Minggu, 14 Desember 2008

Dicari, ksatria Antropolgi…

Dicari, ksatria Antropolgi…

Tidak terasa udah satu minggu kami meninggalkan Papua setelah berakhirnya acaara sarasehan Antropolgi (tadi malam di ingetin sama Helen [USU]waktu aku smsan sama dia), oleh-oleh dari papua berupa virus batuk masih bercokol ditubuh ku :) aku yakin hampir semua anak2 yang lain juga kena flu atau batuk sepulang dari papua. Tapiii kenapa aku masih nulis berbagai hal tentang sarasehan kemaren padahal udah satu minggu dirumah… yahh gimana bisa lupa sih, kan pengalaman yang unforgetable banget towww.

Waktu di Papua kuanggeen banget sama anak2 antro UNAND taman2 seangkatan ku,, rasanya hari2 terakhir waktu di Papua kemaren pikiran gw melayang jauh kepadang karena kangen teman2 di Padang. Sekarang setelah di Padang eeh malah kangen anak2 peserta sarasehan, MMhhh jadi nyesel juga karena tidak berusaha lebih mengenal mereka jauh lebih dekat waktu sarasehan kemaren (apa lagi anak2 UNCEN yang beru ketemu pas di Papua aja, kalau yang lain mah mendingan karena kami senasib dan seperjuangan waktu di kapal). Nyampe dipadang hari selasa tanggal 9 kemaren sedangkan dari hari sabtu tanggal 6 melancong menghabiskan uang sambil menikmati udara kota Jakarta yang berpolusi dan merasakan Idul Adha di Jakarta. Tiga hari di Jakarta cukuplah,, nothing special dari kota "sakit" ini selain gedung2 tinggi dan banyaknya pusat perbelanjaan mewah, sempat juga ke terminal senen buat dari buku2 langka yang ga bakalan aku temui di Padang ini (makasih ya tek udah nemanin nyari buku2 bagus). Waktu pulang di taxi perjalanan menuju bandara, dari tol terlihat hamparan kota jakarta yang penuh sesak dengan bangunan. Tanpa pohon! Tidak ada pohon atau tanaman pelindung apapun yang tampak sejauh mata memandang. Aku tiba2 berfikir bagaimana kota "sakit" ini dapat bekerja dengan suatu sistem yang kompleksnya tanpa ada keserasian antara penghuni (manusia) dengan alam tempat mereka berpijak. Kota ini seperti apa yahh?? Seperti robot, benda mati atau sejenisnya. Ga ada suatu hubungan baik antara alam dan manusia, dan kayanya kedua aspek ini harus sama2 dibenahi dan disembuhkan baik alam maupun manusia sipenghuni alam dari kesakitan yang mereka miliki.

Kota ini butuh ksatria2 Antropologi (hueheheh bu Yun saya pinjam istilah ibu yah, "ksatria antropologi")kajian2 mengenai Antropologi perkotaan menjadi cukup relevan apabila orang menyadari betapa sakitnya kota ini, dan juga kajian tentang ekologis (Atropologi Ekologi tentunya) jadi teringat dengan kata2 temanku MangQ [UGM] waktu sarasehan kemaren (waktu kami di lapangan)di Kampung Tablanusu, waktu aku tanya kenapa ada banyak sekalu buku2 yang berkaitan dengan lingkungan yang dia bawa? Trus aku tanya lagi nulis tentang ekologis yah? Dia jawab "iya, karena masalah yang paling kelihatan dan sangat relevan sekarang ini adalah masalah lingkungan"

Yaahhh gitulah sekedar menuliskan apa yang ada kupikirkan sekarang ini, bahwa Ksatria Antropologi memang sangat dibutuhkan saat ini,, karena itu aku semakin jatuh cinta pada "Ilmu sakti" ini, dan tugas2 selama tia minggu aku izin sarasehan buanyak buanget menumpukkk. Duh rasanya kalo belum selesai belom bisa tidur tenang niiiyyy. Musti semangat kalau mau jadi Ksatria Antropologi di masa depan!!!!

Tidak ada komentar:

My Visitors

mereka yang berkunjung


View My Stats