Kamis, 06 November 2008

Nasionalisme dan rasa cinta Indonesia yang tak bersekat etnis, ras dan agama

Nasionalisme dan rasa cinta Indonesia yang tak bersekat etnis, ras dan agama



Kebiasaan gw sejak gabung di milis Budaya Tioghua adalah mengCopast semua email yang sudah di bundel dalam sistem Daily digest kedalam file Onenote gw, karena maksud dan tujuan gw gabung di milis ini Cuma buat jadi member pasif aja kalo memang ada obrolan yang sangat menarik di gw baru deh gw nimbrung dan perpartisipasi. Tapi selebihnya yyaaah gw Cuma baca2 tulisan orang aja dan tadi malem pas gw baca2 lagi (ga da kerjaan karena mati lampu) gw nemu tulisan yang berjudul: Etnis Tionghoa dan Sumpah Pemuda yang ditulis oleh Kristan, nama ini rasanya kaga asing lagi bagi gw, rasa2nya pernah gw baca di mana gituuu… dan ternyata gw baca nama dia di buku yang berjudul Jadi cokin siapa takut? Buku ini juga kerena banget, disini si Kristan nulis kalo ga salah dua buah tulisan (bukunya berbentuk kumpulan tulisan2 dari berbagai penulis) mengenai hukum dan politik yang berkaitan dengan eksstensi etnis Tionghua di Indonesia.

Tapi yaudah lah gw ga bakalan bahas buku itu, tapi tulisan Kristan yang gw temuin di milis budaya Tionghua gw benar-benar tertarik dengan pemikiran-pemikiran cerdasnya di tulisan ini dan seketika rasa nasionalisme gw memuncak (walaupun gw selama ini memang udah cinta buuuanget sama Indonesia hehehe) gw jadi tercerahkan bahwa sebagai negara bangsa (atau lebih tepatnya negara bangsa-bangsa)masih terdapat ideologi2 primordialisme yang sangat menjunjung paham kedaerahan, kristan juga mengkiritisi penguunaan kata Indonesia asli yang terdapat didalam konstitusi kita alias UUD 45, cerdas banget!! Yang mana sih yang orang Indoneisa asli tiu? Kata askli aja memiliki dua makna:

"

Sejatinya kata asli memiliki dua dimensi arti yaitu asal usul (originality) atau sejati (genuine), yang artinya sejati atau tulen. Artian asal usul sebenarnya tidaklah mempunyai dasar ilmiah yang kukuh seperti yang telah lama diuraikan bahwa sebenarnya bangsa-bangsa di kepulauan Nusantara ini pada dasarnya adalah bangsa campuran. Dalam kehidupan politik yang modern pengertian nation (bangsa) tidak dikaitkan dengan faktor etnisitas, melainkan dengan rasa solidaritas dengan sesama warga negara untuk bersama-sama mewujudkan kehidupan bernegara. Keaslian tidaklah terkait pada faktor fisik melainkan pada semangat patriotisme. Jadi Indonesia yang asli haruslah bermakna Indonesia yang sejati, yang memiliki semangat cinta Tanah Air dan seluruh bangsa, serta memandang semua komponen bangsa sebagai sesama"

Nah benerkan?? Jadi udah ga jamannya lagi kalau lw bersikap diskrimitanif terhadap sodara2 Tionghoa kita dengan ngatain mereka Cina yang bukan orang Indonesia, cina tidak nasionalis dan sebagainya, Come on kita satu Indonesia!! Tiba2 juga gw jadi inget berdebatan gw waktu KKN (kuliah kerja nyata) sama teman KKN gw yang latar belakangnya ilmu politik dan hukum tataegara tentang kenapa orang Tionghua masih mendapat diskriminasi di negri ini, dan yang parahnya mereka berdua berpendapat kalau "cina-cina itu"(maaf gw Cuma ngutip kata2 yang keluar dari mulut kedua teman gw ini) memang sudah sepantasnya mendapatkan perlakuan yang tidak adil karena mereka bukan orang Indonesia asli tapi berasal dari Cina. Yang bikin gw kesal lagi kenapa gw kurang bisa meng komunikasikan pemekiran gw yang kurang lebih sama dengan Kristan bahwa asli atau tidaknya orang Indonesia tidak dilihat dari ras atau etnistas mereka, Tapi patriotisme dan pengakuan diri yang menyatakan bahwa mereka orang Indonesia tulen dan cinta Indonesia.

Tidak ada komentar:

My Visitors

mereka yang berkunjung


View My Stats