Selasa, 13 Mei 2008

LAPORAN KULIAH LAPANGAN FOLKLOR

LAPORAN KULIAH LAPANGAN FOLKLOR

di Jorong Balubuih, Nagari Sungai Talang, Guguak Kabupaten Lima Puluh Kota

Dosen Pembimbing :

Drs. Sidarta Puji Raharjo M.Si dan Dra.Dewi Hartanti M.Si

Pendahuluan

Latar Belakang

Folklor adalah salah satu dari sekian banyak ranah kajian yang terdapat didalam ilmu Antropologi, tapi kemudian di Indonesia folklor kemudian menjadi lapangan kajian tersendiri. Perkembangan folklor di Indonesia dimulai ketika pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1908 medirikan Panitia Kesusastraan Rakyat[1]. Tapi pada waktu itu informasi yang dikumpulkan mengenai folklor belum bisa di akses secara umum, dan dari segi metode pengumpulan yang dilakukan oleh badan ini sangat banyak kesalahan. Pada masa sekarang penelitian folklor yang sudah dirintis dari sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda nampaknya tidak begitu banyak mendapat perhatian dari kalangan pemerintah maupun dari masyarakat Indonesia. Terbukti dengan sedikitnya pusat penelitian folklor yang terdapat di Indonesia dan sedikitnya ahli-ahli folklor yang ada di Indonesia, padahal dinegara lain terutama negara Eropa pengumpulan dan penelitian bahan folklor sudah mulai dilakukan sejak abad ke-16 dan sangat disayangkan sekali bahwa Indonesia memiliki ragam folklor yang kaya tidak melakukannya.

Folklor sendiri berasal dari kata bahasa inggris folklore yang terdiri dari dua kata folk dan lore. Salah satu ahli folklor terkenal Allan Dundes mengatakan bahwa folk sama artinya dengan kata kolektif (kolektivity) sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari kelompok lainnya, salah satu dari benda yang mereka miliki secara bersama atau kolektif adalah tradisi atau kebudayaan yang telah mereka miliki secara turun-temurun. Sedangkan yang dimaksud dengan lore adalah sebagian kebudayaan yang diwarisi secara turun-tumurun secara lisan melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat.

Jadi defenisi folklor secara keseluruhan adalah, sebagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan turun-temurun diantara kolekif apa saja secara tradisional dalam versi yang berbeda baik lisan maupun tulisan maupun disertai gerak syarat atau alat pembantu pengingat. Pengertian ini sudah sangat berkembang sekali sejak zaman sebelum perang dunia II, dimana pada waktu itu folklore diidentifikasikan oleh orang Eropa sebagai sebagai kebudayaan tradisional petani Eropa saja, tidak mengenai kebudayaan masyarakat Eropa diperkotaaan. Tapi bila dibandingkan dengan kebudayaan masyarakat pribumi luar Eropa pada waktu itu kebudayaan masyarakat petani Eropa jauh lebih mulia, ilmu folklor pada waktu itu dikenal dengan istilah volkskenkunde sedangkan ahli Antropologi atau Etnologi disebut dengan Volkenkunde. Pengertian ini sudah berkembang dengan sangat luas pada masa sekarang, folklor bisa dikaji pada seluruh lapisan masyarakat yang memiliki ciri kolektif diantara mereka.

Tujuan dan Metode Penelitian

Penulisan laporan ini merupakan bagian akhir dari proses kuliah lapangan untuk mata kuliah Folklor (ISA 433) yang di lakukan di Jorong Balubuih, Nagari Sungai talang Kab. Guguak Lima Puluh Kota. metode yang digunakan adalah wawancara terstruktur, observasi, dan untuk melengkapi data yang didapat dilapangan diadakan penelitan dari sejumlah literatur (baik buku, jurnal, majalah ilmiah, maupun internet). Penelitian dilapangan dilakukan secara berkelompok dengan setiap orang anggota kelompok bertanggung jawab atas satu jenis kajian folklor. Kelompok kami meyajikan ulasan folklor dari berbagai macam genre terdiri dari folklor lisan yaitu mite, lgenda dan dongeng; folklor sebagian lisan yaitu kepercayaan rakyat, permainan dan kesenian rakyat sedangkan untuk folklor bukan lisan kami membahas mengenai arsitektur tradisional dan makanan rakyat tradisional.

monografi nagari

Secara administratif Nagari Sungai Talang berrada di kecamatan Guguak Lima puluh kota, dikecamatan Guguak sendiri adala delapan nagari yaitu: Simpang sangiran, Sungai Talang, gugak VII koto, Kubang, Mungka, Simpang kapuak, Talang maua, dan nagari Jopang mangganti. Nagari Sungai Talang terdiri dari lima jorong yaitu : Sungai Talang, Kaludan, Guguak Nunang, Balubuih, dan jorong Bukik Apik*. Jarak ke ibu kota Propinsi adalah 140 km dengan waktu tempu selama 4 jam, jarak ke ibu kabupaten adalah 15km waktu tempuh selama 0.5 jam, jarak ke ibu kecamatan adalah 10 km. Nagari Sungai Talang berpopolasi sebanyak 3.826 jiwa dengan pembagian penduduk laki-laki sebanyak 1859 jiwa dan perempuan sebanyak 1967 jiwa dengan sex Ratio sebesar 94,51 dan memiliki keadatan penduduk 213 /km2 sedangkan apabila duketegorikan dalam rumah tangga penduduk nagari Sungai Talang adalah sebanyak 1062 rumah tangga. Penduduk yang lahir pada pendataan terakhir adalah laki-laki sebanyak 46 orang dan perempuan sebanyak 50 orang, sedangkan kelahiran pada pendataan terakhir adalah laki-laki 6 orang perempuan sebanyak 4 orang.

Jumlah total lahan yang terdapat di Sungai Talang adalah seluas 1800 km2 denganpersentase penggunaan sebagai berikut sebagai berikut, perumahan dan pekarangan sebayak 160 ha, areal persawahan seluas 559 ha, areal perkebunan seluas 110 ha, pertanian tanah kering dan ladan, tegalan seluas 350 ha, rawa, sungai, tambak, kolam dan sejenisnya seluas 181 ha, sedangkan untuk jalan raya seluas 14,5 ha, dan penggunaan lainnya seluas 300,5 ha. Kepemilikan lahan dibagi menurut suku tidak seperti di kota besar kepemilikan lahan atau tanah brdasarkan kepemilikan pribadi, tanah kaum atau suku akan dibagi penggunaannya oleh satu orang yang kemiliki kekuasaan. Pola pemukiman masyarakat adalah berkelompok menurut suku dan pembangunan rumah pun memiliki sususan tertentu yang disesuaikan dengan kebutuhan suku.

Relief nagari Sungai Talang tidak merata, sebagian wilayahnya adalah perbukitan dan juga berlembah walaupun tidak terlalu curam tinggi dari permukaan laut adalah 800 meter. Wilayah perbukitan tidak begitu dimanfaatkan oleh masyarakat. Sedangkan kolam dan tabek ada disetiap suku.

Sebagian besar rumah tangga di nagarini memiliki terak aya walaupun sedikit terbukti dari banyaknya jumlah ayam yang didata adalah sebanyak 105.200 ekor, itik berada di tingkat kedua yaitu sebanyak 1560 ekor, selanjutnya sapi 560 ekor, dan kerbau sebanyak 126 ekor. Usaha tambak ikan dimiliki oleh 305 penduduk, kerajinan 10 orang, usaha indutri rumah tangga 12 orang.


FOLKLOR LISAN

Legenda

Legenda adalah prosa cerita rakyat yang mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan mite, yaitu dianggap bernar-benar terjadi tapi tidak mempunyai makna yang suci oleh pemiliknya. Legenda ditokohi oleh manusia yang kadang-kadang mempunyai kekuatan yang luar biasa dan kadang-kadang dibantu oleh makhluk ajaib. Tempat terjadinya adalah dunia yang kita tinggali sekarang ini dan terjadi belum begitu lama .

Legenda Syekh Abdul Kadim

Dalam kelompok suku Tanjung yang ada dibagian utara Jorong Balubuih terdapat malam Syekh Abdul Kadim. Menurut informan yang bernama Bapak Yaman dan Ibu Fatimah bahwa Syech Abdul Khadim adalah seseorang utama yang ada di Balubuih. Ibu Fatimah adalah keponakan dari Syech Abdul Khadim. Menurut keterangan informan yang berhasil diwawancarai penulis bahwa Syech Abdul Kadim adalah seseorang Datuak dari suku Tanjung.

Syech Abdul Kadim dalah seseorang ulama suluak yang ada didaerah Balubuih. Syech Abdul Kadim adalah murid Syech Kumango dari batusangkar. Syech Abdul Kadim belajar ilmu suluak pada Syech Kumango ditempat tinggal Syech Kumango. Syech Abdul Kadim menganut suluak nagsabandiah. Kegiatan suluak yang ada didaerah Balubuih pada masa lampau diikuti oleh orang-orang Balubuih, bahkan orang lain yang datang diluar daerah Balubuih.

Orang yang belajar suluak pada Syech Abdul Kadim datang kedaerah Balubuih untuk belajar suluak, selama belajar suluak aktivitas orang belajar suluak hanya beribadah saja ditempat tinggal Syech Abdul Kadim. Menurut informan yang diwawancarai penulis yaitu Ibu Fatimah mengatakan bahwa orang-orang yang datang dari daerahnya masing-masing membawa perlengkapan hidup untuk beberapa bulan belajar suluak ditempat Syech Abdul Kadim. Perlengkapan yang dibawa oleh orang-oarang yang belajar suluak membawa beras dan uang biaya kehidupan.

Orang-orang yang belajar suluak ditempat Syech Abdul Kadim mereka disediakan ruangan kamar tidur dan tempat beribadah oleh Syech Abdul Kadim. Tempat belajar suluak tersebut yaitu di musalla Syech Abdul Kadim. Selama belajar ilmu suluak kegiatan yang dilakukan hanya beribadah dan melupakan kehidupan duniawi.

Tapi hanya masa sekarang ini orang yang belajar suluak hanya datang dari daerah luar Balubuih yaitu daerah Batusangkar, Bukittinggi, sedangkan orang Balubuih sendiri pada masa sekarang tidak lalgi mengikuti suluak secara rutin jadi suluak ini menjaadi tidak begitu populer di Balubuih sendiri. Pada masa sekarang makam Syech Abdul Kadim dianggap keramat oleh masyarakat Balubuih.

Syech Abdul Kadim wafat pada tahun 1958. Beliau adalah murid Rumango. Sebelum guru beliau Tuanku Rumango meninggal Syech Abdul Kadim dimarahi. Dimana menurut keprcayaan jika seoarng guru marah kepada muridnya bertanda sangat sayang pada muridnya itu. Sebelum Tuanku Mango meninggal, Syech Abdul Kadim disuruh menghisap pusar Tuanku Mango, sehingga seluruh ilmu Tuanku Mango turun ke Syech Abdul Kadim.

Semasa Syech Abdul Kadim hidup, ada seseorang penjaring burung lewat disurau yang beliau kelola. Orang ini membawa dua ekor burung, dan singgah disurau itu dengan maksud ingin menguji kepandaian dan ketangguhan ilmu Syech Abdul Kadim. Dua ekor burung yang dibawa tadi disuruh lepaskan oleh Syech Abdul Kadim, satu ekor burung ditandai kakinya dengan seutas benang. Dan beliau berkata, burung yang dikasih tanda ini akan patuh. Kemudian dilepaskanlah kedua burung tadi. Beberapa menit kemudian burung yang diberi tanda benang dikakinya tadi kembali. Sang penjaring pun takjub.

Dihalaman surau ada sebuah batang pinang. Sipenjaring ingin menunjukkan kehebatnnya kepada Syech Abdul Kadir. Maka dicabutlah pohon pinang yang besar itu oleh sipenjaring burung. Pohon pinang itu disandarkan didinding surau. Syech Abdul Kadim menanggapi hal itu biasa saja, kemudian beliau menyuruh pindahkan lagi batang pinang kelubangnya. Sang penjaring burung pun melaksanakannya. Wallahualam batang pianang tadi tak terangakat olehnya, bergeserpun tidak. Sipenjaring burung belum juga puas, dan akhirnya dia meminta bersalaman dengan Syech Abdul kadim. Dari tangan sipenjaring keluar api, tapi dari tangan Syech Abdul Kadim keluar air sehingga apipun padam. Melihat hal itu sang penjaring takjub sang penjaring burung tadi, dia meminta maaf adan menjadi murid syech abdul kadim dan menghilangkan ilmu hitam yang dimilikinya. Kuburan syech abdul kadim dibuat goba.

Legenda Rawang Tingkuluak

Dikisahkan pada zaman dahulu ada seorang anak gadis dan ibunya menempuh perjalanan jauh dari suatu tempat. Sang anak berbuat kurang ajar pada ibunya dengan tidak mengakui ibunya. Setiap ada orang yang bertanya siapakah wanita yang menemaninya didalam perjalanan ini dia selalu menjawab bahwa wanita itu adalah bukan siapa-siapa Cuma seorang teman seperjalannya.

“sia kau amak ko piak?”

“kawan samo bajalan den ko mah.”

Sampai pada suatu pemberhentian mereka berhenti untuk minum disuatu telaga rawa[2], pada tempat itu si gadis jatuh terpeleset kedalam rawa, dan meminta pertolongan kepada ibunya. Tapi sang ibu yang sakit hati karena anak gadisnya tidak mengakuinya sebagai ibu, tidak menolong dan malah menyumpahinya.

“mak!! tolong den mak… tolong mak”

aden kan indak amak kau doh”

“tolong mak”

“manga pulo den tolongkau, aden kan kawan samobajalan kau nyo mah”

Sementara itu si gadis semakin tenggelam juga kedalam rawa, dengan terus minta pertolongan dia menggapai-gapai. Tapi si ibu tidak mau menolongnya. Sampai akhirnya si gadis sudah benar-benar tenggelam, sampai hanya tingkuluak[3] nya saja yang terlihat di permukaan rawa. Jadi legenda ini sampai sekarang dikenal sebagai legenda Rawang Tingkuluak.

Legenda ini mengisahkan tentang bagaimana hukuman Tuhan terjadi pada orang-orang yang mungkar dan tidak patuh kepadaNya, disini dikisahkan bagaimana seorang gadis durhaka kepada ibunya sehingga dia mendapat hukuman yang berat dari Tuhan, MalinKundang adalah legenda sejenis dengan Rawang Tingkuluak yang sangat terkenal sampai keluar Sumatra Barat terjadi di Padang . Banyak kesamaan yang trdapat diantara kedua legenda ini yaitu sama-sama bercerita tentang seseorang yang durhaka kepada Orang tua (khususnya Ibu). Dapat diketahui sampai saat sekarang legenda ini tetap populer dikalangan penduduk Balubuih, walaupun legenda ini sendiri tidak terjadi di Balubuih tetapi di jorong lain. Pengaruh legenda ini dapat terlihat bahwa setiap masyarakat Balubuih masih mengingat dan mengetahui dengan jelas bagaimana jalan cerita dari legenda ini.

Informan yang kami wawancarai adalah seorang wanita yang sudah berkeluarga dan meiliki dua orang anak, menurutnya dia akan tetap melanjutkan cerita tetang Rawang Tingkuluak ini kepada anak cucunya. Karena legenda ini sendiri sudah ada pada masyarakat Balubuih sejak lebih dari lima generasi yang lalu. Jika dilihat dari alur cerita dan makna yang terkadung dalam legenda ini terdapat banyak sekali pesan moral yang terkandung, sehingga bisa berfungsi sebagai sarana pendidikan dari orang tua kepada anak-anak mereka.

Legenda Anak Rote

Anak rote digambarkan sebagai makhluk gaib yang berbentuk mirip seperti tuyul yang ada pada masyarakat Jawa. Ciri fisik dari makhluk ini adalah berbadan kerdil setinggi anak usia lima tahun, tidak memakai pakaian, dan ciri-ciri yang paling khas dari makhluk ini adalah mereka memiliki bentuk kaki yang tidak lazim yaitu bagian tumit yang menghadap kedepan.

Informan kami bercerita kalau dirinya sendiri pernah mengalami bertemu dengan anak rote sewaktu masih kecil disekitar sungai, diceritakan bahwa anak rote berbaur berinteraksi dengan anak–anak manusia. Menurut informan anak rote sifatnya adalah makhluk gaib yang tidak menggangu.

Legenda Orang Sibunian

Dari ciri-ciri yang dideskripsikan oleh informan, orang sibunian adalah berwujud sama seperti manusia normal malah penampilan orang sibunian digambarkan sebagai sosok yang cantik dan rupawan. Tapi yang membedakan mereka (orang sibunian) dengan manusia biasa adalah mereka tidak memiliki batas hidung, yaitu cekungan yang terdapat ditengah atas bibir atas[4].

Masyarakat mengenal ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar agar tidak mendapat ganguan dari orang sibunian ini, seperti berjalan sendirian pada malam hari ditempat-tempat tertentu, memakan buah-buahan tertentu yang ada dihutan, dan juga jika melihat mereka secara langung tidak boleh menunjuk atau berbicara tentang mereka.

Banyak kejadian yang diceritakan informan tentang penculikan yang dilakukan oleh orang sibunian. Kadang orang-orang yang diculik baru bisa kembali setelah berbulan-bulan dan jarang sekali yang kembali dengan keadaan selamat, sebagian besar orang yang menjadi korban pulang dalam keadaan sakit baik sakit jasmani maupun sakit secara mental atau gila. Ada juga yang ditemukan ditengah hutan belantara atau diatas pohon yang besar dan tingi, kasus terakhir tentang penculikan oleh orang sibunian terjadi beberapa bulan yang lalu. Seorang orang tua yang sudah lumpuh diculik dan ditemukan beberapa hari kemudian diatas sebuah pohon didalam hutan. Hal yang paling parah yang dapat menimpa sang korban adalah sang korban tidak bisa kembali kealam nyata dan tinggal selama-lamanya didunia orang sibunian. Hal yng membuat seseorang tidak bisa kembali lagi adalah apabila mereka telah diberi makan oleh orang sibunian atau telah dikawinkan dengan orang sibunian. Informan menceritakan untuk dapat kembali kealam nyata orang yang diculik harus membalikkan baju yang dipakainya.

mite

Mite adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh masyarakat yang mempunyai ceritatokoh mite adalah dewa atau manusia setengah dewa. Terjadi didunia lain yang tidak dikenal manusia sekarang, dan terjadi di masa lalu.

Mite Batu Manda dan Batu Rajo

Batu manda


Mite tentang batu manda dan batu rajo kedua batu ini adalah batu yang berukuran sangat besar yang terletak didaerah 2 bukit yang berbeda tapi dulunya batu ini letaknya berdekatan menurut penduduk Balubuih. Diceritakan bahwa kedua batu raksasa ini bertarung dan saling mengadu kekuatan dan akhirnya batu manda yang memiliki tanduk dari emas kalah dari batu rajo yang hanya memiliki tanduk seperti tanduk kerbau biasa. Akibat kalahnya batu manda yang tanduknya yang terbuat dari emas bertaburan pecah disekitar jorong Balubuih hal ini membuat masyarakat sekitar berasumsi kalu di balubuih terdapat sumber tambang emas yang belum digali.

Mite Batu keramat Bergambar Tanduk Kerbau dan Trisula di Bukik Parasi

Di bukit parasi terdapat batu barajo. Pada batu barajo ini terdapat sejenis lukisan atau ukiran yang ada pada batu tersebut yaitu ukiran berupa gambar lambang trisula dan tanduk kerbau oleh masyarakat batu besar ini dianggap keramat dan tidak boleh diganggu. Tapi jika dikaji lebih mendalam dari sudut pandang Arkeologis batu besar ini sebenarnya adala batu yang digunakan sebagai persembahan kepada roh nenek moyang, untuk mengetahui bahasan mendalam mengenai kajian arkeologis ini dapat dibaca pada bagian kajian Arkeologis.

DONGENG

Dongeng adalah prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh masyarakat yang mempunyai ceritadan dongeng tidak terikat oleh tempat dan waktu.

Dongeng Kerajaan Kuno di Balubuih

Dongeng ini bercerita bahwa dulunya di Balubuih terdapat sebuah kerajaan yang memiliki banyak kesamaan dengan kerajaan pagaruyuang yang ada di Batusangka, tetapi tidak diketahui nama kerajaan ini apa.

Asumsi yang mendasari masyarakat pada dongeng ini adalah karena ditemukannya sebuah kuburan batu yang berisi mayat perempuan yang dianggap putri yang dari kerajaan ini karena pada mayat tersebut masih terdapat rambut, perhiasan, mahkota, dan barang-barang berharga lainnya. Dari keyakinan inilah masyarakat membuat kesimpulan bahwa dulunya di Balubuih ada sebuah kerajaan. Tapi jika dilihat dari sudut pandang Arkeologis masalah ini akan mendapat mendapat penjelasan lain. Yaitu mungkin saja yang ditemukan itu adalah seorang putri dari sebuah kerajaan di masa neolitikum dizaman prasejarah dan tidak ada hubungannya dengan kerajaan Pagaruyuang karena ini terjadi jauh sebelum kerajaan Pagaruyuang ada dan bahkan jauh sebelum adanya masyarakat Minangkabau sendiri (zaman prasejarah) jika ini terjadi pada masa setelah para sejarah[5] maka akan ditemukanlah peninggalan-peninggalan lainnya seperti bangunan kerajaan dan lain-lain tapi tidak, tidak ditemukan apa-apa selain jenazah yang memiliki perhiasan.

FOLKLOR SEBAGIAN LISAN

Permainan dan Kesenian rakyat

Randai

Randai balubuih sangat terkenal dahulunya, bahkn pada saat penjajahan Belanda randai dari balubuih selalu dilibatkan dalam setiap acara pemerintah kolonial dan juga pernah memenangkan berbagai lomba randai. Namun sekarang kerena kurangnya minat generasi muda untuk bermain, randai balubuih yang dulunya sangat tersohor kini mulai redup.

Salah satu cerita randai yang asli dimiliki oleh masyarakat balubuih adalah cerita Saidar janela. Randai ini mengisahkan seseorang pemuda Payakumbuh yang pergi merantau ke Bangkinang. Pemuda ini jatuh hati kepada gadis bangkinang yang bernama Saedar. Dan akhirnya keduanya direstui dan dan menikah. Setelah menikah pemuda Payakumbuh ini berniat untuk pulang ke Payakumbuh bersama istri untuk menengok ibunya dikampung. Tapi malang ditengah perjalanan mereka dicegat oleh penyamun. Pemuda tadi dihajar habis-habisan dan dibuang ke jurang. Tinggallah Saedar seorang diri didalam rimba, dan maratok ...

”kopasa menduruik malam

balara tantang lawik pulo

untuang ambo wallahuallam

antah kasansai dalam rimbo”.

Randai dimainkan oleh pemuda-pemuda. Tidak boleh perempuan. Peran wanita diperan oleh laki-laki. Laki-laki ini berdandan layaknya seorang perempuan. Anggota yang lainnya memakai kondik.

Selain Saedar Jenela, cerita randai di Balubuih ada juga cindua mato dan penambang dunia. Dalam cerita randai cindua mato, tokoh-tokohnya antara lain :

- Bundo kanduang

- Cinduo mato

- Ranik jintan

- Nan Tuanku

- Puti bungsu

Si Jobang

Adalah sebuah kesenian rakyat, biasanya diadakan waktu dan ada perhelatan. Dimainkan oleh satu orang laki-laki, alat yang digunakan adalah kotak prapi yang dipukul-pukulkan kelantai dengan irama yang unik dan menarik. Kemudian diiringi dengan nyanyaian atau dendangan oleh pemain anak prapi ini. Sijobang diadakan dimalam hari, dalam dendangnya disampaikanlah sebuah cerita. Cerita yang biasanya dibawakan dalam sijobang adalah Anggun nan tungga, magek tungga. Biasanya sijobang tidak selesai dalam 1 malam, maka disambung lagi malam berekut. Permainan Sijobang ini sebenarnya berasal dari Pariaman tapi menjadi populer di masyarakat Sungai Talang khususnya jorong Balubuih.

Badikia

Badikia dimainkan oleh dua orang. Badikia mirip dengan selawat dulang. Badikia diamainkan diwaktu khatam al-quran, alat yang digunakan adalah rebana. Bedikia diawali dengan zikir, sertas salawat nabi. Cerita-cerita yang dibawakan adalah dari al quran. Bedanya dengan selawat dulang adalah : kalau badikia ini nyanyiannya adalah nyanyian islami yang diambil dari al-quran, pengajian-pengajian dakwah islam sedangkan selain selawat dulang nyanyiannya juga islami tapi ada dinyanyikan nyanyian bebas, nyanyiannya bisa di minta oleh penonton. Sebenarnya kesenian dan permainan badikia, bisa juga di masukkan kedalam genre folklor kepercayaan rakyat, tapi fungsi badukia disini lebih kami lihat pada sudut pandang kesenian yang bernuansakan Islam. Dalam badikia pemain memainkan dengdang yang diiringi oleh alat musik, isi dendang adalah seputar cerita kepahlawanan Nabi Muhamad SAW, dan kisah-kisah lainnya yang bernafaskan Islam.

Talempong

Permainan telempong


Biasanya dimainkan beberapa orang laki-laki diwaktu upacara-upacara adat. Misalanya dalam upacara perkawinan saat maanta marapulai/ pengiring pengiring pengantin, dalam upacara batagak gala dan lain-lain. Talempong biasanya dikombinasikan dengan berbagai macam jenis gendang dan juga alat musik tiup seperti pupuik, semakin banyak jenis alat musik yang dimainkan bersama talempong maka akan semakin menarik lah nada dan akan diciptakan harmoni yang bagus. Pada acara besar seperti batagak pangulu para pemain talempong bersama tukang dendangnya mempersiapkan diri untuk penampilan lengkap dengan kostum atau pakaian tradisional. Tema dengdang yang dibawakan oleh penyanyi disesuaikan dengan jenis acara dimana talempong itu dimainkan, ada kepercayaan pada kelompok pemain taleompong Balubuih kalau sebelum pementasan permainan talempong pada acara besar, persiapan mereka tidak hanya dari segi fisik dan performa saja tapi mereka juga dituntut untuk menyiapkan mental dengan berbagai ritual khusus karena pada saat pementasan talempong seseorang yang berbuat jahat bisa Mangarajoan atau mengguna-gunai permainan talempong dari jauh, sehingga bunyi yang dihasilkan menjadi kacau. Maksud jahat seseorang yang mensabotase talempong ini adalah dikarenakan ketidaksukaan mereka pada orang atau tuan rumah yang mempunyai hajatan, karena kesuksesan suatu acara sering diukur dari kualitas hiburan yang diberikan oleh tuan rumah. Jadi pemain taempong perlu menyiapkan ritual-ritual dan doa-doa khusus sebelum mereka tampil.

Silek Balubuih

Asalnya diajarkan oleh Syech Abdul Kadim. Sekarang masih diteruskan oleh penerus beliau. Namun peminatnya sudah mulai berkurang. Hal yang menarik dalam silek Balubuih ini adalah langkah ampek sebagai pelajaran awal silek jika dilakukan oleh seseorang maka jejak telapak kakinya bertuliskan kalimat laillahaillallah. Belajar silek syaratnya adalah menyediakan kain putih, kapas, sikek dan pisau.

Dapat disimpulkan bahwa silek ini bukan hanya sekedar wahana untuk menyalurkan seni dan beladiri tapi juga sudah berbaur dengan nilai-nilai agama Islam dan juga kerena yang mempopulerkan silek ini adalah seorang ulama terkenal

Main Suruak-suruak

Ini adalah jenis permainan yang dimainkan oleh anak-anak terdiri dari laki-laki dan perempuan sebanyak 10 orang cukup sederhana untuk dimainkan oleh anak usia sekolah. Satu orang sebagai penjaga (maambek) dan 9 orang bersembunyi. Alat yang digunakan adalah sayak timpuruang (tempurung kelapa). Pada saat sekarang permainan ini masih setia dimainkan oleh anak-anak Balubuih tapi tentu saja intensitasnya sudah agak berkurang kalau dulu berbagai jenis permainan tradisional begitu terkenal karena tidak ada TV kini bahkan anak-anak yang tinggal didesa sperti Balubuih pun sebagian waktunya dihabiskan didepan TV.

Kepercyaan rakyat

Kepercayaan rakyat sering disebut secara awam dengan tahayul, ini dianggap oleh orang barat atau orang berpendidikan tinggi adalah sesuatu yang tidaka logis dan tidak masik akal[6]. Sebenarnya konsep kepercayaan rakyat didalam kajian folklor lebih dari sekedar kepercayan terhadap hal-hal bodoh seperti yang orang-orang pikir. Karena tahayul bukan saja mencakup kepercayaan (belief), tetapi juga kelakuan (behavior), pegalaman –pengalaman, alat, dan biasanya juga ungkapan atau sajak.

Beberapa tahayul atau kepercayaan rakyat yang kami jumpai disini adlaah sepitar keidupan sehari-hari yang menyangky dengan pekerjaan diladang dan tahyul bisa dijumpai diberbagai begian kehidupan masyarakat Balubuih .

Kepercayaan yang menyangkut panen padi. Sehari sebelum panen, sipemilik sawah pergi kesawah untuk mengambil 5 tangkai padi kemudian dibawa pulang. Dalam perjalanan pulang ia tidak boleh menegur orang. Hal ini bermakna ia menghargai apa yang Tuhan berikan kepadanya dan juga berarti sebagai bentuk syukur kepada Tuhan akan hasil panennya, dengan harapan hasil panen pada musim tahun depan akan lebih baik. Dalam hal kesenian pun terdapat tahayul seperti pemain talempong harus melakukan beberapa ritual dan doa sebelum memulai memainkan talempong agar tidak diganggu oleh kekuatan jahat.

Kepercayaan yang menyangkut dengan hal-hal gaib adalah diantaranya tidak boleh berteriak-teriak didalam hutan atau ketika melintas didekat batu besar karena tempat-tempat seperti itu dianggap sebagai tempat tinggal makhluk halus dan juga harus meminta izin setiap melewati tempat-tempat yang dianggap keramat. Pada bayi yang baru lahir tidak boleh dibawa keluar rumah sebelum umur-umur tertentu karena bisa dihisap darahnya oleh palasik[7] jika setelah cukup umurpun bayi harus tetap mengenakan sejenis jimat[8] untuk menangkal palasik seperti bawang pitih bersiung tunggal[9] dan beberapa benda lainnya yang dianggapa akan membuat palasik menjadi takut.

FOLKLOR BUKAN LISAN

Arsitektur

Pola perkampungan masyarakat Balubuih

Sebgian besar masyarakt Balubuih terdiri dari suku Chaniago yang menguasai sebagian besar dari tanah yang ada di jorong Balubuih termasuk perbukitan yang berdekatan dengan batas jorong dengan jorong lain. Menhir dan sebagian besar benda-benda peninggalan prasejarah ada di tanah ulayat suku Chaniago. Pola pemukiman penduduk yang ada di Balubuih adalah berkelompok sesuai dengan suku mereka. Pemukiman suku Chaniago dikenal dengan Chaniago duo lampih, yaitu pola pemukiman berupa sederet rumah gadang secara memanjang.


salah satu rumah gadang yang ada di Balubuih


Fokus arsitektur yang diteliti disini adalah pada rumah gadang[10] beserta seluruh elemen dan kelengkapannya. Pada dasarnya bentuk rumah gadang pada setiap luhak dan daerah rantau di Minangkabau adalah berbeda-beda, setiap nagari disatu luhak punmemiliki karakteristik rumah(gadang) yang berbeda-beda. Misalnya jika kita buat perbandingan dengan daerah Padang yang merupakan daerah rantau[11] rumah-rumah gadang memiliki desain yang lebih sederhana(minimalis) dengan hanya dua gonjong[12] yang tidak terlalu lancip (runcing), ukirannya tidak ada kalaupun ada jumlahnya sedikit dan terdiri dari motif-motif sederhana yang tidak terlalu rumit. Ciri lain dari rumah gadang yang terdapat dipadang adalah kolong yang terdapat dibawah rumah tidak terlalu tinggi dan ini jelas tidak mungkin dapat berfungsi untuk memelihara ternak seperti yang dilakukan oleh masyarakat Balubuih. Perbedaan lain terdapat pada pintu masuk, rumah gadang di Padang pintu masuknya terletak ditengah sama dengan rumah gadang yang terdapat di daerah Batusangka, pintu masuk rumah gadang di Balubuih terdapat disamping rumah dan meliliki semacam korior yang menghubungkan antara beranda atau teras dngan pintu masuk.

Banyaknya gonjong yang ada pada setiap rumah menunjukkan status dari orang yang meiliki rumah tersebut. Rumah urang asa[13] memiliki empat atau lebih gonjong diatapnya, sedangkan rumah urang pandatang[14] tidak memiliki gonjong kerena status nya tidak akan diakui, adat setempat tidak akan membolehkan rumah orang pandatang untuk bergongjong[15]. Banyak gonjong juga mencerminkan status seseorang didalam masyarakat dan kemampuan ekonominya. Rumah gadang yang ada di Balubuih tidak memiliki kamar atau paling banyak hanya memiliki dua kamar yang

terletak di anjungan pada sisi rumah. Berbeda dengan rumah gadang yang terdapat di Batusanga yang bisa memiliki tujuh sampai sembilan kamar. Kamar ini diperuntukkan bagi anak perempuan karena anak laki-laki diwajibkan untuk tidur di surau, dapat disimpulkan adat Matrilinial masyarakat Balubuih masih sangat kuat. Terbukti dengan pewarisan rumah gadang akan diwariskan kepada

anak perempuan, dan terlihat juga dari pola menetap yang dilakukan oleh pasangan yang baru menikah yang tinggal dirumah orang tua dari istri atau dikenal dengan pola menetap uxorilokal.

Sedangkan dapur terletak dibagian belakang rumah, karena kebutuhan ruang yang semakin bertambah pada masa sekarang masyarakat Balubuih yang masih tinggal dirumah gadang banyak yang membuat ruangan tambahan dibelakang rumah gadang mereka, ruangan ini difungfsikan sebagai dapur dan WC. Tapi sebagian besar masyarakat masih menggunakan luak atau tempat pemandian umum yang dimiliki oleh masing-masing suku kerena aslinya rumah gadang tidak memiliki kamar mandi, WC atau kakus didalamnya. Kegiatan buang air dilakukan di tabek yang terdapat berdekatan dengan luak.

Rangkiang


Rangkiang adalah salah satu elemen penting yang harus dimiliki oleh setiap rumah gadang. Walau begitu sebagian besar rangkiang yang ada di Balubuih sudah tidak dipakai lagi sebagaimana fungsinya yaitu sebagai tempat menyimpan padi. Karena mata pencarian bertani tidak lagi menjadi mata pencarian yang utama, sehingga prouksi pada yang akan disimpan pada rangkiang juga sedikit, hal ini menyebabkan sekarang masyarakat cenderung menyimpan beras di dalam goni dan ditaruh didalam rumah. Seperti yang diceritakan oleh informan pada zaman dahulu padi yang dihasilkan oleh sebuah keluarga sangat banyak sehingga rangkiang sangat berfungsi sekali ketika itu.

Arsitektur rangkiang adalah seperti ruangan kecil yang diberi dua buah gonjong pada atapnya (rangkiang tertentu tidak memiliki gonjong) dan kadang-kadang diberi hiasan tanduk kerbau, apabila penghuni rumah gadang merayakan sesuatu dan menyembelih kerbau, rangkiang dibangun persis didepan rumah gadang. Apa bila ada lebih dari satu rangkiang pada suatu rumah maka rangkiang lainnya harus dibangun berdekatan dengan rangkiang induk. Padi dimasukkan melalui lubang yang terdapat dibagian atas. Pembangunan rangkiang disesuaikan dengan kebutuhan keluarga pemiliknya, ada rangkaing yang digunakan hanya untuk kebutuhan sehari-hari, untuk persediaan, untuk padi yang akan dijadikan bibit atau juga ada rangkiang yang digunakan untuk menampung padi yang akan digunakan untuk acara-acara tertentu. Arsitektur lainnya adalah surau dan masjid surau-surau atau masjid baru yang dubuat sudah berbagaya modern dan tidak terlalu mempertimbangkan arsitektur tradisional tapi masih ada bagian-bagian yang mempunyai unsur-unsur tradisional, seperti pada gerbang (dengan ukiran tradisional)dan kiga tempat meletakkan tabuik atau bedug yang terdapat dihalaman surau. Ada juga surau yang lama yang memiliki arsitektur tradisional seperti atap tumpeng yang berbentik limas.

Studi Arkeologis di Jorong Balubuih

Salah sati peninggalan megalitikum yang terdapat di Balubuih


Secara umum temuan peninggalan prasejarah tersebar diseluruh penjuru jorong Balubuih, tapi sebagian besar terdapat pada tahah suku Chaniago sehingga suku inilah yang kemudian mengelola peninggalan prasejarah ini setelah adanya kesadaran akan pentingnya artefak yang tersebar didaerah mereka. Menurut pengakuan warga batu-batu besar oeninggalan prasejarah yang ada di Balubuih sudah ada sejak nenek moyang mereka manaruko membuka lahan baru, sejak saat itu batu-batu itu menjadi bagian dari tradisi adat mereka dalam upacara pengangkatan pangulu, yaitu tempat mengikakatkan hewan kurban sebagai syarat pengangkatan pangulu. Selain tempat meletakkan hewan yang akan dikurbankan pada acara pengangkatan pagulu batu peninggalan prasejarah tidak berarti apa-apa bagi mereka bahkan ada beberapa batu yang dijual kepada orang asing pada zaman penjajahan Belanda, ada yang dipergunakan sebagi bahan bangunan untuk membuat rumah. Tapi setelah ekskavasi[16] dilakukan barulah masyarakat sadar bahwa batu-batu yang terdapat ditanah mereka adalah satu cagar budaya yang bernilai tinggi dan harus mereka lindungi.

Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional melakukan ekskavasi pada situs Balubuih pada tahun 1986 selama 15 hari. Sebenarnya ekskavesi yang dilakukan pada situs itu belum benar benar tuntas seharusnya ada penelitian kedua yang dilakukan guna memfollow up penelitian yang pertama dan akan didapat hasil yang valid. Kami mengidentifikasi dari penelitian selama dilapangan dan dikombinasikan dengan studi literatur bahwa peninggalan-peninggalan prasejarah yang terdapat di Balubuih adalah berasal dari kebudayaan Megalitikum[17] pada zaman Neolitikum (zaman batu muda). Kata megalitikum berasal dari kata Mega = besar; Lithos = batu, berarti kebudayaan batu besar, bentuk-bentuk peninggalan dari kebudayaan ini adalah berupa batu-batu besar seperti ; punden berundak, sarkofagus, dolmen, batu nisan besar dan lain-lain. Sebagian besar peninggalan di Balubuih adalah berupa batu nisan atau kubur batu yang mempunyai ujung runcing dan dari yang berukuran besar sampai yang terkecil selalu menghadap kepada satu arah yaitu kearah gunung Sago, diperkirakan karena kepercayaan animisme mereka mengatakan bahwa roh orang yang yang sudah meninggal akan bersemayam di gunung Sago jadi untuk mengenang orang yang sudah meninggal dunia maka nisannya dibuat menghadap kearah gunung Sago, ada juga asumsi lain yang mengatakan bahwa kata Sago berasal dari kata Sarugo yaitu sorga atau surga. Batu nisan ini memiliki ukiran yang minim sekali pada penampilan fisiknya (hanya memiliki sedikit hiasan), pada ekskavasi yang dilakukan pada dua nisan ini ditemukan jenazah yanmg masih lengkap dengan berbagai artefak yang menyertainya ketika dikubur yaitu berupa perhiasan, manik-manik, tembikar, cawan dari tanah liat, senjata dan berbagai artefak lainnya. Keseluruhan artefak yang ditemukan disekitar jenazah dalam ilmu arkeologi dikenal sebagai bekal kubur bagi si mayat dalam menghadapi dunia akhirat. Menurut informasi yang didapat dari penduduk setempat pada saat situs digali konsisi mayat mash memiliki rambut, ini berarti kondisi tanah tempat kuburan batu itu bagus untuk dalam mengawetkan mayat, Tapi bagi mayarakat setempat hal ini dikarenakan mayat tersebut adalah orang sakti dan keramat.

Peninggalan budaya megalitikum lainnya terlihat pada batu besar yang mempunyai dua buah simbol, penduduk setempat mengidentifikasikannya sebagai simbol trisula dan simbol tanduk kerbau. Diperkirakan batu ini adalah tempat mereka melakukan pemujaan kepada roh atau tempat meletakkan persembahan baik berupa tanaman atau hewan yang dikorbankan. Menurut analisa kami simbol yang diidentifikasikan penduduk sebagai simbol trisula bukanlah simbol trisula, karena trisula adalah sebuah pencitraan senjata yang berbentuk tombak yang bercabang tiga yang memiliki mata pisau pada setiap ujungnya sedangkan simbol yang ditemukan di batu tersebut memang berbentuk dasar sebagai trishula tapi memiliki bentuk yang lebih kompleks. Trisula atau trishula (sangsekerta त्रिशूल) dalam kepercayaan Hindu adalah ‘trident’ senjata dari salah satu dari tiga dewa tertinggi agama Hindu yaitu Shiva atau Syiwa. Tiga ujung tombak ini adalah representaif dari tiga shakti atau kekuatan yaitu : pemikiran, indakan, dan harapan. Tapi ketiga ujung tombak trisula juga memiliki berbagai makna lain diantaranya adalah proses kehidupan yaitu terdiri dari penciptaan,

Gambar trisula pada jejak kaki sang Budha


pemeliharaan, dan penghancuran atau bisa juga bermakna masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Sedangkan pada agama Budha trisula berarti triratna yaitu tiga harta kemuliaan yang bersumber dari sang Budha simbol trisula dalam agama Budha paling sering muncul pada bendera keagamaan, stupa, dan yang sangat sering muncul adalah pada jejak kaki sang Budha. Simbol yang terlihat pada batu tersebut lebih mirip kepada simbol lambang orang-orang Mesianic yaitu kelompok relijius yang mengadopsi nilai-nilai kristen.

Simbol Mesianic


Sedangkan simbol yang di interpretasikan oleh penduduk sebagai tanduk kerbau memang memiliki bentuk dasar sebagai tanduk kerbau yang dikenal sebagai lambang kebudayaan minang, tapi batu ini sudah ada sejak zaman Neolitikum, jauh sebelum kebudayaan minang berkembang. Bentuk tanduk kerbau yang terdapat pada batu itu memiliki bentuk imbol ang lebih rumit dan kompleks dari tanduk kerbau, karena memiliki cabang-cabang sebanyak tiga tingkat diatas tanduk dan memiliki dua lingkaran kecil diantara cabang-cabang tersebut, pada dasar simbol tanduk kerbau tersebut terdapat lingkaran yang digaris secara vertika dan horizontaal, dan semua elemen dari simbol tanduk kerbau ini berbentuk simetris sempurna. Dalam ilmu Antropologi sendiri sebenarnya ada yang dikenal dengan Antropologi simbol (simbolic Anthropology), yaitu sebuah pendekatan Antropologi budaya untuk melihat kebudayaan sebagai suatu sistem simbolik yang merupakan interpretasi utama manusia pada dunia. Ahli-ahli Antropologi simbol diataranya adalah Cliffort Geertz, David Schneider, Victor Turner, dan Mary Douglas.

Penutup

Secara umum penelitian folklor di indoensia belum begitu berkembang dan digarap dengan serius oleh pemerintah dan institusi terkait. Dari hasil kuliah lapangan folklor yang kami lakukan di daerah yang sangat kecil ruang lingkupnya sekalipun (Jorong Balubuih) begitu banyak keanekaragaman obejek folklor yang menarik untuk dikaji lebih mendalam. Sepintas minat mahasiswa Antropologi terhadap kajian folklor tidak begitu besar mungkin salah satu penyebabnya adalah kurangnya ketersediaan literatur folklor, tetapi pada pengamatan kami setiap kelompok peneliti bersungguh-sungguh dalam mengerjakan penelitian mereka. Minat ini harus dikembangkan agar pada saat menulis skripsi tema-tama yang biasa diambil bisa beralih pada kajian mengenai folklor.

lampiran

Daftar Informan

Nama : Yaman

Umur : 64 tahun

Jenis kelamin : laki-laki

Alamat : Jorong Balubuih

Suku : -

Nama : Afrizal

Umur : 51 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

Alamat : Jorong Balubuih

Suku : -

Nama : Fatimah

Umur : 61 tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Alamat : Jorong Balubuih

Suku : Tanjung

Nama : Ismet

Umur : 33 tahun

Jenis kelamin: laki-laki

Alamat : Jorong Balubuih

Nama : Cayani

Umur : 77 tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Nama : Asma

Umur : 72 tahun

Jenis kelamin : perempuan

Nama : Naran Dt. Rajoi

Umur : 35 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

Nama : Rainar

Umur : 32 tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Daftar Pustaka

A. Manners, Robert; Kaplan, David, Teori Budaya, Jakarta, Pustaka Pelajar, 2002

BPS Kab. Lima puluh kota, Penduduk Lima Puluh Kota Menurut Nagari, 2001

BPS Kab. Lima Puluh Kota, Kecamatan Guguk Dalam Angka, 1994

BPS Kab. Lima Puluh Kota, Lima Puluh Kota Dalam Angka, 2001

Bungin, Burhan ( ed. ), Metodologi Penelitian Kualitatif, Jakarta, Rajawali Pers, 2006.

Danandjaja, James, Folklor Indonesia, Ilmu gosip, dongeng, dan lain-lain, Jakarta, Grafiti, 2002

Dharmojo, Sistem Simol Dalam Manuba Waropen Papua, Jakarta, pusat bahasa Depertemen Pendidikan Nasional, 2005

ITB Press, Bandung, Arsitektur Minangkabau Laporan kuliah lapangan Departemen arsitektur Institut Teknologi Bandung, 1979

http://www.whats-your-sign.com/Celtic-animals.html

American Buffalo

http://www.indians.org/articles/indian-symbols.html

Indian Symbols

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0401/23/muda/814571.htm

Koleksi Manik Untuk Mengurai Masa Lampau

http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2007/05/11/brk,20070511-99845,id.html

Melacak Moyang di Seberang Sungai

http://www.modulbeljar.com/

Pembabakan Zaman Prasejarah berdasarkan Arkeologi

http://www.wikipedia.org/

Symbolic anthropology

http://www.wikipedia.org/

Three Jewels

http://altreligion.about.com/library/texts/bl_2ancientpagan25.htm

The Trisula Symbol, William Simpson

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0204/14/0109.htm




[1] Commissie voor de Volkslectuur

* Sebagian penduduk tidak mengkategorikan Bukik Apik sebagai jorong , tapi pecahan dari jorong lain

[2] Rawa dalam bahasa daerah setempat adalah rawang

[3] Semacam penutup kepala tradisional yang biasanya dipakai oleh wanita, berupa kain selendang yang dililitkan di kepala

[4] Dalam dunia kedokteran bagian tubuh ini dinamakan dengan philtrum

[5] Akhir masa prasejarah ditandai dengan sudah mulainya sebuah masyarakat mengenal tulisan

[6] Walaupun begitu dinegara-negara Eropa sendiri yang idientik dengan negara maju, berbagai kepercayaan rakyat masih tetap ada

[7] Semacam makhluk gaib yang bisa menghisap darah bayi dan jga ibu-ibu yang baru melahirkan

[8] Disebut dengan panangka (penangkal)

[9] Dasun tungga

[10] Masyaakt Balubuih menyebutnya dengan rumah godang

[11] Sebagian informan berpendapat perbedaan ini karena adat minang di Padang tidak terlalu kuat dan bahkan salah seorang informan kami menganggap daerah rantau bukanlah bagian dari minang

[12] Bentuk atap yng mnyerupai tanduk kerbau

[13] Penduduk asli, yng nenek moyangnya manaruko atau membuka lahan pertama kali di daerah itu

[14] Penduduk pendatang

[15] Pada kasus yang sangat jarang terjadi orang pendatang telah dapat diterima dan diizinkan untuk membuat rumah bergonjong, tetapi tidak lebih dari dua gonjong

[16] Penggalaian dan penelitian arkeologis

[17] Ciri khas dari peninggalan kebudayaan megalitikum adalahberbentuk batu besar



Tidak ada komentar:

My Visitors

mereka yang berkunjung


View My Stats