Senin, 13 Desember 2010

Berkeramat

Pagi cerah, kelewat cerah setelah angin ribut semalam. Tidak ada tanda-tanda tadi malam desa Pala Pintas diserang angin ribut dan hujan lebat.

Empat hari yang lalu desa dua malam berturut-turut diterpa cuaca buruk, dusun hulu berinisiatif untuk membuat ritual yang dinamakan berkeramat. Tujuan ritual ini adalah agar cuaca buruk berhenti (badai) dan hujan berhenti. Rumah tidah kena banjir, kabun karet bisa ditoreh, padi di ladang juga selamat dari ancaman gagal panen.

Upacara ini boleh menggunakan bantuan manang (dukun) boleh juga tidak memakai dukun, kebetulan berkeramat kali ini tidak pakai manang. Kayu mabang berdiameter 15 cm di pahat membentuk wajah manusia, kemudia ditancapkan di tepi sungai. Di patung kayu sederhana ini di ikatkan kain merah, posisi ikatan kain dipatung akan menentukan ketinggian air sungai yang di kehendaki penduduk desa.

Lalu penduduk bersama-sama meletakkan sesajian, nasi ruas (lemang), menancapkan pinang di sekitar patung. Sesajian ini untuk memberi makan hantu yang diundang untuk mendiami patung. Tiga hari berturut-turut setelah upacara diadakan cuaca cerah, dan tadi malam kembali badai. Menurut mereka upacara cukup berhasil karena walaupun tadi malam hujan lebat tapi ketinggian air sungai malah turun.

----Email Diteruskan----
Dari: kerabat_ciwa@yahoo.co.id
Kepada: nusantara.praboe.hogwart@bloger.com
Email Keluar: Sel, 14 Des 2010 07:25 ICT
Judul: Berkeramat

Pagi cerah, kelewat cerah setelah angin ribut semalam. Tidak ada tanda-tanda tadi malam desa Pala Pintas diserang angin ribut dan hujan lebat.

Empat hari yang lalu desa dua malam berturut-turut diterpa cuaca buruk, dusun hulu berinisiatif untuk membuat ritual yang dinamakan berkeramat. Tujuan ritual ini adalah agar cuaca buruk berhenti (badai) dan hujan berhenti. Rumah tidah kena banjir, kabun karet bisa ditoreh, padi di ladang juga selamat dari ancaman gagal panen.

Upacara ini boleh menggunakan bantuan manang (dukun) boleh juga tidak memakai dukun, kebetulan berkeramat kali ini tidak pakai manang. Kayu mabang berdiameter 15 cm di pahat membentuk wajah manusia, kemudia ditancapkan di tepi sungai. Di patung kayu sederhana ini di ikatkan kain merah, posisi ikatan kain dipatung akan menentukan ketinggian air sungai yang di kehendaki penduduk desa.

Lalu penduduk bersama-sama meletakkan sesajian, nasi ruas (lemang), menancapkan pinang di sekitar patung. Sesajian ini untuk memberi makan hantu yang diundang untuk mendiami patung. Tiga hari berturut-turut setelah upacara diadakan cuaca cerah, dan tadi malam kembali badai. Menurut mereka upacara cukup berhasil karena walaupun tadi malam hujan lebat tapi ketinggian air sungai malah turun.

Tidak ada komentar:

My Visitors

mereka yang berkunjung


View My Stats