Selasa, 13 Mei 2008

Armopa, Sebuah desa peramu sagu di pantai utara irian jaya

Armopa, Sebuah desa peramu sagu di pantai utara irian jaya

Sistem kekerabatan

Dalam suatu rumah tangga biasanya selain keluarga batih dihuni juga oleh, beberapa kerabat lain seperti misalnya ibu dan ayah yang sudah tua, menantu serta juga cucu-cucu bahkan juga saudara wanita suami beserta suaminya. Mereka menganal sistem fam didalam kehidupan mereka, fam dari keluarga batih akan tercatat dibuku registrasi gereja dan kemudian gereja akan memberikan mereka sebuah nama baptis di depan nama fam yang merupakan berasal dari geris keturuanan ayah.

Istilah fam sebenarnya bukan lah budaya asli masyarakat armopa, istilah fam diperkenalkan oleh pembawa agama kristen. Dulu sebelum masyarakat bgu pindah kedaerah pesisir mereka mengenal istilah auwet (juga berdasarkan garis keturunan ayah) akibat dari pembayaran mas kwin dari pihak laki-laki kepada wanita, orang begu pada zaman dahulu memiliki adat menetap virilokal, jadi san istri dan anak-anak mereka tidak menpunyai cukup waktu untuk menemui kerabat mereka karena masing-masing auwet sangat hjarang berhubungan dan mereka juga terpisah satu sama lain. Kondisi seperti ini menciptakan adat yang benar-benar patrilinial. Sistem fam berbeda dari sistem Auwet karena fam tidak begitu mengikat didalam adat dan agama (dikendalikan oleh gereja) fam juga tidak secara aktif dalam melakukan kegiatan adat, jadi fungsi fam tidak sekompleks auwet fam tidak lebih dari sekumpulan orang-orang yang meiliki registrasi yang sama.

Tetapi setelah dipaksapindah oleh pemerintah kolonial kedaerah pesisir terjadi perubahan besar didalam kekerabatan mereka. Prinsip pratrilinela mulai kabur, seseorang mengambil hasil kebundari tempat dimana dulu ayahnya berkebun tapi ia juga busa memetik hasil perkebunan dimana keluargga dari ibunya dulu berkebun.

MATA PANCAHARIAN

Memukul Sagu

Memukul sagu adalah mata pencarian yang terpenting oleh masyarakat Bguhutan sagi yang sekarang letaknya kira-kira sekitar 3-5 kilometer jauhnya dari desa, terbagi kedalam wilayah-wilayah dengan batas-batas yang tidak tegas yang menjadi kelompok kekerabatan tertentu.

Dua orang pria dalam waktu kira-kira empat hari dapat memukul datu pohon besar, dengan rata-rata bekerja selama delapan jam sehari tatau keseluruhannya dalam waktu 32 jam. Satu pohon seperti itu dapat menghasilkan 150-300 kilogram sagu basah. Batang yang sudah terbuka harus cepat-cepat diambil dan dikerjakan sebab yang terbuka seperti itu akan dimakan oleh babi hutan. Sagu biasanya dimasak sebagai bubur, roti bakar, yang dimakan dengan lauk seperti daging, ikan, kerang, atau sayuran

Menangkap Ikan

Pekerjaan mencari ikan merupakan pekerjaan yang layak atau bisa dilakukan oleh pria maupun wanita. Terutama di daerah pantai utara mencri ikan memang menjadi mata pencarian utama selain mencari sagumereka mencai ikan, kerang, udang, kepiting, atau hewan air lainnya arawa atau laut. Mencari ikan biasanya diakukan oleh palung banyak 2 keluarga batih dengan 3-4 wanita dan anak-anak.

Berburu

Berburu khususnya diilakukan oleh pria, dan binatang yang diburu biasanya adalah babi, soa-soa, kangguru, tikus, kadal, ataupun burung. Metiode yang dugunakan dalam berburu babai adalah babi digiring oleh anjing-anjing kesuatu tempat dan kemudian baru di tembak dengan anak panah reingkali perburuan dilakukan pada malam hari dan hanya menggunakan lampu senter.

Berkebun

Hanya sedikit masyarakan yang mengenal mata pencarian berkebun, jelas sekali tampak kalau berkebun hanyalah mata pencarian tambahan leh penduduk. Didesa-desa yang letaknya jauh ke darat memang peerkebunan lebih intensif dilakukan. Tapi sebagian besar orang Bgu tidak mempedulikan berkebun, tapi ada beberapa orang yang brkebun tisdak secara teratur, kebun mereka tidak bersih dan kadang-kadang ditumbuhi oleh alang-alang karena tidak diolah dengan serius.

Kebun biasanya dibuka dengan membersihkan belukar kemudian menebang pohon besar. Seseprang biasanya yang mengambil inisiatif itu bekerja dengan anak laki-lakinya atau dengan sauda laki-laki atau ipar menurut sistem tolong menolong atau serse.

Berdagang

Dia komoditi asal desa ini yang masih dijual adalah sagu bakar (kaus) dan buiah pinang (bnim). Kaus merupakan bungkusan-bungkusan roti sagu yang tebalnya kira-kira 5 sentimeter, dan berbentuk bundar dengan diameter 50 sentimeter. Seseroang dapat memikul roti semacam itu sebanyak 20 buah dan beratnya lebih kurang seberat 20 kilogram dan dibawa kedesa tetangga yang jaraknya 25 kilometer. Disana kaus dibeli oleh tengkulak-tengkulak cina yang memiliki perahu bermitor dan selanjutnya diangkut kejaya pura.

PENGARUH SISTEM KEKERABATAN DAN MATA PENCARIAN

Dengan berpidahnya masyarakat Bgu kedaerah kering (pesisir) maka lenyaplah sistem auwet yang mereka kenal selama ini. Sistem ini membuat sedemikian rupa sistem kekerabatan patrilinial bertahan mada masyarakat, yaitu pola menetap pasangan baru yang tinggal dirumah kerabat suami (virilokal) dan kondisi tempat tinggal yang berjauhan membuat sang istri tidak bisa berhubungan dengan kerabatnya.

Sistem kekerabatan membuat kepemilikan tanah menjadi tidak terlalu mengikat pada masyarakat Bgu, seseorang bisa mengambil sagu dari tempat dimana ayahnya dulu mengambil sagu tapi ia juga dapat mengabil sagu dimana keluarga ibunya mengambil sagu. selain itu pengaruh lainnya adalah ketidak pastian kepemilikan tanah yang digunakan untuk tempat mengambil sagu dan berkebun (walaupun berkebun tidak begitu populer bagi masyarakat Bgu).

1 komentar:

Unknown mengatakan...

gak ada di deskripsikan juga tentang konsep struktur sosial masyarakat Armopa (Bgu) ya???

My Visitors

mereka yang berkunjung


View My Stats