kali proposal gw dicoret2 dan dikasi komentar mereka berdua perpandangan dan cekikikan seakan menikmat penderitaan gw. Lain kali kalo ada lagi dua ekor binatang serupa yang mengganggu diskusi gw dengan pembimbing bakalan gw hajar mereka *memakai baju berbahan-kulit-yang-super-ketat-ala-cat-women dan melecutkan cemeti yang mengasilkan suara lecutan mengerikan*
Lahasil hari ini semangat gw buat belajar dan baca buku meluap2 *tapi ga juga seh, tadi kebanyakan nonto TV juga*. Tergoda juga untuk melangkahkan kaki ke Warner untuk menyewa beberapa film, untung aja siang tadi panas buanget *gile aje gw berjemur di atas motor* jadi ada alasan untuk menolak gairah menonton gw yang meluap2.
Another story...
Rasanya gw mau langsung pulang dan tidur sampe sore karena suasana hati yang kacau, trus dditambah lagi ujian SEI yang kacau banget. Diluar perkiraan gw banget susahnya tu soal *yaiya lah bencong!! Lw kan kaga belajar!*. Tapi tanggung aja, mau kesekre AIESEC di PKM gw males, mau pulang nanggung, jadi gw putuskan untuk ke warnet yang di jl. Damar aja (Boogong Net) sembari menunggu kelas gw jam 7 ntar (sementara hari baru menunjukkan pukul 4 sore). Rencananya mau berburu makanan di sekitar pecinaan tapi ngapain sendirian makan ga asik banget, jadi yah dari pada gw ngabisin bensin di tangki motor gw mendinglah ngenet aja.
Oh ya gw lupa bilangin... Ceritanya gw dan pembantu gw si Hayu yang sekarang mau mengimbangi kepinteran majikannya ini sedang mengikuti sebuah kursus yang sangat penting. Skill yang dibutuhkah untuk para wanita seperti kami, kursus menjahit... Huaaalah becanda!! Ga kok kita kursus persiapan TOEFL. Gpp lah, awalnya sih gw sekedar terbujuk rayuan si Hayu aja yang butuh temen dikelas, ditambah iming2 kalo kita kursusnya dapet diskon 50% karena kita member AIESEC *secara ini bagian dari kerjasama AIESEC dengan ITI (nama lembaga kursusnya nya)* tapi sampe pertemuan ketiga ini gw sangat-sangat menikmati kelas, berasa banget manfaatnya. Ternyata banyak banget pelajaran yang selama ini gw sepelekan dalam mengahadapi TOEFL, yah disamping guru2nya yang mmmhh enak dipandang (cakep semua, kayanya persyaratan buat kerja disana harus seksi, cantik, modis dan pinter deh).
Jam 5.30 sore gw udahan ngenetnya dan janjian sama si adit di sari anggrek, banci sialan ini seperti biasa selalu telat. Alhasil gw ngungguin dia dibawah aja, melihat pengemis2 yang selalu mangkal di depan toko buku ini. Rasanya kalo udah yang ngeliat yang beginian perasaan gw jadi ga enak dan eneh gt, rasanya ga bener aja... tapi hidup memang tidak terlalu bersahabat bagi orang2 seperti mereka. Ada juga pemain musik tradisional (Minang) yang ngamen di depan sana, rabab dan rabana. Rabab ini semacem alat musin gesek yang cara mainnya di taruh di lantai, ga kaya biola yang di pegang gt, trus kalo rabana adalah alat musik pendamping rabab ini (kaya gendang gitu, bahasa indonesianya rebana). Suara yang dihasilkan dari gesekan rabab itu terdengar mistis dan seakan memberi efek relaxasi bagi gw, sedih banget seniman yang menghasilkan musik seindah itu adalah dua orang bapak yang kurus dan dekil. Kalo ada tempat yang agak nyaman dikit aja di deket2 sana buat gw duduk mau deh berlama2 menikmat alunan musik ini.
Karena kelas gw udah mepet banget waktunya gw ga sempat lagi nemenin si adit cari DVD bajakan, jadinya kita cuma makan malem di kedai si koko di jalan permindo (gw Puyunghai si adit kuei tiaw)
Beberapa artikel buat bahan mata kuliah Antropologi Linguistik untuk amy:
Beda Bahasa dan Budaya, Sakitnya...
SIAPA bilang orang Gayo Kabupaten Aceh Tengah bukan orang Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)? Kalau bahasa dan budayanya beda dari Aceh lainnya, memang benar. Akan tetapi, Tanah Gayo Aceh Tengah sejak zaman kerajaan Aceh hingga penjajahan Belanda dikenal sebagai Kabupaten Aceh Tengah. Zeingraf, tentara dan wartawan Belanda menulis dalam bukunya Acheh menyebutkan, Gayo Central Distric of Acheh.
Selain itu, ulama besar Gayo, Tengku Ilyas Leubee, adalah sahabat karib ulama karismatik Aceh, Tengku Mohd Daud Beureueh. Beberapa lelaki Gayo pemberani berjuang bersama ulama di Aceh melawan penjajahan Belanda. Dan, Rimba Raya Kecamatan Timang Gajah adalah tempat paling berjasa dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Karena dari sinilah berita-berita Indonesia telah merdeka dan kaburnya Belanda dari berbagai daerah disiarkan oleh Radio Rimba Raya. Pemancar radio Tentara Rakyat Indonesia Divisi X Gajah di Aceh Tengah berhasil diselamatkan dari pengejaran tentara Belanda.
Untuk mengingat peristiwa penting itu, Pemerintah RI membangun sebuah monumen besar Radio Rimba Raya dengan tugu yang dipuncaknya ada antena radio. Dan, Radio Rimba Raya diakui pemerintah sebagai Radio Republik Indonesia (RRI). Sebab tahun 1948, ketika itu seluruh stasiun RRI di Pulau Jawa, terutama di Jakarta, Yogya, dan Surabaya telah dihancurkan Belanda. "Untung ada Radio Rimba Raya itu," kata pakar budaya Gayo Aceh Tengah Fikar Weda menceritakan sedikit sejarah Aceh Tengah sebagai bagian dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
***
CERITA di atas hanyalah ilustrasi untuk menggambarkan betapa kuatnya ikatan persaudaraan dan kedaerahan antara Tanah Gayo yang unik karena bahasa dan budayanya yang khas dan beda dengan daerah lainnya di Provinsi NAD. Perbedaan itu dikobarkan oleh sejumlah tokoh masyarakat Aceh Tengah sebagai perbedaan dengan membesar-besarkan soal kurangnya perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) NAD terhadap pembangunan Tanah Gayo. Hingga muncul rencana membentuk provinsi baru, Leuser Antara, yang sempat diseminarkan di Medan awal tahun 2002. Tapi akhirnya rencana itu buyar dengan sendirinya karena tidak mendapat dukungan penuh dari rakyat di ketiga kabupaten tersebut.
Takengon, ibu kota Kabupaten Aceh Tengah, bisa ditempuh melalui jalur darat Bireun-Takengon yang jaraknya 110 Km. Perjalanan ke Takengon lewat Bireun memakan waktu tiga jam karena jalannya yang berkelok-kelok dan penuh tanjakan serta penurunan tajam. Jalan yang sempit membuat kendaraan harus hati-hati benar melewatinya. Pada musim hujan, jalan ini sering ditimpa bencana longsor yang mengakibatkan hubungan terputus berhari-hari lamanya.
Penduduk Kabupaten Aceh Tengah berjumlah 252.738 jiwa, tersebar di 11 kecamatan dan 197 desa serta dua kelurahan. Mata pencaharian penduduk adalah bertani, terutama kopi arabica, sayur-mayur, buah-buahan seperti jeruk keprok, alpokat, dan markisa, serta lainnya. Luas lahan perkebunan kopi daerah pegunungan yang berhawa sejuk ini 74.500 ha, sehingga Aceh Tengah terkenal sebagai produsen "Gayo Mountain Coffee", yakni kopi arabica yang diolah oleh pabrik modern di Takengon untuk diekspor ke Amerika dan Eropa.
Luas tanaman hortikultura 31.000 ha. Aceh Tengah adalah lahan hutan pinus-yang menjadi bahan baku Pabrik Kertas Kraft Aceh (KKA)-terbesar di Indonesia. Luas hutan pinusnya lebih dari 52.000 hektar.
Meski lebih dari 70 persen penduduknya hidup bergantung pada perkebunan kopi arabica dan hortikultura, namun rakyat Aceh Tengah tidak tergolong petani kaya. Bahkan, jika harga kopi merosot, mereka segera jatuh miskin atau kesulitan uang untuk belanja rumah tangga. Pusat perdagangan Aceh Tengah di Takengon 80 persen dikuasai pendatang, terutama masyarakat Padang, Cina, dan "Cina Hitam" dari Kabupaten Pidie. Karena itu, sebagian besar hasil perdagangan kopi jatuh ke tangan pedagang pendatang ini. Sementara rakyat Gayo sudah puas menguasai areal perkebunan kopi saja.
***
SETELAH berstatus sebagai daerah otonomi berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah dan UU No 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat-Daerah, Anggaran Pendapatan dan Belanja Dae-rah (APBD) Kabupaten Aceh Tengah meningkat tajam dari tahun-tahun sebelumnya yang paling tinggi Rp 250 juta menjadi Rp 232.140.372.462,06 pada tahun 2001, didukung oleh pendapatan asli daerah (PAD) 2001 sebesar Rp 4.201.413.469.
APBD Tahun 2002 ini turun menjadi Rp 217.229.510.710, terdiri dari anggaran rutin Rp 124.510.494.970 dan anggaran pembangunan Rp 92.719.015.740. Sementara PAD Tahun 2002 direncanakan Rp 5.063.894.970. Menurut Bupati Aceh Tengah Mustafa M Tamy, sasaran utama APBD adalah membenahi prasarana perhubungan dan membangun berbagai fasilitas umum.
Bahasa sehari-hari penduduk Aceh Tengah adalah bahasa Gayo Aceh Tengah. Hanya di Takengon bisa didengar warga berbicara dalam bahasa Indonesia, sedangkan orang Gayo yang bisa berbahasa Aceh bisa dihitung dengan jari. (BASRI DAHAM)
Bahasa dan budaya merupakan dua sisi mata uang yang berbeda, tetapi tidak dapat dipisahkan, karena bahasa merupakan cermin budaya dan identitas diri penuturnya. Hal ini berarti, apakah bahasa dapat mempengaruhi budaya masyarakat atau sebaliknya?, sehingga bahasa dapat menentukan kemajuan dan “mematikan” budaya bangsa.
Kepunahan bahasa? Banyaknya variasi penuturan bahasa daerah tertentu disebabkan terjadinya perbedaan budaya yang cukup kuat. Namun, menurut Prof. Dr. Arief Rahman dalam penelitiannya, di Kalimantan, misalnya, satu dari 50 bahasa tak lagi digunakan. Di Sumatera, dari 13 bahasa dua di antaranya kritis dan satu punah. Di Sulawesi, satu dari 110 bahasa telah lenyap, dan 36 dalam kondisi terancam. Di Tomor, Flores Bima dan Sumba, tercatat 50 bahasa masih bertahan, tapi delapan di antaranya terancam. Di Papua dan Halmahera, dari 271 bahasa daerah, 56 di antaranya hampir punah. Sementara itu, di Jawa tidak mengalami kepunahan (berbagai sumber).
Sungguh ironis, ketika daerah-daerah yang masih terpelihara dan sangat potensial dalam perkembangan kebudayaannya justru bahasa daerahnya terancam, bahkan sebagiannya punah. Mengapa menurut Prof Dr. Arif Rahman (Kompas, 22/5) di Jawa tidak? Bukankah institusi-nstitusi pendidikan, khususnya sekolah sebagai lembaga formal yang berwenang melaksanakan proses transformasi pengetahuan dan teknologi atau arus globalisasi dituduh sebagai tempat dimulainya pengikisan budaya daerah secara sistematis? Sementara itu, hampir semuanya tersedia di Jawa.
Penelitian yang dilakukan salah satu dosen STISI Bandung (maaf lupa namanya) dengan mengacu pada bahasa dalam Pantun Bogor, bahwa di Bogor Jawa Barat sekira tahun 1990-an bahasa asli daerah hampir sudah tidak bisa ditemukan. Secara geografis, Jawa Barat memiliki kedekatan dengan Jakarta yang nota bene bergaya hidup modern, karena itu “berseliweran” bahasa dan budaya antara kota dan desa.
Wajar saja, apabila laporan hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa volume migrasi ke Jawa Barat mengalami peningkatan. Tahun 1980 jumlah migrasi seumur hidup di Jawa Barat sebanyak 963.372 orang. Tahun 1990-an mengalami peningkatan mencapai 2.408.626 orang. Kemudian, tahun 2000 meningkat sebanyak 3.271.882 orang (PR, 29/08/2006).
Selain itu, jika dihubungkan dengan penelitian Imelda (Inovasi, Vol. 8/XVIII, 2006) bahwa di wilayah Indonesia, hilangnya bahasa secara tiba-tiba mungkin saja terjadi karena wilayah Indonesia rawan bencana alam (tempat pertemuan tiga lempengan dunia: Eurasia, Indo-Australia, dan lempeng Pasifik). Sepanjang tahun 2000-2006, Indonesia setidaknya mengalami tujuh kali gempa bumi dahsyat (lebih dari 6,2 pada skala Richter) dan dua kali tsunami. Salah satunya termasuk dalam kategori gempa terdahsyat di dunia. Gempa dan tsunami di Aceh berkekuatan 9,3 skala Richter yang memicu tsunami dengan ketinggian 10 meter, dalam catatan Owen (National Geographic, 2005) telah memakan korban meninggal dunia mencapai jumlah 240.000 orang di Aceh dan Nias. Bencana lain ialah gempa di Yogyakarta dan gempa tsunami di Selatan Jawa. Dua bencana yang terakhir ini juga menewaskan ribuan orang.
Dari jumlah korban tersebut muncul sebuah prediksi mengenai hilangnya suatu desa dan penduduknya, terutama pada desa yang berada di sepanjang pantai yang tersapu tsunami saat gempa dan tsunami Aceh. Menurut laporan Cahanar (2005: 215) bahwa 70% penduduk kota Calang tewas dalam bencana tersebut, yang menurut data statistik Pemerintah Daerah NAD dari 86.000 jumlah penduduk yang tersisa hanya 25.800 orang di Kota Calang.
Kejadian ini juga secara otomatis “dapat” berarti hilangnya keanekaragaman bahasa di Indonesia. Hilangnya bahasa berarti hilangnya budaya bangsa yang merupakan kerugian tak terhitung nilainya.
Meski data-data di atas memiliki perbedaan pernyataan dalam melihat kondisi bahasa di Jawa, tapi hal itu dapat menunjukan sebaliknya bahwa problem bahasa di Jawa sangat kompleks dan seharusnya mudah terancam. Kiranya, pernyataan Prof. Arief Rahman (Kompas, 22/05), bahwa di Jawa tidak terjadi kepunahan atau penelitian Imelda (2006), yang menyatakan bahwa jumlah penutur bahasa-bahasa nusantara semakin ke Timur semakin sediki perlu ditinjau ulang.
Meski data-data yang disajikan kedua pakar tersebut cukup argumentatif, tapi bukan berarti data-data itu sudah dianggap final. Kemungkinan kepunahan bahasa bisa saja terjadi karena masyarakat sudah sekian lama melunturkan budayanya. Dengan melihat salah satu sisi dalam pemakaian “nama” dan gelar kepemimpinan saja dapat mempengaruhi budaya masyarakat atau sebaliknya.
Misalkan, bahasa Sunda yang memiliki berbagai dialek dan susunan kata bahasa kerap kali dikaburkan penuturnya dengan objek atau subjek yang berbeda. Istilah “abah” sering ditujukan pada kakek. Padahal, kata “abah” adalah kata serapan dari bahasa Arab yang ditujukan untuk orang tua (bapak), yaitu “aba” atau “abun”, “ya’ba”, “abah”.
Di Tasikmalaya, misalnya, istilah “abah” ditemukan “abah sepuh” (bapak tua) dan “abah anom” (bapak muda). Sementara itu, di Banten lebih menggunakan “bapak kolot” (kakek). Kiranya, penuturan kata seperti itu dalam masyarakat jawa bukan dilihat hanya faktor usia, tapi dinisbatkan kepada orang-orang yang memang “dituakan” masyarakat, misalnya karena menjadi panutan.
Berbeda dengan kata “abu” (bukan nama seseorang) yang bersinonim dengan kata “embah”. Di Bogor, kata “abu” ditujukan untuk perempuan yang sudah tua (nenek). Penuturan seperti itu mungkin sudah menyalahi aturan bahasa, tapi itulah kenyataannya. Seperti halnya dalam panggeugeut (bhs Sunda), nama “Muhammad” menjadi “Mamat” (kadangkala Memet) yang dilihat dari maknanya akan terlihat jauh. “Muhammad” artinya “terpuji” berarti pula diambil dari nama nabi, sedangkan “Mamat” artinya “mati”. Dilihat dari akar bahasanya (bahasa Arab), sebenarnya kata “umi” dan “mamah” memiliki persamaan yang berarti “ibu”. Kata “ibu” bisa juga penyimpangan dari kata “abu”, begitu seterusnya.
Itulah fakta kerancuan bahasa yang terjadi di sekitar kita pada umumnya. Dan apabila dikatakan telah terjadi kepunahan, sesungguhnya telah lama terjadi. Pergaulan masyarakat Indonesia dengan suku-suku bangsa dan agama di dunia masa lalu telah mengakibatkan masyarakat banyak menyerap bahasa Asing ke dalam bahasa sehari-hari, termasuk untuk identitas diri. Misal, karena masuknya (para pedagang Arab) Islam abad ke-9 H/14 M, masyarakat banyak mengubah nama ke-Arab-arab-an.
Oleh karena itu, mengapa harus phobia dengan kehadiran bahasa-bahasa asing kalau memang budaya masih tetap dipertahankan? Atau apakah ada ketidakberesan dalam budaya kita?
Meski masyarakat masih banyak menggunakan bahasa daerah dalam penggunaan nama, tapi banyak yang mengkombinasikan bahasa daerah dengan bahasa asing, karena pengaruh asimilasi dan akulturasi budaya masyarakat dengan bahasa daerah lain atau bangsa asing. Penyerapan bahasa seperti itu berlanjut sampai sekarang, sehingga secara anekdot mungkin terjadi peranakan suku Sunda dan Rusia melahirkan nama Cecep Gorbachev, karena sampai kini banyak orang menyerap bahasa asing ke dalam bahasa daerah atau bahasa daerah yang satu dengan bahasa daerah yang lain, seperti penggunaan nama Andi dari bahasa Sulawesi diserap ke dalam bahasa Jawa.
Memang tidak ada hukum yang melarangnya, tapi persoalannya apabila bahasa yang kita pergunakan sudah tidak sesuai dengan (makna) budaya kita, sehingga akan berpengaruh dalam pensistematikaan bahasa ke dalam kehidupan sehari-hari. Masalah ini akan semakin parah apabila penggunaan bahasa asing itu sudah dianggap gengsi (vrivillege), modern dan sebagainya dan menganggap kuno bahasa dan budaya lokal. Hal ini, tentu memperkeruh budaya bangsa dalam berbahasa atau “budaya bahasa”. Di satu sisi, bahasa asing dianggap penting dalam pergulatan internasional (baca: arus globalisasi). Di sisi lain, penyerapan bahasa asing malah dianggap memperkeruh budaya bangsa.
Apa yang dimaksudkan di atas adalah agar penutur bahasa mampu membawa citra budaya bangsa yang baik. Lebih jauh, karakter budaya lokal harus mampu menghadirkan sosok Indonesia yang lebih bermartabat di mata internasional. “Biarkan lauk-pauknya dari luar (negeri), tapi nasinya tetap citra khas daerah (Indonesia)”. Artinya, bahasa asing boleh dipelajari di berbagai lembaga, instansi dan sebagainya dalam menjawab perubahan zaman, tapi bahasa dan budaya daerah tetap menjadi pokok yang dianut bangsa kita”.
Dengan demikian, tidak akan ada phobia tentang kepunahan bahasa daerah yang berarti pula punahnya budaya dan pada akhirnya kepunahan bangsa. Pandangan kehawatiran kepunahan bahasa kiranya masih abstrak –hanya dari beberapa sudut.
Tatkala bahasa yang indah tidak digunakan dengan baik, seperti “nama” indah dipergunakan penuturnya dengan banyak melakukan kejahatan, mungkin lebih baik nama (maaf) Bagong Suyatno yang prikemanusiaan dari pada Arif bin Bijak, tapi “kepribinatangan”.
Masalah ini sebenarnya merupakan masalah yang harus dilihat secara terintegrasi (seperti integrasi budaya-bahasa) dan menyeluruh, karena bahasa merupakan hasil proses yang amat panjang dari masyarakat.
Bahasa dan kemajuan budaya Seandainya benar bangsa Eropa pada masa pencerahan (aufklaerung) telah melakukan “penterjemahan” besar-besaran atas karya agung orang-orang Islam di dunia Timur, Jepang mungkin negara pertama di dunia yang mampu menterjemahkan kembali bahasa Barat tanpa meninggalkan budaya dan bahasanya, sehingga dapat sejajar dengan negara-negara Barat.
Indonesia? Dari satu sudut memang mengalami mental atas penjajahan orang-orang Barat, sehingga bahasa Inggris dianggap bahasa kafir oleh kalangan pesantren. Tapi kemudian, banyak disadari justru kekuatan lokal akan mampu membawa kemajuan dan merupakan kekuatan bangsa, termasuk budaya dan bahasa masyarkat.
Konon menurut Cak Nur dalam Teologi Industri angka nol sebenarnya berasal dari Indonesia yang pada masa kerajaan Sriwijaya dibawa pelajar India, kemudian dipatenkan oleh orang-orang Arab.
Dibandingkan Jepang, Indonesia lebih banyak budaya dan bahasanya, tapi pelestarian budaya tidak serta merta dikembangkan melalui kesadaran masyarakat dalam berbahasa. Padahal, bahasa adalah cermin budaya masyarakat. Maka, wajar ketika bahasa daerah kurang dipergunakan diperkotaan atau dalam lingkup nasional, karena masyakarat seakan tidak diberi “ruang” untuk “percaya diri” dalam menuturkannya. Selama ini, penuturan bahasa masih dilatarbelakangi “primordialisme” semata dan belum disertai “ruang” untuk menuturkan bahasa dengan bebas.
“Sensor” atas pemberitaan di berbagai media juga merupakan cermin dari pengekangan akan berbahasa. Bahkan, di berbagai media masa terlihat bahasa mengikuti trend pasar. Trend itu, terlihat juga di Indonesia ketika bahasa Jepang sudah menjadi pilihan paforit para pelajar yang kursus bahasa-bahasa Asing, karena tawaran bursa kerja yang menggiurkan. Maka, tidak heran jika lembaga-lembaga kursus memberikan tarif berbeda dalam penawaran program bahasa.
Pengekangan bahasa Secara tidak disadari pengekangan bahasa sudah semakin kuat, termasuk bias agama. Pemakaian kata “puasa” dianggap masalah, karena itu dipakai kata “shaum rhamadan” dan membenci pemakaian kata “puasa”, “anda” dengan “antum”, “saya” dengan “ana”, “saudara-saudari” dengan “ikhwan-akhwat”, “siswa” dengan “murid” dan lain-lain.
Di negara-negara Barat (baca: Amerika dan Eropa) pengekangan terhadap bahasa malah dicampuri ideologi dan agama. Nama-nama orang Muslim banyak dicurigai memiliki keterkaitan dengan klaim teroris, sehingga terjadi tindakan sweeping dan diskriminasi terhadap pendatang Muslim. Bahkan, di negara mayoritas Muslim sekalipun isu ideologi dan agama sering dikaitkan dengan bahasa. Di negara Turki, kata-kata “bernuansa” Islam seperti “khilafah” atau bahasa-bahasa agama yang dijadikan simbol seperti pelarangan memakai jilbab di parlemen dilarang keras oleh negara.
Demikian di Indonesia, pengekangan bahasa atas nama agama sering terjadi seperti karena isu sekulerisme tanpa terlebih dahulu mengerti bahasa yang sedang dipergunakan. Dengan melihat pengalaman Jepang, apakah tindakan itu dapat menghambat kemajuan?
Seiring perkembangan zaman dan otonomi daerah (Otda), bahasa nasional dan bahasa daerah akan menghadapi berbagai perubahan. Demikian itu, seluruh element masyarakat termasuk pemerintahan dituntut mampu mengembangkan budaya dan melestarikan bahasa dan budayanya itu dalam menyeimbangkan arus perubahan [] Wallahu A’lam * Pemerhati budaya dan bahasa tinggal di Bogor
Beberapa keistimewaan bahasa yang dipakai suatu bangsa tertentu membatasi cara-cara berpikir dan pandangan bangsa yang bersangkutan terhadap fenomena tempat mereka hidup. Saya menganggap bahwa sususan bahasa dan keistimewaan lain yang dimiliknya merupakan faktor dasar bagaimana suatu masyarakat memandang hakikat alam dan tempat mereka berada. Contohnya saja, orang Eskimo yang memiliki berbagai istilah untuk menamai berbagai bentuk salju, atau orang Arab yang mempunyai puluhan nama untuk buah kurma mulai dari yang masih di pohon, yang baru dipetik, sampai yang telah kering.
Whorf, pencetus dari Linguistic Relativity Hypothesis
Setelah saya membaca tulisan barusan di sebuah buku karangan K.H. Shiddiq Aminullah, Drs., MBA, saya seolah tersadar. Oh, pantes, pikir saya. Pantes aja dalam bahasa Inggris kerap ditemukan teks yang menunjukkan kalau seorang anak dapat memanggil nama kecil dari kakak atau orangtuanya, seolah-olah mereka itu teman saja, bukan orangtua dan anak. Tak hanya di teks, di film-film mereka juga kerap ditemui.
Jadi begini. Sudah lama saya mengamati kalau di dalam bahasa Inggris tidak ada istilah khusus yang mengacu pada ‘kakak’ dan ‘adik’. Yang ada hanyalah istilah sibling, sister, dan brother bagi saudara kandung, kakak maupun adik, yang notabene menyatakan kesetaraan tanpa memandang usia. Untuk membuat fokus pembicaraan menjadi lebih spesifik, kadang ditambahkan kata little di depan kata brother atau sister untuk menunjukkan ‘adik bungsu’ ataupun saudara yang lebih muda. Dan sebaliknya, untuk menunjukkan ‘kakak tertua’, ditambahkan kata eldest sebagai keterangan di depan kata sister atau brother.
Mari kita bandingkan dengan bahasa Indonesia. Dalam bahasa ini, sebutan untuk saudara kandung (ataupun orang yang bukan saudara kandung tapi kita hormati) yang lebih tua mempunyai istilah khusus yaitu ‘kakak’. Untuk saudara kandung yang lebih muda ada istilah ‘adik’. Bahkan anak tertua mempunyai istilah khusus yaitu ‘sulung’. Demikian pula anak paling kecil dalam keluarga yang biasa disebut ‘bungsu’. Namun untuk anak kedua, tengah, kakak dari bungsu, tidak ada istilah khusus. Hanya ada sebutan ‘anak ke-sekian‘ (bahasa Indonesia tidak berbeda dengan bahasa Inggris dalam hal ini). Dalam bahasa Indonesia, usia serta urutan kelahiran itu penting dan tercermin dari istilah yang ada.
Bandingkan kembali dengan istilah dalam bahasa Inggris sister-brother yang hanya mengacu pada gender dari saudara kandung, tidak pada usia. Kita mengetahui bahwa orang barat sebagai ‘pemilik’ bahasa Inggris memiliki budaya yang mengutamakan kesetaraan dari setiap individu dan isu gender merupakan isu yang mendapat perhatian lebih. Bukan berarti masalah usia saudara atau orang lain tidak diperhatikan. Yang lebih ditekankan bukanlah usia, melainkan gender dan individu itu sendiri. Sedangkan di Indonesia, hormat pada yang lebih tua atau lebih tinggi posisinya merupakan isu utama dalam budaya masyarakatnya, terlepas dari apapun bentuk penerapannya di masing-masing daerah. Bukannya gender laki-laki dan perempuan tidak mendapat perhatian, hanya saja ‘posisi’ dalam struktur masyarakat atau keluarga menjadi fokus utamanya. Contoh yang paling jelas adalah cerita dari seorang teman saya. Dia orang Batak. Katanya, meskipun seseorang itu sudah menjadi jenderal bintang lima, tapi kalau dalam keluarganya dia ada di posisi sebagai keponakan, misalnya, maka dia yang mencuci piring di dapur. Begitulah di Indonesia, posisi dalam struktur hirearkis lebih penting.
Contoh dari perbandingan antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris adalah contoh yang memadai. Dengan melihat istilah yang dipakai dalam suatu bahasa kemudian kitamelihat budaya penutur bahasa tersebut, ternyata kita bisa melakukan sebuah analisis budaya dari suatu penutur bahasa. Kita pun bisa mengetahui kecenderungan suatu masyarakat, kepribadiannya, bahkan mungkin kesuksesan dari masyarakat tersebut di masa yang akan datang (untuk melakukan hal yang terakhir ini tentu dibutuhkan tambahan analisis psikologi). Hanya dengan melihat istilah-istilah tertentu yang digunakannya. Ini sungguh sebuah pemikiran yang menarik.
Tapi ini bukanlah hal yang baru dalam linguistik. Chomsky sudah melakukan analisis budaya berdasarkan bahasa yang digunakan suatu masyarakat. Whorf juga sudah. Dan hipotesis dari Whorf membuka lebar mata saya terhadap keadaan itu.
Kembali ke bahasa Inggris. Saya tidak tahu apakah: 1) penggunaan istilah sister-brother itu muncul duluan baru mempengaruhi cara pandang penutur bahasa Inggris atau sebaliknya, 2) cara pandang berbasis genderlah yang mempengaruhi munculnya istilah sister-brother. Hal ini sungguh menarik untuk ditelaah lebih jauh, apalagi bagi yang memang berminat pada linguistik (seperti saya, misalnya). Mungkin ketika saya mencari yang mana yang benar antara 1) dan 2), saya akan menemukannya dalam sejarah panjang dari kebudayaan penutur bahasa Inggris. Mulai dari masa ketika daratan Eropa masih didominasi oleh bahasa Latin, lalu masa penggunaan bahasa Inggris kuno di sekitar abad 15-16 masehi, hingga penyerapan banyak istilah dari bahasa asing seperti slalom, mathematics, levitate, oleh bahasa Inggris modern, yang membuatnya menjadi bahasa gado-gado. Tapi tidak apa, saya memang senang dengan sejarah, terutama yang berkaitan dengan isu budaya serta bahasanya.
BTW, ngulik-ngulik bahasa dan kaitannya dengan budaya memang mengasyikan ya? Terbersit dalam pikiran saya untuk mengambil S2 di bidang linguistik-budaya. Tapi di mana ya? Kalo ada yang punya info, kasih tau ya….
Tambahan dari Ernest Renan, penulis buku Sejarah Umum Bahasa-bahasa Semit:
Di antara yang mengherankan, bahasa Arab itu tumbuh dengan kuatnya dan sampai pada tingkatan yang sangat sempurna. Di tengah-tengah padang pasir dan bangsa yang gemar berkelana, bahasa tersebut mengungguli bahasa serumpun lainnya dalam kekayaan kosa kata, ketajaman arti, dan keindahan susunan bentuknya. Sebelumnya, bahasa ini tidak dikenal orang… [Dr. Malik Badri, Tafakur, 1996]
sherlanova | Thursday, April 19, 2007| Mo komentar? Silahkan.
Beijing ( Berita ) : Pemerintah China dalam waktu dekat akan mendirikan Pusat Budaya dan Bahasa Tiongkok di Indonesia dalam upaya lebih meningkatkan hubungan sosial dan budaya antara kedua negara.
“China sudah berkeinginan akan membangun Pusat Budaya dan Bahasa Tiongkok di Indonesia, khususnya di Jakarta,” kata Wakil Kepala Perwakilan RI di Beijing Mohamad Oemar, di Beijing, Senin [27/08].
Pemerintah Indonesia sendiri, katanya, juga akan membuka lembaga budaya dan bahasa serupa di China sehingga ada timbal balik dalam melakukan pertukaran bidang sosial dan budaya antara kedua negara.
Di sejumlah universitas di China, katanya, sebetulnya sudah ada beberapa yang memperkenalkan atau mengajarkan budaya dan Bahasa Indonesia kepada mahasiswanya, sehingga Indonesia sebetulnya sudah tidak terlalu asing di mata warga China.
Meskipun demikian, katanya, Pemerintah Indonesia juga berkeinginan mendirikan Pusat Budaya dan Bahasa Indonesia di China, sebagai langkah bentuk timbal balik keinginan Pemerintah China mendirikan pusat pendidikan serupa di Indonesia.
“Hubungan sosial dan budaya antara kedua negara memang sedang gencar-gencarnya ditingkatkan disamping hubungan ekonomi,” kata Oemar.
Salah satu bidang lain yang juga ingin ditingkatkan adalah meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan untuk saling mengunjungi masing-masing negara, mengingat sampai saat ini masih terdapat ketidakseimbangan.
Saat ini dalam kunjungan wisatawan kedua negara, wisatawan Indonesia lebih banyak yang datang mengunjungi China ketimbang wisatawan China yang mengunjungi Indonesia.
“Oleh sebab itu masih perlu promosi lebih gencar oleh pihak terkait pariwisata di Indonesia disamping meningkatkan infrastruktur, seperti dengan frekuensi penerbangan kedua negara,” katanya. ( ant )